Pasar Nangka Bungur Kemayoran Sepi, Kios Banyak Tutup

Jakarta Pusat — Suasana Pasar Nangka Bungur di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, terlihat jauh dari kesan ramai seperti bayangan banyak orang tentang pasar

Oct 08, 2026 - 02:27
0 0
Pasar Nangka Bungur Kemayoran Sepi, Kios Banyak Tutup

Jakarta Pusat — Suasana Pasar Nangka Bungur di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, terlihat jauh dari kesan ramai seperti bayangan banyak orang tentang pasar tradisional Ibu Kota. Saat dikunjungi, lorong-lorong pasar tampak lengang, bahkan sejumlah pengunjung menyebut kondisinya bak kuburan karena hampir seluruh kios gelap dan tidak beroperasi. Pemandangan kontras ini langsung memancing perbandingan dengan kondisi pasar pada masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, ketika aktivitas jual beli berjalan padat dari pagi hingga sore.

Kondisi Kios dan Aktivitas Pedagang

Berdasarkan pengamatan di lokasi, terlihat banyak sekali kios yang menutup pintunya tanpa aktivitas berarti. Sebagian kios bahkan sudah lama tidak dipakai, dengan barang dagangan yang tampak tersusun berdebu atau bahkan sudah tidak ada sama sekali. Lorong-lorong yang seharusnya menjadi urat nadi perdagangan warga terlihat sunyi, hanya sesekali dilewati pejalan kaki yang berjalan cepat tanpa berhenti berbelanja.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang menyebabkan Pasar Nangka Bungur kehilangan denyutnya? Sejumlah faktor diduga berperan, mulai dari pergeseran kebiasaan belanja masyarakat ke ritel modern dan marketplace, sampai dengan persoalan kenyamanan fasilitas pasar yang selama ini kerap dikeluhkan pedagang maupun pembeli.

"Dulu pasar ini ramai, pagi-pagi sudah penuh pembeli. Sekarang banyak yang tutup, paling tinggal beberapa kios saja yang masih jalan," ujar seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Nostalgia Masa Kejayaan

Perbandingan dengan era Ahok muncul karena pada periode itu, revitalisasi dan penataan sejumlah pasar tradisional di Jakarta sempat menjadi sorotan. Pasar-pasar yang ditata ulang dinilai mampu menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih tertib, bersih, dan terukur, sehingga pembeli merasa nyaman datang secara rutin. Dalam ingatan warga, aktivitas pasar pada masa itu berjalan dari subuh hingga sore dengan lalu lalang pedagang dan pembeli yang tidak pernah sepi.

  • Banyak kios tutup dan tidak beroperasi secara normal.
  • Lorong pasar sepi dari pengunjung maupun aktivitas jual beli.
  • Perbandingan dengan era Ahok yang dianggap lebih ramai dan tertib.
  • Pergeseran perilaku belanja ke kanal digital dan ritel modern.

Tantangan Pasar Tradisional di Era Digital

Pasar Nangka Bungur bukan satu-satunya pasar tradisional yang menghadapi tantangan serupa. Di berbagai daerah, pedagang pasar mulai berhadapan dengan kompetisi dari toko online dan aplikasi belanja yang menawarkan kemudahan, harga transparan, serta layanan antar. Bagi pedagang kecil dengan modal terbatas, adaptasi digital bukan perkara mudah, sehingga sebagian memilih bertahan dengan cara lama sambil melihat pelanggan terus berkurang.

Di sisi lain, kualitas fasilitas pasar menjadi variabel penting. Pedagang kerap mengeluhkan soal ketersediaan air, kebersihan, pencahayaan, serta keamanan yang berdampak langsung pada minat pembeli. Jika aspek-aspek ini tidak tertangani, kepercayaan publik terhadap pasar tradisional akan terus menurun dan pada akhirnya mempercepat sepi kios.

Apakah Masih Ada Harapan?

Sejumlah pihak menilai pasar tradisional masih memiliki peluang bertahan asal mau berbenah. Penataan ulang ruang, pemberdayaan pedagang lewat pelatihan pemasaran digital, serta penataan ulang daya tarik produk lokal menjadi langkah yang bisa ditempuh. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, kekhawatiran bahwa Pasar Nangka Bungur akan terus sepi bisa menjadi kenyataan yang sulit dibendung.

Yang jelas, pemandangan kios-kios tutup di Kemayoran hari ini menjadi pengingat keras bahwa pasar tradisional Jakarta sedang berada di titik krusial. Pertanyaannya kini bukan sekadar mengenang masa ramai, melainkan siapa yang berani mengambil langkah nyata agar pasar ini hidup kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User