Pusat Perbelanjaan Jakarta Ramai, Transaksi Belanja Justru Tidak Tumbuh
Jakarta — Pusat perbelanjaan di Jakarta kembali dipadati pengunjung sepanjang kuartal III-2026. Alih-alih berujung pada belanja, keramaian itu kerap berhen
Jakarta — Pusat perbelanjaan di Jakarta kembali dipadati pengunjung sepanjang kuartal III-2026. Alih-alih berujung pada belanja, keramaian itu kerap berhenti sebagai kunjungan semata. Arus pengunjung naik, tetapi konversi ke transaksi belanja tidak sebanding, sehingga pelaku ritel mulai mencermati kembali pola yang sempat populer beberapa tahun lalu.
Fenomena yang muncul di mal-mal besar ibu kota itu mengingatkan publik pada pola Rojali dan Rohana. Keduanya adalah singkatan yang dikenal pelaku ritel: rombongan jalan-jalan dan rombongan anak. Ketika bus pariwisata berjejer di pelataran mal, pengunjung datang berbondong-bondong, namun keranjang belanja tidak ikut terisi.
Apa Itu Fenomena Rojali dan Rohana?
Pelaku industri ritel menyebut fenomena ini muncul kembali ditandai dengan beberapa perubahan perilaku pengunjung di pusat perbelanjaan:
- Rombongan besar masuk tanpa agenda belanja, terutama pada hari kerja dan akhir pekan pagi.
- Dominasi kunjungan keluarga dan komunitas yang lebih banyak berfoto, makan, dan menonton di bioskop.
- Waktu tinggal panjang tetapi nilai belanja per kunjungan tergolong rendah.
- Kenaikan trafik food and beverage yang tidak diikuti kenaikan penjualan tenant fesyen dan elektronik.
Seorang pengelola mal di kawasan Jakarta Selatan menyebut kondisi itu sebagai paradoks kunjungan. Ramai terlihat di depan mata, tetapi tidak semua tenan merasakan dampaknya.
"Pengunjung kami naik, tapi yang benar-benar berbelanja tidak sebanyak yang terlihat di lobi. Banyak yang datang karena lokasi mudah dijangkau, bukan karena ada daftar belanja yang harus dipenuhi."
Kunjungan Naik, Rata-rata Belanja Tidak Bergerak
Data internal sejumlah pengelola mal menunjukkan trafik pejalan kaki naik dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, sementara rata-rata nilai transaksi per kunjungan relatif datar. Situasi ini membuat pengecer menahan rencana ekspansi gerai dan lebih dulu mengoptimalkan stok serta promosi berbasis data.
Pola serupa pernah terjadi ketika mobilitas masyarakat kembali normal pasca pembatasan perjalanan. Mal menjadi ruang publik baru: tempat beraktivitas tanpa keharusan berbelanja. Bagi keluarga di luar Jakarta, mal bahkan menjadi tujuan wisata singkat, lengkap dengan kegiatan kuliner dan hiburan anak.
Strategi Penyelenggara Mal
Untuk mengubah kunjungan menjadi transaksi, sejumlah mal mengubah pendekatan pemasaran mereka:
- Paket belanja berjenjang yang mengaitkan parkir atau tiket masuk dengan minimum pembelian tenant tertentu.
- Program loyalitas lintas tenant, sehingga satu kunjungan mendorong belanja di beberapa gerai.
- Eksperimen acara komunitas pada hari kerja untuk menarik segmen pengunjung dengan daya beli lebih tinggi.
- Kurasi tenant agar tenant ritel tidak lagi bersaing ketat dengan atraksi hiburan gratis.
Di sisi lain, pelaku ritel menuntut struktur sewa yang lebih adaptif, termasuk bagi hasil berbasis penjualan alih-alih tarif tetap. Permintaan itu lahir dari kesadaran bahwa traffic mall bukan jaminan omzet.
"Kalau ramainya hanya keramaian tanpa belanja, sewa tetap akan terasa berat. Yang dibutuhkan sekarang adalah skema yang mencerminkan nilai riil kunjungan."
Menjelang Kuartal Empat
Menantang akhir tahun, pengelola mal optimistis musim belanja dan hari libur panjang akan mengangkat transaksi. Namun, pengamat ritel menekankan bahwa perbaikan kualitas kunjungan lebih penting daripada sekadar mengejar angka trafik. Kunjungan yang terencana dan bernilai ekonomi akan bertahan lebih lama dibanding ramai sesaat.
Fenomena Rojali-Rohana, bagi banyak pelaku usaha, bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi pengingat bahwa pengalaman berbelanja harus dirancang, bukan ditunggu. Tanpa strategi yang tepat, kemacetan antrean parkir tidak akan otomatis berubah menjadi kenaikan penjualan.
Comments (0)