OnePlus — Dari Pujaan Android ke Jurang Ketidakrelevanan

JAKARTA — OnePlus, merek ponsel yang dulu digadang-gadang sebagai "flagship killer" dan menjadi idola pengguna Android garis keras, kini justru berdiri di

Jul 10, 2026 - 23:46
0 1
OnePlus — Dari Pujaan Android ke Jurang Ketidakrelevanan

JAKARTA — OnePlus, merek ponsel yang dulu digadang-gadang sebagai "flagship killer" dan menjadi idola pengguna Android garis keras, kini justru berdiri di ujung tanduk. Dari luar, perangkatnya masih tampak memikat, tetapi di balik layar, kenyataan pahit mulai terungkap: volume penjualan menyusut, identitas mereka tercampur aduk, dan banyak penggemar setia yang mulai berpaling. Lantas, apa yang sebenarnya salah dengan OnePlus?

Era Keemasan Sang Pembunuh Flagship

Pada awal kemunculannya sekitar 2014, OnePlus berhasil menciptakan gebrakan dengan model pemasaran undangan serta harga yang agresif. OnePlus One dan OnePlus 3 membuktikan bahwa spesifikasi tinggi tidak harus sebanding dengan harga selangit. Saat itu, mereka dengan lantang menyebut diri sebagai "flagship killer", secara langsung menantang dominasi Samsung dan Apple di segmen premium.

Strategi itu sukses besar. Menurut data pelacakan pasar dari IDC, OnePlus sempat menguasai sekitar 2% pangsa pasar ponsel premium global pada 2019, dengan pertumbuhan yang stabil di India, Eropa, dan Amerika Serikat. Komunitas pengguna tumbuh organik, dipupuk oleh OxygenOS yang bersih, cepat, dan tanpa bloatware.

Integrasi Oppo dan Kehilangan Diferensiasi

Namun, titik balik mulai terlihat ketika OnePlus semakin erat berintegrasi dengan induk perusahaannya, Oppo. Secara bisnis, langkah berbagi komponen riset dan produksi memang menekan biaya operasional. Namun, bagi konsumen, hasilnya adalah kaburnya batas antara OnePlus dan ponsel Oppo. OxygenOS yang dulu jadi nilai jual utama kini hanya merupakan kulit tipis dari ColorOS milik Oppo.

"Menggabungkan sumber daya dengan Oppo mungkin efisien dari sisi biaya, tetapi telah mengikis identitas unik OnePlus yang dibangun selama bertahun-tahun. Ketika sebuah merek kehilangan karakter khasnya, loyalitas konsumen dengan mudah beralih," ujar analis industri perangkat seluler, Tasha Kusuma, mengomentari tren penurunan ini.

Hal ini diperparah dengan inkonsistensi kebijakan pembaruan perangkat lunak. Beberapa model menerima update lebih lambat dibandingkan kompetitor sekelas, sementara model lain mendapatkan antarmuka yang tidak dijanjikan saat peluncuran. Ketidakpastian ini membuat segmen pengguna antusias—yang semula adalah basis terkuat mereka—mulai gerah.

Tantangan Pasar dan Strategi Portofolio yang Rancu

Dari sisi persaingan, tekanan tidak hanya datang dari Samsung dan Apple, melainkan juga dari Xiaomi, realme, dan vivo, yang kini berani menawarkan spesifikasi hampir setara dengan harga lebih rendah. OnePlus sempat mencoba melebarkan sayap ke segmen menengah melalui lini Nord. Meskipun awalnya disambut baik, terlalu banyak varian Nord dalam waktu singkat justru membingungkan konsumen. Beberapa model Nord hampir identik dengan ponsel realme atau Oppo di harga serupa, sehingga kanibalisme penjualan tak terelakkan.

Statistik terbaru dari Counterpoint Research mengungkapkan bahwa pada kuartal pertama 2026, pangsa pasar OnePlus di segmen global turun ke level 0,8%, nyaris tersingkir dari daftar 10 besar produsen ponsel dunia. Di pasar kunci seperti India yang dulu menjadi lumbung pendapatan, mereka tergerus oleh agresivitas merek lain dalam memberikan diskon dan promo paket bundling.

Apakah Masa Depan Masih Ada?

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah OnePlus mampu berbalik arah. Merek ini masih memiliki basis penggemar kecil yang loyal dan desain perangkat yang menarik secara estetika. Namun, tanpa diferensiasi yang jelas dan strategi perangkat lunak yang meyakinkan, kejatuhannya bisa terus berlanjut. Beberapa pengamat menilai perlu ada langkah berani—semacam kembali ke akar filosofi "flagship killer" dengan perangkat yang benar-benar independen secara perangkat lunak dan positioning harga yang tidak tanggung.

Sementara itu, konsumen rasional akan terus membandingkan: jika dengan uang yang sama bisa mendapatkan ponsel Oppo atau Xiaomi dengan spesifikasi serupa dan dukungan lebih pasti, mengapa harus memilih OnePlus? Pertanyaan sederhana ini mungkin adalah lonceng peringatan paling keras bagi sang mantan primadona Android.

[TAGS]: OnePlus, industri smartphone, Oppo, penurunan pangsa pasar, OxygenOS [SOCIAL_TWEET]: Dulu dijuluki "flagship killer", kini OnePlus tersungkur di <1% pangsa pasar global. Apa yang salah? Integrasi dengan Oppo, kehilangan identitas OxygenOS, dan strategi produk yang kacau jadi penyebab. Mungkinkah bangkit? #OnePlus #TeknologiBisnis #Android [SOCIAL_FB]: Dari pujaan pengguna Android hingga nyaris tak terdengar lagi, perjalanan OnePlus adalah pelajaran bisnis yang mahal. Apa yang sebenarnya terjadi di balik keruntuhan merek yang pernah begitu digandrungi ini? Baca analisis lengkapnya di sini, sebelum Anda memutuskan membeli ponsel berikutnya. [SOCIAL_TG]: 📉 OnePlus sekarang cuma nguasai 0,8% pasar global. Dulu si "flagship killer" yang ditakuti Samsung cs, sekarang malah kayak bayang-bayang Oppo. Kita bongkar penyebab kehancurannya. [SOCIAL_THREADS]: Jujur, sedih lihat OnePlus meredup gini. Dulu jadi definisi keren di dunia Android, sekarang malah kayak clone Oppo tanpa jiwa. Menurut kalian, langkah apa yang harus diambil biar bisa relevan lagi?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User