New Jersey — Spanyol Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Belgia 2-1
MetLife Stadium bergemuruh. Ribuan pendukung La Furia Roja menyanyikan lagu kemenangan saat peluit panjang berbunyi. Di tengah lapangan, para pemain Spanyo
MetLife Stadium bergemuruh. Ribuan pendukung La Furia Roja menyanyikan lagu kemenangan saat peluit panjang berbunyi. Di tengah lapangan, para pemain Spanyol berpelukan, air mata haru mengalir dari kapten Pedri dan penyerang muda Lamine Yamal. Malam itu, Spanyol menuliskan sejarah baru: lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Belgia 2-1 dalam laga yang berlangsung dramatis, penuh ketegangan, dan diwarnai momen-momen yang akan dikenang sepanjang masa.
Babak Pertama: Gol Cepat dan Dominasi Tiki-Taka Modern
Belgia mengawali laga dengan formasi bertahan 4-3-3 yang rapat, mencoba meredam aliran bola khas Spanyol. Namun baru menit ke-8, umpan terobosan Pedri dari lini tengah sukses merobek pertahanan Belgia. Lamine Yamal, yang menjadi fenomena sejak Euro 2024, melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau kiper. Gol cepat ini mengubah ritme pertandingan.
Spanyol menguasai bola hingga 68 persen di babak pertama, memainkan tiki-taka versi modern: umpan-umpan pendek cepat yang sesekali diselingi tusukan vertikal mematikan. Gavi dan Nico Williams bergantian menusuk dari sayap, membuat bek sayap Belgia kewalahan. Namun, penyelesaian akhir masih menjadi masalah. Dua peluang emas dari Alvaro Morata gagal berbuah gol karena penyelamatan gemilang Thibaut Courtois di bawah mistar.
Suasana stadion begitu hidup. Suporter Spanyol membentangkan spanduk raksasa bertuliskan "Creemos" — kami percaya. Sementara itu, pendukung Belgia yang mengenakan merah-hitam terus meneriakkan dukungan untuk tim asuhan Roberto Martinez, yang justru tampil pasif dan hanya mengandalkan serangan balik Kevin De Bruyne.
Bangkitnya Belgia dan Gol Penyeimbang Penuh Kontroversi
Babak kedua dimulai dengan kejutan. Belgia keluar dari tekanan, meningkatkan intensitas pressing, dan mulai menemukan celah di pertahanan Spanyol. Menit ke-61, umpan silang Yannick Carrasco mengenai lengan bek Pau Cubarsí di kotak penalti. Wasit asal Brasil menunjuk titik putih setelah mengecek VAR. Seluruh stadion menahan napas.
Romelu Lukaku maju sebagai algojo. Dengan tenang, ia mengecoh Unai Simón dan menceploskan bola ke pojok kiri bawah. Skor menjadi 1-1. Gol ini membangkitkan semangat Belgia. Sepuluh menit kemudian, De Bruyne nyaris membalikkan keadaan lewat tendangan bebas yang membentur tiang gawang.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, merespons dengan memasukkan Fermín López dan Ansu Fati untuk menambah daya gedor. Perubahan ini membawa energi baru. Spanyol kembali mengambil alih kendali permainan dengan penguasaan bola lebih cepat dan pergerakan tanpa bola yang sulit diantisipasi.
Pahlawan Lamine Yamal, Gol Kemenangan di Menit Akhir
Klimaks terjadi saat laga tampak akan berakhir imbang. Menit ke-84, kombinasi satu-dua antara Pedri dan Gavi di depan kotak penalti melahirkan ruang bagi Lamine Yamal. Wonderkid Barcelona itu menusuk ke dalam, melewati dua bek, dan melepaskan tendangan kaki kiri mendatar yang bersarang di pojok kanan gawang. Gol keduanya malam itu menjadi penentu kemenangan.
"Saya hanya melihat ada celah kecil, dan saya percaya dengan naluri saya. Ini adalah kemenangan seluruh tim, bukan hanya saya. Kami ingin terus bermimpi," ujar Lamine Yamal dengan mata masih berkaca-kaca setelah pertandingan.
Gol tersebut memastikan Spanyol unggul 2-1. Belgia mencoba putus asa di sisa waktu, namun pertahanan Spanyol yang dikawal Robin Le Normand dan Pau Cubarsí tampil tanpa cela. Peluit panjang menandakan satu lagi keajaiban lahir di panggung dunia.
Fakta kunci: Lamine Yamal menjadi pemain termuda yang mencetak dua gol di babak perempat final Piala Dunia pada usia 18 tahun 11 bulan, memecahkan rekor Pelé yang bertahan puluhan tahun.
Reaksi Pelatih: Kebanggaan dan Fokus ke Semifinal
Luis de la Fuente memuji mentalitas anak asuhnya. Dalam konferensi pers usai laga, ia mengatakan bahwa kunci kemenangan adalah ketenangan saat Belgia menyamakan kedudukan.
"Kami sempat tertekan, tetapi para pemain menunjukkan kedewasaan luar biasa. Mereka tidak panik, tetap berpegang pada rencana, dan pada akhirnya kualitas individu menentukan. Sekarang kami fokus ke semifinal," kata De la Fuente.
Sementara itu, pelatih Belgia Roberto Martinez mengakui keunggulan Spanyol. "Mereka tim yang sangat lengkap. Kami mencoba segalanya, tapi dua momen individu dari Yamal membuat perbedaan," ujarnya dengan raut kecewa.
Antusiasme Spanyol Menuju Semifinal
Kemenangan ini disambut bak festival di kota-kota besar Spanyol. Di Madrid, ribuan pendukung turun ke Plaza de Cibeles, bernyanyi dan mengibarkan bendera. Media lokal memuji penampilan generasi emas baru Spanyol yang memadukan talenta muda seperti Yamal dan Cubarsí dengan pengalaman Pedri dan Morata. Spanyol kini menunggu lawan di semifinal, yaitu pemenang antara Brasil dan Maroko yang akan bertanding malam nanti.
Dengan permainan kolektif yang apik dan mental baja, La Roja kian percaya diri mengincar trofi kedua dalam sejarah mereka. Seperti yang dikumandangkan para pendukung malam itu: "Sí, se puede!" — Ya, kita bisa!
Comments (0)