Sutedjo Pimpin Kulon Progo 2017-2022 dengan Segudang Prestasi Pembangunan
<h2>Sutedjo Pimpin Kulon Progo 2017-2022 dengan Segudang Prestasi Pembangunan</h2> <p><strong>Kulon Progo</strong> – Sutedjo menjabat sebagai Bupati Kulon Progo periode 2017 hingga 2022 setelah memenangkan Pilkada Kabupaten Kulon Progo bersama Wakil
Sutedjo Pimpin Kulon Progo 2017-2022 dengan Segudang Prestasi Pembangunan
Kulon Progo – Sutedjo menjabat sebagai Bupati Kulon Progo periode 2017 hingga 2022 setelah memenangkan Pilkada Kabupaten Kulon Progo bersama Wakil Bupati Fajar Gegana. Sebelum menduduki kursi orang nomor satu di kabupaten paling barat Daerah Istimewa Yogyakarta ini, Sutedjo dikenal sebagai birokrat karier yang telah puluhan tahun mengabdi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, termasuk pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah.
Profil dan Latar Belakang
Sutedjo lahir dan besar di Kabupaten Kulon Progo, menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di daerah asalnya sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di bidang pemerintahan. Sebagai birokrat sejati, ia merintis karier dari eselon rendah hingga akhirnya menduduki posisi Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo. Pengalaman panjang di birokrasi inilah yang menjadi modal utama saat ia memutuskan maju dalam kontestasi Pilkada 2017. Sutedjo diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bersama sejumlah partai pendukung lainnya. Ia berpasangan dengan Fajar Gegana dan berhasil meraih kemenangan mutlak, menjadikannya Bupati Kulon Progo pertama dengan latar belakang birokrat murni tanpa pengalaman politik elektoral sebelumnya.
Program Unggulan dan Kinerja
Selama masa kepemimpinannya, Sutedjo mencanangkan sejumlah program strategis yang berfokus pada pembangunan infrastruktur, pengentasan kemiskinan, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Salah satu program andalan yang paling menonjol adalah "Bedah Menoreh", sebuah program terpadu pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, dan fasilitas publik di kawasan perbukitan Menoreh yang selama bertahun-tahun tertinggal secara infrastruktur. Melalui program ini, lebih dari 150 kilometer jalan desa di wilayah utara Kulon Progo berhasil diperbaiki dan diaspal, membuka akses isolasi puluhan dusun terpencil. Angka kemiskinan di kawasan Menoreh juga tercatat mengalami penurunan dari sekitar 22 persen pada awal masa jabatan menjadi 17 persen pada tahun 2021 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kulon Progo.
Program unggulan kedua yang menjadi perhatian publik adalah dukungan penuh Sutedjo terhadap pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kecamatan Temon. Proyek strategis nasional ini membawa perubahan besar bagi Kulon Progo. Di bawah kepemimpinan Sutedjo, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo aktif memfasilitasi proses pembebasan lahan, relokasi warga terdampak, serta menyiapkan infrastruktur pendukung kawasan aerotropolis. Bandara yang beroperasi penuh sejak 2020 ini membuka konektivitas langsung Kulon Progo dengan berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Sebagai dampak ikutannya, investasi di Kabupaten Kulon Progo melonjak signifikan. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kulon Progo mencatat realisasi investasi pada tahun 2021 mencapai lebih dari Rp 1,2 triliun, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelum pembangunan bandara.
Kontroversi dan Tantangan
Kendati mencatat sejumlah keberhasilan, masa jabatan Sutedjo tidak luput dari kontroversi dan kritik. Pembangunan YIA meskipun membawa dampak ekonomi positif, juga memicu gejolak sosial di kalangan warga terdampak. Proses pembebasan lahan dan relokasi warga di Kecamatan Temon menuai protes dari sebagian masyarakat yang merasa nilai ganti rugi tidak sepadan dengan tanah dan tempat tinggal yang mereka huni secara turun-temurun. Sejumlah warga membentuk paguyuban penolakan dan melakukan aksi demonstrasi. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo di bawah Sutedjo dinilai belum sepenuhnya mampu menjembatani kepentingan warga dengan target pembangunan nasional. Selain itu, kritik juga datang dari lambatnya pengembangan kawasan penyangga bandara seperti kawasan industri dan permukiman baru yang dijanjikan akan menjadi motor ekonomi pengganti bagi warga yang kehilangan mata pencaharian sebagai petani lahan pasir.
Penilaian dan Prospek
Secara objektif, masa kepemimpinan Sutedjo membawa transformasi signifikan bagi Kabupaten Kulon Progo. Keberhasilan program Bedah Menoreh dan akselerasi pembangunan YIA menjadi legasi yang sulit diabaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kulon Progo naik dari 73,32 pada tahun 2017 menjadi 74,83 pada tahun 2021, meskipun kenaikannya tidak terlalu spektakuler. Sutedjo berhasil menanamkan fondasi pembangunan infrastruktur dan konektivitas yang membuka peluang ekonomi baru. Namun, pekerjaan rumah besar berupa penanganan dampak sosial pembangunan bandara, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan hasil pembangunan masih membutuhkan perhatian serius. Setelah tidak menjabat, arah pembangunan Kulon Progo berada di tangan kepemimpinan baru yang mewarisi fondasi sekaligus tantangan dari era Sutedjo. Ke depan, kawasan aerotropolis dan potensi pariwisata menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi kabupaten yang dijuluki "Bumi Binangun" ini.
Comments (0)