Menteri Jumhur Tegaskan Komitmen Iklim Indonesia di Pre-COP31
Jakarta, Beritainti.com — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jumhur Hidayat menegaskan komitmen Indonesia terhadap aksi iklim global saat menghadiri ra
Jakarta, Beritainti.com — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jumhur Hidayat menegaskan komitmen Indonesia terhadap aksi iklim global saat menghadiri rangkaian konferensi persiapan Konferensi Para Pihak (COP) ke-31 atau Pre-COP31. Dalam pertemuan tingkat tinggi itu, Indonesia mendorong penguatan kerja sama internasional untuk mitigasi perubahan iklim sekaligus memastikan kepentingan negara berkembang tetap terakomodasi dalam kesepakatan iklim global.
Rangkaian Pertemuan Persiapan COP31
- Pembukaan sesi tingkat menteri — Jumhur Hidayat memaparkan posisi Indonesia mengenai percepatan transisi energi bersih dan perlindungan ekosistem berbasis alam.
- Bilateral dengan mitra strategis — Pertemuan dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese membahas penguatan kolaborasi kawasan dalam adaptasi perubahan iklim.
- Sesi kerja sama Selatan-Selatan — Indonesia menawarkan pengalaman program pengendalian kebakaran hutan dan lahan sebagai model yang dapat direplikasi.
- Penyusunan narasi bersama — Delegasi Indonesia menyepakati pentingnya prinsip keadilan iklim, termasuk pendanaan iklim yang adil bagi negara berkembang.
Dalam keterangan resminya, Jumhur menekankan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pihak yang terdampak perubahan iklim, tetapi juga aktor nyata dalam upaya penurunan emisi global. Posisi itu sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060, serta target penurunan emisi yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) nasional.
"Indonesia hadir di forum global bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi. Perubahan iklim adalah persoalan bersama, sehingga solusinya pun harus dibangun secara kolektif dan berkeadilan," ujar Jumhur Hidayat.
Empat Poin Prioritas Indonesia
Secara spesifik, delegasi Indonesia membawa sejumlah isu prioritas ke meja negosiasi Pre-COP31, antara lain:
- Transisi energi yang adil — memastikan negara berkembang memperoleh ruang fleksibilitas serta pendanaan memadai untuk meninggalkan energi fosil.
- Perlindungan hutan tropis — menegaskan kontribusi besar Indonesia dalam menjaga karbon global melalui program rehabilitasi dan konservasi hutan.
- Pendanaan iklim — mendorong pemenuhan janji pendanaan Adaptasi Fund dan Loss and Damage yang selama ini dinilai belum terealisasi penuh.
- Kerja sama teknologi hijau — membuka peluang alih teknologi bersama negara maju untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Menjelang KTT Iklim Global
Pertemuan Pre-COP31 menjadi agenda penting karena hasil pembahasan akan menjadi fondasi bagi agenda COP31. Indonesia berharap agar kesepakatan akhir nanti tidak hanya bersifat deklaratif, tetapi juga menghasilkan mekanisme implementasi yang terukur di lapangan.
Sebelumnya, Indonesia telah konsisten mengambil peran aktif melalui presidensi kelompok negara berkembang di berbagai forum iklim, serta menggagas inisiatif transisi energi berskala kawasan. Jumhur menyebut kerja sama antarnegara, termasuk dengan Australia, menjadi kunci percepatan pencapaian target iklim kawasan Asia-Pasifik.
Pemerintah Indonesia juga mendorong agar mekanisme pasar karbon global berjalan transparan dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat di negara berkembang. Langkah ini diharapkan memperkuat kepercayaan internasional terhadap komitmen lingkungan hidup Indonesia.
Menghadapi meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, Jumhur menegaskan bahwa aksi iklim tidak bisa ditunda. "Kita berbicara tentang masa depan anak cucu kita. Karena itu, keputusan politik hari ini harus berani dan berpihak pada keberlanjutan bumi," pungkasnya.
Comments (0)