Pasar Nangka Bungur Sepi, Ratusan Kios Menganggur
Jakarta Pusat — Berbeda dari kesan megah yang sempat melekat padanya, Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur kini justru menyuguhkan pemandangan yang membuat
Jakarta Pusat — Berbeda dari kesan megah yang sempat melekat padanya, Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur kini justru menyuguhkan pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya ikut miris. Deretan kios yang sebagian besar tertutup rapat, lorong pasar yang lengang, dan hanya segelintir pedagang yang bertahan menciptakan suasana yang jauh dari kata ramai. Padahal, pasar ini dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan yang hidup ketika era kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih memimpin DKI Jakarta.
Kondisi Terkini: Banyak Kios Tutup Permanen
Berdasarkan pantauan pada Rabu (7/10/2026), terlihat jelas bahwa banyak sekali kios yang tutup dan tidak beroperasi. Beberapa pedagang yang masih bertahan mengaku omzet mereka menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Suasana sepi ini bukan sekadar sepi karena jam tertentu, melainkan kondisi yang sudah berlangsung cukup lama dan terus berlanjut tanpa tanda-tanda pemulihan.
"Dulu pasar ini selalu penuh, pagi sampai sore ramai pembeli. Sekarang? Bisa dihitung berapa orang yang lewat. Kios sebelah sudah tutup permanen, pemiliknya pindah usaha," ujar salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan warga. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Pasar Nangka Bungur? Mengapa pasar yang dulu dikenal ramai kini justru ditinggalkan pengunjung maupun pedagangnya?
Era Keemasan dan Perubahan yang Terjadi
Pasar Nangka Bungur sempat dikenal sebagai pusat kegiatan ekonomi warga yang tertata dan ramai. Di era Ahok, banyak pedagang yang merasakan suasana berbeda — mulai dari penataan kawasan hingga penegakan aturan yang membuat aktivitas jual beli berjalan tertib. Namun, perubahan demi perubahan yang terjadi setelahnya pelan-pelan menggeser dinamika pasar ini.
Beberapa faktor diduga menjadi pemicu: persaingan dengan pusat perbelanjaan modern, pergeseran perilaku konsumen ke platform belanja daring, hingga isu terkait rencana pengembangan kawasan yang membuat pedagang memilih mundur. Bagi banyak pedagang kecil, ketidakpastian adalah alasan tersulit untuk bertahan.
Pedagang Berharap Ada Solusi Nyata
Di tengah kondisi ini, harapan pedagang tetap menyala. Mereka meminta pemerintah hadir memberikan kepastian, bukan hanya janji. Penataan ulang, insentif bagi pedagang, serta strategi promosi dinilai perlu dilakukan agar pasar kembali hidup.
"Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin tahu nasib pasar ini ke depan. Kalau memang harus pindah, pindahkan kami ke tempat yang layak. Jangan dibiarkan begini," katanya dengan nada getir.
Kisah Pasar Nangka Bungur menjadi pengingat bahwa ruang ekonomi rakyat membutuhkan perhatian serius. Tanpa kepastian dan dukungan nyata, pasar yang dulu menjadi tulang punggung warga bisa terus menyusut hingga akhirnya benar-benar kehilangan identitasnya.
Comments (0)