MEDAN — Rico Waas Dukung Penyelenggaraan Pesta Adat Karo Merdang Merdem 2026
Pemerintah Kota Medan menegaskan komitmen strategisnya dalam merawat keberagaman tradisi lokal melalui dukungan penuh terhadap perhelatan budaya Karo, Merd
Pemerintah Kota Medan menegaskan komitmen strategisnya dalam merawat keberagaman tradisi lokal melalui dukungan penuh terhadap perhelatan budaya Karo, Merdang Merdem 2026. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menggarisbawahi bahwa agenda kebudayaan ini memiliki posisi sentral dalam menjaga identitas historis masyarakat Karo yang menjadi salah satu fondasi utama pembentukan Kota Medan.
Dukungan tersebut bukan sekadar legitimasi birokratis formal, melainkan dorongan substansial agar nilai-nilai luhur dan dimensi sakral dari upacara adat tetap terpelihara di tengah gelombang modernisasi perkotaan.
Menjaga Marwah Sakral di Tengah Transformasi Urban
Tradisi Merdang Merdem—yang secara historis dikenal sebagai ritual tahunan ungkapan syukur pascatanam dan doa kesuburan—telah bertransformasi menjadi ruang perjumpaan sosial bagi masyarakat Karo di wilayah urban. Rico Waas menekankan pentingnya mempertahankan orisinalitas ritual agar substansi spiritual dan nilai kekerabatan tidak tergerus oleh motif hiburan semata.
"Penyelenggaraan Merdang Merdem bukan sekadar seremoni hiburan tahunan, melainkan ikhtiar fundamental untuk merawat akar sejarah dan identitas kultural Kota Medan. Kesakralan ritual adatnya harus tetap menjadi ruh utama yang tidak boleh tereduksi," ujar Rico Waas dalam keterangannya.
Pendekatan analitis menunjukkan bahwa pelestarian upacara adat di kota metropolitan seperti Medan memerlukan keseimbangan antara otentisitas ritual dan penetrasi ruang publik. Penyelenggaraan Merdang Merdem pada 2026 diproyeksikan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat (pengetua adat), generasi muda, hingga paguyuban seni lintas generasi.
Integrasi Nilai Budaya dan Dimensi Pariwisata
Secara historis, keterikatan etnis Karo dengan Kota Medan berakar kuat pada sosok Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang diakui sebagai pendiri Kota Medan pada 1 Juli 1590. Oleh karena itu, penguatan agenda kebudayaan Karo berfungsi ganda sebagai pengingat sejarah sekaligus daya tarik wisata budaya perkotaan (urban cultural tourism).
| Dimensi | Fokus Nilai Budaya | Dampak Strategis bagi Kota Medan |
|---|---|---|
| Historis-Kultural | Pelestarian ritus Merdang Merdem dan filosofi Rakut Sitelu | Penguatan identitas orisinal dan literasi sejarah kota |
| Sosial-Kekerabatan | Konsolidasi komunitas dan rekonsiliasi nilai kekeluargaan | Penguatan harmoni multietnis di tingkat akar rumput |
| Ekonomi Kreatif | Pemberdayaan UMKM berbasis kuliner tradisional dan kriya Karo | Peningkatan perputaran ekonomi sektor pariwisata lokal |
Langkah Persiapan Menuju Pelaksanaan 2026
Guna memastikan pesta adat berjalan khidmat dan tertata, Pemerintah Kota Medan berencana merumuskan langkah kolaboratif bersama pemangku kepentingan adat Karo. Beberapa poin konsentrasi utama meliputi:
- Standardisasi Pelaksanaan Ritual: Memastikan seluruh tahapan adat dijalankan sesuai pakem tradisi luhur masyarakat Karo.
- Edukasi Generasi Muda: Menyelenggarakan lokakarya dan dialog kebudayaan sebelum puncak perayaan untuk mengikis defisit pengetahuan adat di kalangan milenial dan Gen Z.
- Sinergi Lintas Sektor: Menyelaraskan agenda festival dengan program pariwisata daerah agar mampu menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara tanpa mengorbankan kesakralan acara.
Melalui persiapan matang menuju tahun 2026, agenda Merdang Merdem diharapkan tidak hanya menjadi etalase seremoni semata, melainkan manifestasi nyata ketahanan budaya dan wujud penghormatan tertinggi terhadap warisan leluhur yang terus hidup di Kota Medan.
Comments (0)