Lisandro Martinez Bongkar Alasan Tolak Selebrasi Spanyol di Final
Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di MetLife Stadium, New Jersey, menghasilkan kemenangan dramatis La Furia Roja dengan skor 3-2 lewat babak perpanjangan waktu. Pertandingan yang diw...
Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di MetLife Stadium, New Jersey, menghasilkan kemenangan dramatis La Furia Roja dengan skor 3-2 lewat babak perpanjangan waktu. Pertandingan yang diwarnai hujan gol dan kontroversi ini meninggalkan noda lewat aksi para pemain Argentina yang membelakangi perayaan kemenangan lawan seusai peluit panjang. Bek tengah Lisandro Martinez akhirnya menjelaskan alasan di balik sikap tersebut.
Pertandingan Penuh Drama dan Gol Menit Akhir
Spanyol membuka keunggulan cepat lewat sepakan first-time Pedri pada menit ke-23, memanfaatkan assist Lamine Yamal dari sektor kanan. Argentina yang tertinggal meningkatkan intensitas dan berhasil menyamakan skor pada menit ke-67 melalui sundulan Julian Alvarez setelah umpan silang akurat dari Rodrigo De Paul. Kedua tim saling balas serangan, dengan statistik penguasaan bola imbang 50-50, sementara shots on target Spanyol unggul 7 berbanding 5 milik Argentina. Ketika laga tampak akan berakhir imbang 1-1, Nico Williams mencetak gol pada menit ke-89 via serangan balik cepat. Namun VAR mengonfirmasi gol tersebut setelah sempat diperiksa perihal dugaan offside, memicu protes keras dari kubu Argentina. Lionel Messi, yang tampil sebagai kapten, terlibat adu argumen dengan wasit utama.
Babak perpanjangan waktu menjadi panggung bagi kegigihan Argentina. Enzo Fernandez melepaskan tendangan spekulasi dari luar kotak penalti yang bersarang di pojok gawang Unai Simon pada menit ke-104, membuat skor 2-2. Namun, tragedi terjadi bagi La Albiceleste. Pelanggaran yang dilakukan Cristian Romero terhadap Alvaro Morata di dalam kotak penalti pada menit ke-117 dihukum penalti setelah peninjauan VAR. Pedri yang menjadi algojo sukses menaklukkan Emiliano Martinez, membawa Spanyol unggul 3-2 hingga akhir laga.
Sikap Kontroversial: Membelakangi Perayaan Seusai Kekalahan
Segera setelah wasit meniup peluit akhir, para pemain Spanyol larut dalam euforia. Mereka berlari ke sudut lapangan dan membentuk "ronde" kegembiraan, disaksikan puluhan ribu penonton. Namun, alih-alih memberikan selamat atau sekadar menghormati momen tersebut, sebagian besar pemain Argentina justru berbalik badan dan berjalan menuju terowongan. Aksi ini dengan cepat menjadi sorotan kamera dan memicu perdebatan di media sosial. Beberapa pengamat menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ketidakdewasaan dan sportivitas rendah, sementara yang lain bersimpati dengan frustrasi Argentina setelah keputusan-keputusan kontroversial yang merugikan mereka.
Sejumlah laporan dari lapangan menyebutkan bahwa bek Argentina, termasuk Lisandro Martinez, sempat terlibat pertukaran kata-kata panas dengan pemain Spanyol, terutama Nico Williams yang merayakan golnya secara provokatif di depan bangku cadangan Argentina pada babak perpanjangan. Namun Martinez, yang baru pulih dari cedera dan tampil penuh selama 120 menit, menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana saat itu.
Penjelasan Lisandro Martinez: "Kami Merasa Terluka, Bukan Tidak Hormat"
Beberapa hari pasca insiden, Martinez memberikan klarifikasi eksklusif kepada media Argentina. Ia mengakui bahwa aksi tersebut bukanlah tindakan yang direncanakan, melainkan reaksi emosional kolektif atas situasi yang sangat menyakitkan. "Kami telah berjuang habis-habisan selama dua jam lebih dan merasa bahwa hasil akhir tidak mencerminkan jalannya pertandingan. Rasa frustrasi itu meledak begitu saja," ujar Martinez.
"Kami tidak bermaksud tidak menghormati Spanyol. Mereka memenangkan trofi dan berhak merayakannya. Namun di momen itu, melihat mereka berjoget di depan kami setelah apa yang terjadi—terutama setelah penalti kontroversial—sangat sulit diterima. Rekan-rekan saya merasa terluka, bukan sekadar kecewa. Saya hanya ingin memastikan tidak ada yang menuduh kami arogan. Kami hanya manusia yang baru saja kehilangan mimpi besar."
Martinez juga menyinggung soal keputusan VAR yang dinilai berat sebelah. Menurutnya, setidaknya ada dua insiden di kotak penalti Spanyol yang tidak diperiksa, sementara pelanggaran Romero langsung direspon dengan intervensi teknologi. "Itu menyakitkan. Anda bisa cek data VAR check, kami punya tiga permintaan yang diabaikan. Jadi wajar jika emosi meluap," tegasnya.
Statistik Kunci dan Reaksi Dunia Sepak Bola
Data pertandingan menunjukkan dominasi tipis Spanyol dalam beberapa aspek: penguasaan bola 52% - 48%, total percobaan 14 berbanding 11, serta operan sukses mencapai 87%. Namun Argentina mencatatkan total tekel sukses lebih tinggi (19 vs 14) dan memenangi lebih banyak duel udara. Kedua tim sama-sama menerima dua kartu kuning, dengan kartu terakhir untuk Romero yang berujung penalti menjadi penentu penderitaan Argentina.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, enggan memperpanjang kontroversi. Ia memuji karakter anak asuhnya dan menyebut Argentina tetap lawan tangguh. Sementara itu, Fans Argentina di Buenos Aires menggelar aksi solidaritas, dengan banyak yang mempertanyakan integritas perangkat pertandingan. Meski begitu, Lisandro Martinez menutup pernyataannya dengan harapan agar rivalitas di lapangan tidak dibawa ke luar. "Sepak bola adalah tentang momen. Kali ini mereka yang menang. Kami akan kembali."
Comments (0)