Era Infantino: Transformasi Masif FIFA Menuju Piala Dunia 2026
Angka 48 kini menjadi kata kunci paling sering disebut di seluruh penjuru dunia sepak bola. Sejak Gianni Infantino resmi menduduki kursi tertinggi FIFA pada 26 Februari 2016, konfederasi induk sepak b...
Angka 48 kini menjadi kata kunci paling sering disebut di seluruh penjuru dunia sepak bola. Sejak Gianni Infantino resmi menduduki kursi tertinggi FIFA pada 26 Februari 2016, konfederasi induk sepak bola dunia dengan 211 federasi anggota itu telah mengalami transformasi besar-besaran — mulai dari ekspansi Piala Dunia, lahirnya turnamen antarklub bergengsi, hingga digitalisasi sistem kewasitan. Semuanya terjadi di bawah komando mantan Sekretaris Jenderal UEFA ini.
Perjalanan karier pria kelahiran Brig, Swiss, ini layak dicermati. Sebelum hijrah ke FIFA, Infantino menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA sejak 2009 dan mengawasi operasional Liga Champions serta Euro. Ia maju dalam pemilihan presiden darurat FIFA 2016 pasca-krisis korupsi yang meruntuhkan rezim sebelumnya, lalu unggul atas Pangeran Ali bin Al Hussein pada putaran kedua pemilihan.
Ekspansi Bersejarah: Dari 32 Menjadi 48 Tim
Keputusan paling ikonik era Infantino hadir lewat kongres FIFA yang memutuskan Piala Dunia 2026 akan dihelat dengan format baru: 48 tim peserta, naik drastis dari tradisi 32 tim yang berlangsung sejak Prancis 1998. Tuan rumah gabungan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko siap menyambut 104 pertandingan — lonjakan signifikan dari 64 laga pada edisi-edisi sebelumnya.
Sistem kompetisi pun berubah total. Sebanyak 12 grup berisi empat tim akan digelar, dengan juara dan runner-up grup melaju ke babak 32 besar. Bagi negara-negara berkembang secara sepak bola, pintu selebar ini membuka peluang emas. Benua Asia, misalnya, kini mengantongi kuota langsung delapan tiket, ditambah satu slot melalui play-off internasional. Afrika mendapat jatah sembilan kursi — hampir dua kali lipat dibanding format lama.
Semangat yang kerap dikumandangkan Infantino di berbagai forum internasional sederhana: Piala Dunia adalah milik semua orang. Daya tarik komersialnya pun tak diragukan, terbukti dari proyeksi pendapatan siklus 2023-2026 FIFA yang menembus kisaran 11 miliar dolar AS — rekor tertinggi dalam sejarah organisasi tersebut.
Piala Dunia Antarklub: Wajah Baru Kalender Global
Tidak berhenti di panggung timnas, Infantino juga menggulirkan reformasi di level klub. Piala Dunia Antarklub edisi baru resmi diluncurkan dengan format megah: 32 tim bertanding dalam 63 pertandingan selama kurang lebih satu bulan penuh. Klub-klub raksasa Eropa seperti Real Madrid, Manchester City, dan Bayern Munich bersaing melawan wakil terkuat Amerika Selatan, Asia, Afrika, serta Amerika Utara.
Struktur turnamen meniru pola Piala Dunia timnas: delapan grup berisi empat tim, kemudian sistem gugur dimulai dari babak 16 besar. Total hadiah yang digelontorkan mencapai satu miliar dolar AS — angka yang membuat kompetisi ini instan menjadi salah satu turnamen klub terkaya di planet ini. Namun para pengamat mencatat kepadatan kalender sebagai risiko utama, mengingat pemain elite kini bisa tampil lebih dari 65 pertandingan per musim jika timnya menembus semua final kompetisi.
Teknologi, Transparansi, dan Sorotan Kritis
Era Infantino juga identik dengan revolusi teknologi. Sistem Video Assistant Referee (VAR) yang disahkan pada 2018 kini menjadi standar di ajang Piala Dunia, disusul teknologi semi-otomatis offside yang diperkenalkan di Qatar 2022 — memangkas rata-rata durasi verifikasi posisi offside dari sekitar 70 detik menjadi hanya 25 detik. Hingga kini, VAR telah diterapkan di lebih dari 100 kompetisi di berbagai benua.
Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Keputusan menunjuk Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 tanpa proses bidding kompetitif menuai sorotan dari kalangan organisasi hak asasi manusia. Demikian pula gagasan liga nasional antarbenua yang diusung pada 2021 — ide tersebut batal setelah penolakan keras dari para suporter Eropa, terlihat dari gelombang protes yang menyelimuti enam stadion Premier League pada April 2021.
Mandat ketiga Infantino direstorasi lewat Kongres FIFA 2023 di Kigali, Rwanda, tempat ia terpilih kembali secara aklamasi tanpa lawan. Artinya, pria 54 tahun ini berpeluang memimpin FIFA hingga 2027 — atau lebih panjang lagi bila aturan batas masa jabatan dimodifikasi di kemudian hari.
Satu hal pasti: di bawah kendali Infantino, sepak bola global tidak pernah statis. Angka-angka terus membengkak, format terus berevolusi, dan seluruh mata dunia akan terarah padanya menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 pada 11 Juni 2026 di Estadio Azteca, Mexico City — stadion legendaris yang siap mencatat sejarah sebagai venue pembuka turnamen untuk kali ketiganya.
Comments (0)