Jepang Hadapi Dilema: Butuh Pekerja Asing, Namun Banyak yang Memilih Hengkang

Ketergantungan Jepang terhadap tenaga kerja asing terus meningkat seiring menyusutnya populasi usia produktif, namun serangkaian kebijakan baru justru memicu gelombang kekecewaan di kalangan pekerja

Jul 06, 2026 - 13:25
0 1
Jepang Hadapi Dilema: Butuh Pekerja Asing, Namun Banyak yang Memilih Hengkang

Ketergantungan Jepang terhadap tenaga kerja asing terus meningkat seiring menyusutnya populasi usia produktif, namun serangkaian kebijakan baru justru memicu gelombang kekecewaan di kalangan pekerja migran. Banyak dari mereka mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan Negeri Sakura setelah merasa kontribusi bertahun-tahun tidak dihargai oleh negara maupun masyarakat setempat.

Kenaikan Biaya Perpanjangan Visa Jadi Pukulan Finansial

Salah satu pemicu utama keresahan ini adalah langkah pemerintah Jepang yang berencana menaikkan biaya administrasi keimigrasian secara drastis. Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, pemerintah Jepang telah mengesahkan undang-undang yang memungkinkan kenaikan biaya maksimum untuk perubahan status izin tinggal atau perpanjangan masa tinggal hingga sepuluh kali lipat. Aturan baru ini akan mulai berlaku paling lambat pada akhir Maret 2027.

Srijana Sunar, seorang perempuan asal Nepal berusia 29 tahun yang telah bekerja di berbagai pabrik di Jepang sejak tahun 2018, mengaku sangat terkejut mendengar kebijakan tersebut. Selama ini, ia menerima gaji sekitar 145.000 yen atau setara 16 juta Rupiah per bulan. Namun dengan adanya kebijakan baru, ia harus merogoh kocek hingga 100.000 yen (sekitar 10 juta Rupiah) hanya untuk biaya administrasi perpanjangan visa setiap tiga tahun sekali.

"Saya kaget. Terlalu mahal jika harus membayar 100.000 yen untuk memperpanjang visa setiap tiga tahun,"

ujarnya kepada media kami, mencerminkan kegelisahan ribuan pekerja asing lain yang bernasib serupa.

Merasa Tidak Dihargai Meski Sudah Bertahun-tahun Berkontribusi

Masalah finansial bukanlah satu-satunya alasan yang membuat para pekerja migran enggan menetap lebih lama. Sentimen sosial dan rasa tidak dihargai menjadi faktor pendorong yang lebih dalam. Suami Srijana, Spandan Sunar, telah mengabdikan waktunya di Jepang sejak tahun 2016. Ia telah bekerja di perusahaan transportasi dan juga sempat berkecimpung di sekolah bahasa Jepang. Namun, pengorbanan panjangnya selama hampir satu dekade tersebut dirasa tidak berbuah apresiasi yang layak.

"Upaya keras saya selama bertahun-tahun tidak mendapat penghargaan dari masyarakat Jepang,"

keluhnya. Pernyataan ini merepresentasikan realita pahit yang dihadapi banyak tenaga kerja asing di Jepang. Meskipun aliran masuk pekerja migran terus didorong untuk mengisi kekosongan di sektor manufaktur, pertanian, dan jasa, gesekan sosial dan minimnya usaha integrasi sering kali membuat para pendatang merasa terasing.

Paradoks ini menempatkan Jepang pada posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, negara ini sangat membutuhkan suntikan tenaga kerja asing untuk menjaga roda perekonomian tetap berputar. Di sisi lain, kebijakan yang dianggap membebani serta lingkungan kerja yang kurang inklusif membuat para pekerja asing tersebut tidak betah tinggal dalam jangka panjang. Jika tren "kaburnya" pekerja migran ini tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin Jepang akan kehilangan daya tariknya sebagai destinasi utama para pencari kerja global, memperparah krisis tenaga kerja domestik yang sudah berada di depan mata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Editor Ekonomi. Editor ringkasan isu bisnis dalam poin inti.

Comments (0)

User