Wali Kota Jepang Ini Jadi yang Pertama Ambil Cuti Melahirkan

Tokyo, Beritainti.com – Shoko Kawata, wali kota perempuan yang memimpin kota Yawata di Jepang bagian barat, mencatatkan sejarah baru. Ia resmi mengumumkan akan mengambil cuti melahirkan dalam waktu

Jul 06, 2026 - 13:25
0 1
Wali Kota Jepang Ini Jadi yang Pertama Ambil Cuti Melahirkan

Tokyo, Beritainti.com – Shoko Kawata, wali kota perempuan yang memimpin kota Yawata di Jepang bagian barat, mencatatkan sejarah baru. Ia resmi mengumumkan akan mengambil cuti melahirkan dalam waktu dekat, menjadi kepala daerah pertama di Negeri Sakura yang berani memanfaatkan hak tersebut secara terbuka. Keputusan ini segera memicu diskusi luas di tengah budaya kerja Jepang yang dikenal keras dan jarang memberikan ruang bagi pejabat publik, terutama perempuan, untuk rehat sejenak dari tugas administratif.

Kawata menyampaikan rencana cutinya langsung di hadapan dewan kota. Dalam pidatonya yang tenang namun tegas, ia menegaskan bahwa pemerintahan kota akan tetap berjalan lancar di bawah kendali wakil wali kota yang telah ia percayakan sepenuhnya. “Saya tidak menyangka hal ini akan menjadi begitu kontroversial,” ungkap Kawata, merespons beragam reaksi yang muncul dari kolega maupun warga. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa langkahnya dianggap berani sekaligus mengejutkan banyak pihak di lingkungan politik lokal yang masih didominasi laki-laki.

Simbol Baru Kesetaraan Gender

Langkah Kawata dinilai sebagai terobosan penting di tengah stagnasi peran perempuan dalam struktur kekuasaan Jepang. Data pemerintah menunjukkan kurang dari tiga persen wali kota di seluruh Jepang adalah perempuan, sementara angka partisipasi perempuan di parlemen daerah pun masih rendah. Kawata tidak hanya memimpin, tetapi juga sedang mengandung—dua kondisi yang jarang bertemu di arena politik Jepang.

Media kami mencatat bahwa peraturan cuti melahirkan bagi pejabat publik di Jepang sebenarnya telah dijamin undang-undang. Namun, praktik di lapangan sangat berbeda. Tekanan sosial dan tuntutan loyalitas tinggi terhadap pekerjaan membuat banyak politisi perempuan enggan mengambil hak tersebut, khawatir dianggap tidak berkomitmen atau melemahkan citra kepemimpinan. Dengan mengambil cuti, Kawata secara simbolik menantang stigma itu.

“Saya ingin menunjukkan bahwa memimpin dan menjadi seorang ibu bukanlah dua peran yang saling meniadakan,” kata Kawata dalam wawancara eksklusif dengan laporan kami.

Reaksi publik pun terbelah. Sebagian besar anak muda dan kelompok pemerhati hak perempuan memberikan dukungan penuh, menyebut langkah Kawata sebagai inspirasi. Namun, kalangan konservatif menilai cuti seorang wali kota, meskipun sementara, bisa mengganggu stabilitas pelayanan publik. Kawata menjawab kritik itu dengan menunjuk pada struktur delegasi yang jelas: wakilnya, yang telah ia latih dan siapkan, akan mengambil alih tugas harian, memastikan tidak ada kekosongan kepemimpinan.

Kota Yawata sendiri, yang berpenduduk sekitar 70.000 jiwa, kini menjadi sorotan media nasional dan internasional. Banyak pihak berharap kasus ini menjadi preseden yang mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk lebih serius mengakomodasi kebutuhan biologis pemimpin perempuan. Kawata dijadwalkan mulai cuti dalam beberapa pekan mendatang, dengan rencana kembali bertugas setelah masa pemulihan pasca-melahirkan. Keputusannya bukan hanya tentang satu perempuan, melainkan tentang arah baru budaya politik Jepang yang lebih inklusif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Editor Ekonomi. Editor ringkasan isu bisnis dalam poin inti.

Comments (0)

User