JAKARTA — Permintaan Pepaya Melonjak, Pasar Buah Tropis Menggeliat

Beritainti, JAKARTA — Meski dikenal luas sebagai buah dengan beragam manfaat kesehatan, pepaya kini mencatatkan babak baru dalam lanskap ekonomi pangan. Pe

Jul 09, 2026 - 10:31
0 0
JAKARTA — Permintaan Pepaya Melonjak, Pasar Buah Tropis Menggeliat

Beritainti, JAKARTA — Meski dikenal luas sebagai buah dengan beragam manfaat kesehatan, pepaya kini mencatatkan babak baru dalam lanskap ekonomi pangan. Perubahan pola konsumsi, terutama meningkatnya kesadaran pria terhadap pentingnya nutrisi spesifik, mendorong permintaan pepaya naik hingga 18% sepanjang semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan ini.

Pergeseran ini tak hanya terlihat di level ritel tradisional, tetapi juga terkonfirmasi oleh lonjakan transaksi di platform e-commerce bahan pangan segar. Sejumlah agregator data pasar mencatat pencarian kata kunci “pepaya matang organik” meningkat 3,2 kali lipat di kalangan konsumen pria berusia 25–45 tahun. Fenomena ini membawa efek domino yang signifikan terhadap rantai pasok dan harga komoditas pepaya di tingkat petani hingga konsumen akhir.

Preferensi Gizi Pria dan Efek Substitusi Pasar

Dari sudut pandang ekonomi rumah tangga, kemunculan pepaya sebagai buah rekomendasi bagi pria menciptakan efek substitusi terhadap konsumsi suplemen kesehatan impor. Kandungan enzim papain, serat tinggi, dan likopen yang dikaitkan dengan penurunan risiko kanker prostat menjadikan pepaya sebagai alternatif fungsional yang lebih terjangkau. Sebuah riset panel konsumen oleh Inventure menunjukkan bahwa 43% responden pria yang sebelumnya membeli suplemen rutin mulai mengalokasikan kembali anggarannya ke buah-buahan segar, dengan pepaya sebagai pilihan utama.

“Ini pergeseran yang menarik secara ekonomi mikro. Konsumen melakukan trade-off antarbelanja kesehatan preventif. Buah lokal seperti pepaya mendapat limpahan ‘anggaran kesehatan’ yang tadinya mengalir ke produk impor,” ujar Diah Nurmala, ekonom pangan dari Institut Pertanian Bogor, saat dihubungi Beritainti (15/7).

Efek substitusi ini terlihat pula dari data impor suplemen antioksidan. Sepanjang kuartal II-2026, nilai impor suplemen golongan karotenoid dan enzim pencernaan turun 7,8% year-on-year, bersamaan dengan menguatnya penjualan pepaya domestik.

Struktur Harga dan Tekanan Inflasi Musiman

Lonjakan permintaan tak serta-merta menguntungkan seluruh lapisan rantai pasok. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis menunjukkan rata-rata harga pepaya California di tingkat pedagang besar naik dari Rp7.200 per kilogram pada Januari menjadi Rp9.650 per kilogram pada pertengahan Juli, atau melonjak 34%. Kenaikan ini dipicu oleh terbatasnya produksi musiman serta struktur tata niaga yang masih didominasi oleh pedagang pengumpul di sentra produksi seperti Lampung dan Jawa Timur.

  • Harga produsen: Petani menerima Rp4.100–Rp5.200 per kg, naik tipis 11%.
  • Margin tengkulak: Selisih harga petani-ke-grosir melebar 43%, mengindikasikan inefisiensi distribusi.
  • Imbas inflasi pangan: Kelompok buah-buahan menyumbang 0,12% terhadap inflasi bulanan Juni, dengan pepaya sebagai kontributor utama baru.

Respons Sisi Penawaran: Perluasan Lahan dan Risiko Overproduksi

Sinyal harga yang kuat mendorong respons dari sisi produksi. Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Tengah melaporkan bahwa luas tanam pepaya bertambah 2.400 hektare dalam dua siklus tanam terakhir, atau setara dengan potensi tambahan pasokan 96.000 ton per tahun. Namun, percepatan ekspansi ini menimbulkan kekhawatiran klasik komoditas pertanian: risiko kelebihan pasokan dan anjloknya harga di musim panen raya yang akan datang.

“Siklus pig-cobra masih sering terjadi. Saat harga tinggi, petani ramai-ramai menanam. Tapi begitu panen serentak, harga justru ambruk. Pemerintah perlu memfasilitasi kontrak forwading antara petani dan industri pengolahan agar stabilitas harga terjaga,” kata Heru Setiawan, analis komoditas dari Trimegah Sekuritas.

Hilirisasi dan Nilai Tambah Ekspor

Pasar ekspor mulai melirik olahan pepaya seperti puree, ekstrak papain untuk industri farmasi, dan manisan kering. Sepanjang Januari–Mei 2026, volume ekspor pepaya segar dan olahan Indonesia tumbuh 21% secara tahunan, didorong oleh permintaan dari Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. Dengan harga ekspor pepaya segar di kisaran US$0,85–1,20 per kilogram, potensi pendapatan devisa bisa melampaui US$40 juta jika tren ini berlanjut.

Bagi investor dan pelaku rantai dingin, momen ini membuka peluang diversifikasi portofolio ke sektor buah fungsional. Mulai dari startup penyedia jasa sortasi berbasis AI hingga perusahaan logistik berpendingin, seluruh ekosistem merasakan efek getar dari sebuah perubahan sederhana: rekomendasi konsumsi pepaya bagi pria yang bertransformasi menjadi katalis penggerak roda ekonomi buah tropis nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User