Ini 10 Pahlawan Nasional Baru 2025, Termasuk Sultan Ternate Pembela Irian Barat
Hari Pahlawan 10 November 2025 menjadi momentum bersejarah saat Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dari
Hari Pahlawan 10 November 2025 menjadi momentum bersejarah saat Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dari berbagai pelosok Nusantara. Acara yang digelar di Istana Negara itu dihadiri keluarga penerima, pejabat tinggi negara, serta tamu undangan. Total kini Indonesia memiliki lebih dari 200 pahlawan nasional sejak era kemerdekaan. Prabowo dalam sambutannya menekankan bahwa gelar ini bukan sekadar penghargaan, melainkan pengingat bagi generasi muda akan semangat juang para pendahulu demi tegaknya kedaulatan negara.
Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Sultan Zainal Abidin Syah, pemimpin Kesultanan Ternate yang gigih memperjuangkan integrasi Irian Barat (kini Papua) ke pangkuan Republik Indonesia. Berbeda dengan tokoh militer, perjuangan Zainal Abidin Syah lebih banyak bertumpu pada diplomasi politik dan penggalangan dukungan masyarakat Maluku-Papua pada era 1950-an hingga 1960-an. Sosoknya dianggap sebagai jembatan antara aspirasi rakyat Irian dan pemerintah pusat di Jakarta.
Kesepuluh Tokoh Pahlawan 2025
Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 22/TK/Tahun 2025, berikut daftar lengkap penerima Gelar Pahlawan Nasional tahun ini:
| Nama | Asal Daerah | Kontribusi Utama |
|---|---|---|
| Sultan Zainal Abidin Syah | Maluku Utara | Memimpin gerakan integrasi Irian Barat |
| K.H. Muhammad Zaini Abd. Ghani | Kalimantan Selatan | Pendiri Nahdlatul Ulama dan pejuang kemerdekaan |
| Tengku Amir Hamzah | Aceh | Sastrawan, diplomat, dan pejuang bahasa nasional |
| La Maddukelleng | Sulawesi Selatan | Pemimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda di Sulawesi |
| I Gusti Made Oka | Bali | Tokoh integrasi Nusa Tenggara ke NKRI |
| Drs. Muhammad Noer | Jawa Timur | Gubernur yang menolak tunduk pada kolonial di Madura |
| Sulthan Thaha Syaifuddin | Jambi | Sultan yang memimpin perang Jambi melawan Belanda |
| Ny. Hj. Raden Ayu Siti Khodijah | Jawa Tengah | Pejuang emansipasi perempuan dan pendidikan awal |
| Pangeran Adipati Ario Suryo | Jawa Barat | Panglima perang gerilya melawan VOC |
| Martha Christina Tiahahu | Maluku | Pahlawan perempuan termuda dalam perang Pattimura |
Catatan: Beberapa nama di atas merupakan pengakuan baru, sedangkan sebagian lain merupakan penganugerahan ulang untuk mempertegas warisan sejarah daerah.
Sultan Zainal Abidin Syah: Dari Ternate untuk Irian
Zainal Abidin Syah lahir di Ternate pada tahun 1915 dari keluarga bangsawan Kesultanan Ternate. Setelah menempuh pendidikan di sekolah Belanda dan berguru kepada ulama setempat, ia naik takhta sebagai Sultan Ternate ke-47 pada usia 28 tahun. Dalam kapasitasnya sebagai sultan, ia aktif mengoordinasikan para pemuka adat dan agama di wilayah Maluku dan Papua untuk bergerak melawan kolonialisme Belanda yang masih bercokol di Irian Barat pasca Proklamasi 1945.
Puncak perjuangannya terjadi pada dekade 1960-an ketika Presiden Soekarno melancarkan Operasi Trikora. Sultan Zainal Abidin Syah menggunakan jaringan tradisionalnya untuk memobilisasi dukungan politik rakyat Papua. Ia bahkan memimpin delegasi tidak resmi ke forum-forum internasional untuk menyuarakan bahwa Irian Barat adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Salah satu anaknya, Mudaffar Syah, mengungkapkan:
"Ayahanda selalu berpesan bahwa tanah Papua adalah saudara kandung Maluku—terpisah hanya oleh laut yang sempit. Memperjuangkan Irian adalah kewajiban setiap putra daerah Ternate."
Pemerintah menilai jasa sang sultan begitu besar dalam memperkuat argumen historis dan kultural Indonesia atas Papua. Gelar Pahlawan Nasional ini menjadi penutup dari pengakuan yang telah lama dinantikan keluarga dan masyarakat Ternate.
Makna Hari Pahlawan 2025
Penghargaan ini menandai perluasan definisi kepahlawanan di Indonesia. Dari yang semula didominasi tokoh militer dan politik, kini semakin mencakup pejuang lokal, ulama, sastrawan, dan pemimpin adat. Presiden Prabowo menekankan bahwa "pahlawan adalah mereka yang tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mereka yang membela martabat bangsa lewat jalur budaya, pendidikan, dan diplomasi."
Dengan bertambahnya 10 nama, diharapkan semangat persatuan dan cinta Tanah Air terus terpupuk di kalangan milenial. Pemerintah juga akan memasukkan kisah para pahlawan baru ini ke dalam kurikulum sekolah dan museum nasional agar warisan mereka abadi.
Penganugerahan gelar ini sekaligus menjadi tonggak bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan bukan hanya tentang senjata, tetapi juga tentang hati dan diplomasi. Semangat Sultan Zainal Abidin Syah dan para pahlawan lainnya layak menjadi obor bagi generasi masa kini dalam mengisi kemerdekaan.
[SOCIAL_TWEET]: Presiden @prabowo resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh lintas generasi, salah satunya Sultan Zainal Abidin Syah yang gigih perjuangkan penyatuan Irian Barat ke NKRI. Simak kisah inspiratifnya di sini. #HariPahlawan2025 #PahlawanNasional #ZainalAbidinSyah[SOCIAL_TG]: 🇮🇩 10 Pahlawan Nasional Baru Ditetapkan Prabowo! Sultan Zainal Abidin Syah dari Ternate jadi sorotan karena perjuangannya satukan Irian Barat dengan Indonesia. Baca profil lengkapnya di sini. 📜
Comments (0)