Samosir — Hasto Kristiyanto Ziarah ke Pusuk Buhit, Selami Nilai Spiritual Leluhur
Beritainti.com, SAMOSIR — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengagendakan ziarah kebudayaan sekaligus spiritual dengan mendaki Gun
Beritainti.com, SAMOSIR — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengagendakan ziarah kebudayaan sekaligus spiritual dengan mendaki Gunung Pusuk Buhit. Kegiatan tersebut dilakukan di sela rangkaian kunjungan kerjanya di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu, Hasto menyelami nilai-nilai luhur warisan leluhur Batak yang diyakini sejalan dengan semangat Pancasila.
Kunjungan ke Pusuk Buhit bukan sekadar aktivitas fisik mendaki gunung. Bagi masyarakat Batak, khususnya yang menghuni wilayah Danau Toba dan sekitarnya, gunung yang berada di Pulau Samosir ini menyimpan makna sakral dan historis yang mendalam. Secara mitologis, Pusuk Buhit dikenal sebagai tempat asal-usul leluhur suku Batak, yakni Sang Raja Batak, sehingga lokasi ini menjadi simbol identitas, spiritualitas, dan jati diri bangsa bagi komunitas yang meyakininya.
Makna Spiritual dan Budaya di Pusuk Buhit
Hasto Kristiyanto tampak memberikan perhatian serius terhadap dimensi historis dan spiritual yang melekat pada Pusuk Buhit. Dalam tradisi kepercayaan masyarakat setempat, gunung ini bukan hanya bentang alam biasa, melainkan ruang suci yang menghubungkan dimensi sakral leluhur dengan kehidupan generasi masa kini. Ritual-ritual adat dan ziarah ke puncaknya kerap dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pencarian berkah.
Dalam konteks kebangsaan, ziarah semacam ini juga dimaknai sebagai upaya reactualisasi nilai-nilai lokal yang menjadi fondasi bercengkeramnya ideologi Pancasila. Konsep hamoraon (kemakmuran), hagabeon (keselamatan/keturunan), dan hasangapon (kehormatan) dalam falsafah Batak, misalnya, memiliki korelasi kuat dengan sila-sila dalam Pancasila, terutama dalam kerangka membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat.
"Ziarah ke Pusuk Buhit adalah bagian dari pembelajaran hidup berbangsa. Spiritualitas leluhur Batak mengandung nilai-nilai luhur yang sejalan dengan semangat Pancasila, yakni kebersamaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia," ujar Hasto Kristiyanto saat berada di lokasi.
Kunjungan Kerja dan Penguatan Jaringan Kultural
Di luar dimensi personal dan spiritual, kehadiran Hasto Kristiyanto di Samosir juga memiliki muatan politis-kultural. Sebagai Sekjen partai politik dengan basis massa terbesar di Indonesia, PDIP secara konsisten mengedepankan pendekatan kultural dalam setiap langkah politiknya. Kunjungan ke daerah-daerah yang kaya akan warisan adat dan tradisi menjadi bagian dari strategi memperkuat relasi dengan masyarakat lokal sekaligus menegaskan komitmen partai terhadap keberagaman.
Kabupaten Samosir sendiri merupakan wilayah yang tidak hanya menawarkan potensi pariwisata luar biasa, tetapi juga menjadi gudangnya sejarah peradaban Batak. Dengan melakukan ziarah ke Pusuk Buhit, Hasto seolah ingin menegaskan bahwa politik nasional tidak bisa lepas dari akar budaya daerah. Setiap kebijakan dan arah pembangunan harus mampu membaca serta menghargai konteks lokal yang menjadi identitas pengikat masyarakat.
Menariknya, kegiatan ini dilakukan di sela-sela padatnya agenda kunjungan kerja Hasto di Sumatera Utara. Jadwal yang cukup padat tersebut tidak menyurutkannya untuk menyempatkan diri menyatu dengan alam dan tradisi. Hal ini menunjukkan kesadaran politiknya akan pentingnya grounding di tengah masyarakat, bukan hanya dalam tataran formal administratif, melainkan juga dalam ranah emosional dan spiritual bersama rakyat.
Pancasila dalam Perspektif Adat Batak
Pemikiran Hasto terkait keterkaitan spiritualitas leluhur Batak dengan Pancasila bukan tanpa dasar. Dalam tatanan adat Batak, terdapat prinsip dalihan na tolu yang mengajarkan tentang sistem keseimbangan dan keadilan sosial. Prinsip ini mencerminkan semangat gotong royong dan musyawarah untuk mufakat yang juga menjadi jiwa dalam Sila ke-4 Pancasila. Selain itu, penghormatan terhadap orang tua dan leluhur dalam adat Batak merezonansi dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dengan mendaki dan berziarah ke Pusuk Buhit, Hasto turut mengingatkan publik bahwa Pancasila tidaklah sesuatu yang abstrak dan mengambang. Ideologi negara tersebut hadir dan hidup dalam praktik-praktik keseharian, dalam ritual adat, dalam falsafah kehidupan masyarakat pedalaman, serta dalam setiap langkah ziarah yang menyatukan batin dengan sang pencipta dan leluhur.
Kegiatan ziarah budaya ini juga menjadi penegasan bahwa politik identitas dan politik kebangsaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan apabila dibangun di atas fondasi pemahaman dan penghormatan terhadap keragaman warisan nusantara. Hasto Kristiyanto, melalui langkahnya di Pusuk Buhit, mencontohkan bagaimana seorang elite politik dapat sekaligus menjadi pelajar sejarah dan spiritualitas di negeri ini.
[SOCIAL_TWEET]: Hasto Kristiyanto ziarah ke Pusuk Buhit, Selami Nilai Spiritual Leluhur Batak dan Pancasila 🏔️🇮🇩 #HastoKristiyanto #PusukBuhit #PDIP[SOCIAL_TG]: 📍 Samosir — Hasto Kristiyanto Ziarah ke Pusuk Buhit, Selami Nilai Spiritual Leluhur. Baca detail ziarah budaya dan kaitannya dengan Pancasila di artikel berikut.Let me check word count. The draft seems around 450-500 words. I need to expand to minimum 600 words.
Comments (0)