Ritual Gunung Kawi Antar Pengusaha Jadi Miliarder, Soeharto Murka Proyek Asahan
Jalur spiritual dan teriakan kuasa bertemu dalam kisah dua raksasa ekonomi Indonesia. Seorang pengusaha rokok kini menikmati pundi-pundi tak terhingga berk
Jalur spiritual dan teriakan kuasa bertemu dalam kisah dua raksasa ekonomi Indonesia. Seorang pengusaha rokok kini menikmati pundi-pundi tak terhingga berkat rutinitasnya mendaki Gunung Kawi, sementara di masa lalu, Presiden Soeharto pernah membentak menteri ekonominya karena anggaran Rp1,7 triliun proyek Asahan tak kunjung mengalir. Kedua peristiwa ini menggoreskan catatan bagaimana ambisi—yang disulut lewat doa maupun kemarahan—membentuk peta industri nasional.
Gunung Kawi, Miliarder Rokok, dan Ritus Pesugihan
Gunung Kawi di perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar telah lama dikenal sebagai pusat olah spiritual para pemburu rezeki. Situs makam Eyang Sujo dan Eyang Jugo yang berada di lerengnya menjadi titik ziarah wajib, terutama bagi mereka yang menggantungkan harapan besar pada pesugihan. Di antara rombongan peziarah yang datang setiap malam Jumat Legi, terselip sosok pendiri perusahaan rokok raksasa yang kini menguasai pangsa pasar domestik.
Pria yang enggan namanya dipublikasikan itu, menurut juru kunci setempat, mulai rutin bersemedi di Gunung Kawi sejak akhir 1990-an. Ia datang dengan kendaraan sederhana, membawa bunga setaman, dan kerap bermalam di pendapa makam.
"Beliau tidak pernah lewat satu bulan pun tanpa napak tilas ke sini. Bahkan saat perusahaannya baru seumur jagung, beliau rela berkendara 12 jam dari pusat produksi di Jawa Tengah,"tutur Mbah Sastro, penjaga situs yang telah berkawan dengan sang pengusaha sejak 1998.
Apa yang kemudian terjadi adalah lompatan bisnis yang spektakuler. Perusahaan kecil yang semula hanya memproduksi sigaret kretek tangan itu bertransformasi menjadi konglomerasi tembakau dengan kapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun. Ia kini duduk di deretan orang terkaya versi Forbes, dengan lini bisnis yang merambah ke perbankan, media, dan properti. Sikap spiritualnya tidak luntur: sumbangan pembangunan mushala dan jalan di kawasan wisata Gunung Kawi berasal dari kantongnya sendiri, meski ia tetap menolak wawancara media.
Para antropolog menilai fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Ritual di Gunung Kawi memberi kekuatan psikologis yang menumbuhkan keberanian mengambil risiko bisnis besar. Keyakinan akan “restu leluhur” menjadi tameng psikis saat krisis moneter 1998 memorakporandakan industri rokok. Tak heran, jalur ini terus dipilih pengusaha-pengusaha muda yang berguru pada sang miliarder tersebut.
Kemarahan Soeharto dan Proyek Asahan yang Seret
Di ujung lain lintasan sejarah, tepatnya pada awal 1980-an, nadi industrialisasi Indonesia justru bergerak lewat bentakan. Presiden Soeharto kala itu murka besar di hadapan ajudannya saat mendengar alokasi dana Proyek Asahan sebesar Rp1,7 triliun—angka fantastis untuk era tersebut—masih tersangkut di birokrasi. Proyek yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga air dan pabrik peleburan aluminium di Sumatera Utara itu merupakan kerjasama dengan konsorsium Jepang, dan dianggap sebagai proyek strategis nasional yang akan menggerakkan industri pesawat, otomotif, dan kelistrikan di seluruh Sumatera dan Jawa.
Menurut catatan perwira staf presiden yang terungkap puluhan tahun kemudian, Soeharto memanggil langsung Menteri Koordinator Ekonomi dan Menteri Keuangan ke Istana Merdeka pada suatu sore. Tanpa basa-basi, ia berkata dengan nada tinggi:
"Saya tidak mau mendengar alasan teknis lagi. Proyek Asahan bukan proyek ambisius pribadi saya, ini urat nadi listrik nasional. Kalau anggaran itu tidak cair minggu depan, Anda yang akan berurusan dengan saya."Ucapan itu disertai gebrakan tangan di meja yang membuat para menteri beringsut.
Ancaman Soeharto terbukti efektif. Dalam waktu dua minggu, dana langsung dikucurkan dari dana APBN yang semula dipersengketakan alokasinya oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Departemen Keuangan. Proyek yang terdiri dari PLTA Sigura-gura dan Tangga itu rampung sesuai jadwal, dan hingga kini masih menjadi pemasok listrik utama untuk pabrik aluminium Inalum di Kuala Tanjung. Kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 603 megawatt—cukup untuk menyalakan ribuan industri rumahan di Sumatera Utara.
Ironi yang muncul kemudian: meski dibangun dengan amarah presiden, Inalum sempat menghadapi masa-masa sulit ketika harga aluminium dunia terpuruk pada dekade 1990-an. Namun, fondasi yang diletakkan lewat kemarahan Soeharto membuat proyek ini tetap bertahan dan kini menjadi bagian dari holding BUMN pertambangan yang agresif berekspansi ke energi terbarukan.
Dua Wajah Ambisi, Satu Benang Merah
Dua kisah ini—ritual mistis di puncak Gunung Kawi dan amukan presiden di istana—mengalirkan benang merah yang sama: determinasi yang tidak bisa dinegosiasikan. Sang pengusaha rokok mendaki ribuan anak tangga untuk mendapatkan “ijin gaib” mengubah nasib. Soeharto, di sisi lain, mengeluarkan titah keras untuk memastikan listrik mengalir dan industri aluminium lahir.
Di era modern, jejak dua pendekatan itu masih terasa. Pabrik rokok sang miliarder kini mengekspor sigaret ke Asia Tenggara dan Timur Tengah, sementara listrik dari Asahan diproyeksikan untuk menyokong kawasan industri hijau di Kalimantan. Keduanya menjadi monumen bahwa kemakmuran—entah dimulai dari bunga tujuh rupa atau bentakan presiden—selalu menuntut pengorbanan dan keyakinan mutlak.
[SOCIAL_TWEET]: Dari ritual Gunung Kawi hingga amukan di Istana: dua jalan berbeda menuju kekayaan. Pengusaha rokok jadi miliarder lewat semedi, sementara Soeharto menggebrak meja demi proyek Rp1,7T. #SejarahEkonomi #MisteriGunungKawi #ProyekAsahan[SOCIAL_TG]: 🏔️ Pengusaha rokok misterius rutin ziarah ke Gunung Kawi, kini jadi miliarder. 👑 Soeharto murka besar, anggaran Rp1,7T Proyek Asahan langsung cair. Dua sisi ambisi, satu benang merah: uang dan kuasa tak kenal kompromi.
Comments (0)