Indonesia Incar Pendanaan Global US$ 260 Juta untuk Perkuat Konservasi Laut
Jakarta — Indonesia mendapat angin segar dalam upaya melindungi kekayaan bahari. Pemerintah berpeluang mengantongi dukungan pendanaan internasional hingga US$ 260 juta melalui beragam skema kerja s
Jakarta — Indonesia mendapat angin segar dalam upaya melindungi kekayaan bahari. Pemerintah berpeluang mengantongi dukungan pendanaan internasional hingga US$ 260 juta melalui beragam skema kerja sama. Dana segar ini direncanakan untuk mendanai program-program strategis seperti konservasi terumbu karang, restorasi ekosistem laut yang rusak, dan pengembangan Ocean Centres atau pusat-pusat pengetahuan kelautan.
Kepastian ini mengemuka setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan secara resmi empat komitmen baru Indonesia pada panggung Konferensi Kelautan Dunia, Our Ocean Conference (OOC) ke-11 yang berlangsung di Mombasa, Kenya. Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin dan pemangku kepentingan kelautan global itu, delegasi Indonesia memaparkan peta jalan ambisius negara kepulauan ini dalam memperkuat tata kelola laut berkelanjutan.
Menurut laporan yang diterima media kami, keempat komitmen tersebut menjadi fondasi strategis untuk membuka akses pendanaan multilateral. Komitmen pertama mencakup penguatan pengelolaan ruang laut secara terpadu dan berbasis sains. Indonesia akan memastikan setiap aktivitas di wilayah perairan nasional, mulai dari sektor perikanan, pariwisata, hingga pelayaran, mematuhi prinsip keberlanjutan yang ketat.
Komitmen kedua berfokus pada perluasan dan peningkatan efektivitas kawasan konservasi laut. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki jaringan kawasan konservasi yang luas, namun tantangan dalam hal pendanaan operasional dan pengawasan masih menjadi pekerjaan rumah. Melalui skema baru ini, pemerintah berharap dapat menutup celah tersebut sekaligus memperkuat perlindungan area-area dengan keanekaragaman hayati tinggi.
"Empat komitmen yang kami sampaikan hari ini menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim," ujar Menteri Trenggono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Komitmen ketiga menyentuh aspek inovasi pendanaan iklim via pengembangan karbon biru. Ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun diakui sebagai penyerap karbon alami yang sangat potensial, dan Indonesia memiliki stok sumber daya yang melimpah. Dengan skema ini, Indonesia dapat menerima insentif finansial dari negara-negara maju atau lembaga donor yang ingin berkontribusi pada pengurangan emisi global.
Adapun komitmen keempat berkaitan dengan pengembangan Ocean Centres, yaitu pusat riset dan edukasi kelautan yang tersebar di berbagai wilayah. Pusat-pusat ini direncanakan menjadi wadah kolaborasi riset antara ilmuwan dalam negeri dan internasional guna mencari terobosan dalam mengatasi krisis iklim dan polusi laut. Total potensi pendanaan US$ 260 juta tersebut diproyeksikan mengalir melalui berbagai kanal, termasuk hibah langsung, kerja sama teknis bilateral, serta pendanaan campuran dari sektor filantropi global. Pemerintah optimistis kepercayaan dunia terhadap komitmen konservasi Indonesia akan memuluskan proses negosiasi pendanaan sepanjang tahun 2026.
Comments (0)