Harga Emas Antam Anjlok Rp14.000, Terendah Sepekan pada 9 Juli 2026
JAKARTA, Beritainti — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melanjutkan tren koreksi pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Berdasa
JAKARTA, Beritainti — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melanjutkan tren koreksi pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga jual emas Antam turun Rp14.000 per gram, menetap di level Rp1.382.000 per gram—sekaligus menjadi posisi terendah dalam tujuh hari perdagangan terakhir.
Pelemahan ini menambah akumulasi koreksi sebesar Rp26.000 dalam dua hari berturut-turut, setelah pada Rabu (8/7) harga sudah merosot Rp12.000 dari posisi Rp1.408.000 per gram. Dengan pergerakan ini, emas Antam kini mencatatkan pelemahan 1,85 persen sejak awal pekan, mencerminkan tekanan yang cukup signifikan di pasar logam mulia domestik.
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini
Penurunan harga terjadi secara merata di seluruh denominasi produk emas batangan Antam. Berikut daftar harga terkini yang berlaku di butik Logam Mulia per 9 Juli 2026:
- Emas 0,5 gram: Rp741.000 (turunan Rp7.000)
- Emas 1 gram: Rp1.382.000 (turunan Rp14.000)
- Emas 2 gram: Rp2.702.000 (turunan Rp28.000)
- Emas 3 gram: Rp4.042.000 (turunan Rp42.000)
- Emas 5 gram: Rp6.695.000 (turunan Rp70.000)
- Emas 10 gram: Rp13.335.000 (turunan Rp140.000)
- Emas 25 gram: Rp33.175.000 (turunan Rp350.000)
- Emas 50 gram: Rp66.275.000 (turunan Rp700.000)
- Emas 100 gram: Rp132.475.000 (turunan Rp1.400.000)
- Emas 250 gram: Rp330.875.000 (turunan Rp3.500.000)
- Emas 500 gram: Rp661.475.000 (turunan Rp7.000.000)
- Emas 1000 gram: Rp1.322.875.000 (turunan Rp14.000.000)
Sementara itu, harga buyback—harga yang ditetapkan Antam untuk pembelian kembali emas dari konsumen—juga mengalami koreksi serupa sebesar Rp14.000, kini berada di level Rp1.235.000 per gram. Seluruh harga di atas belum termasuk pajak penghasilan (PPh 22) yang berlaku, di mana konsumen wajib menambahkan 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP untuk setiap transaksi pembelian.
Analisis: Tekanan Eksternal dan Dinamika Dolar AS
Koreksi harga emas hari ini bertepatan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 105,6, menguat 0,34 persen dalam 24 jam terakhir. Hubungan invers antara dolar dan emas sudah menjadi hukum pasar: ketika greenback menguat, emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan melemah.
"Pasar mencerna data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi. Non-farm payrolls pekan lalu menunjukkan penambahan 320.000 lapangan kerja, jauh di atas konsensus 195.000. Ini memperkuat narasi bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga," ujar analis komoditas dari Beritainti Research.
Dalam konteks makro, ekspektasi suku bunga tinggi adalah racun bagi emas. Logam mulia tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga ketika obligasi pemerintah AS menawarkan yield menarik—saat ini US Treasury 10-tahun berada di 4,72 persen—daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi melemah drastis.
Dari sisi permintaan fisik, data terbaru dari World Gold Council menunjukkan permintaan emas Tiongkok, konsumen terbesar dunia, mengalami kontraksi 4,2 persen year-on-year pada kuartal II-2026. Pelemahan ekonomi Tiongkok yang masih berkepanjangan menjadi faktor struktural yang membebani harga emas global.
Outlook: Peluang Rebound atau Koreksi Berlanjut?
Secara teknikal, level support kritis emas Antam kini berada di kisaran Rp1.365.000 per gram. Jika tertembus, bukan tidak mungkin harga akan menguji level psikologis Rp1.350.000—posisi yang terakhir kali disentuh pada Oktober 2025. Sebaliknya, level resistance jangka pendek berada di Rp1.408.000, sekaligus menjadi target rebound jika sentimen berbalik positif.
Investor perlu mencermati rilis data inflasi indeks harga konsumen (IHK) AS bulan Juni yang akan dipublikasikan besok malam. Jika inflasi menunjukkan penurunan meyakinkan, peluang pemangkasan suku bunga The Fed kembali terbuka, yang berpotensi menjadi katalis penguatan emas. Namun, jika inflasi masih membandel, tekanan jual kemungkinan berlanjut hingga akhir pekan ini.
"Ini bisa menjadi momen akumulasi bagi investor jangka panjang. Secara historis, koreksi 10-15 persen dalam siklus bullish emas justru menjadi titik masuk strategis. Tapi timing sangat krusial—saya sarankan untuk mencicil secara bertahap daripada langsung borong penuh," ujar analis Beritainti Research.
Comments (0)