Gonzales Sesalkan Absennya Kambuaya di Piala AFF 2026
Keputusan mengejutkan dibuat oleh pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman, saat mengumumkan skuad final untuk Piala AFF 2026. Nama Ricky Kambuaya, gelandang serba bisa yang selama ini menjadi an...
Keputusan mengejutkan dibuat oleh pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman, saat mengumumkan skuad final untuk Piala AFF 2026. Nama Ricky Kambuaya, gelandang serba bisa yang selama ini menjadi andalan, tidak tercantum dalam daftar. Absennya pemain berusia 30 tahun itu segera memicu gelombang diskusi di antara pengamat, dan yang paling vokal menyuarakan kekecewaan adalah mantan striker ikonik tim nasional, Cristian Gonzales. Ia menilai bahwa peran Kambuaya sangat vital dan tak tergantikan oleh profil pemain lain yang dibawa Herdman.
Kejutan di Lini Tengah Garuda
Skuad yang diumumkan pada awal pekan ini memunculkan sejumlah nama baru, tetapi juga meninggalkan lubang besar di sektor gelandang serang. Kambuaya, yang terakhir tampil penuh selama 90 menit dalam laga uji coba kontra Thailand bulan lalu dengan catatan 92% akurasi umpan dan 3 umpan kunci, dianggap sebagai kreator utama dari kedalaman. Dalam 10 penampilan terakhirnya bersama timnas, ia menyumbang 2 gol dan 4 assist, angka yang menempatkannya sebagai salah satu gelandang paling produktif di era Herdman. Keputusan mencoretnya pun dipertanyakan, terutama karena sang pemain tidak dilaporkan mengalami cedera.
Herdman dalam konferensi pers menyebutkan bahwa dirinya ingin membangun skema permainan yang lebih vertikal dengan transisi cepat. Untuk itu, ia memilih gelandang dengan profil fisik lebih eksplosif, seperti Marselino Ferdinan dan Ramai Rumakiek yang diplot sebagai poros ganda. Namun, Gonzales menolak pandangan bahwa Kambuaya tidak cocok dengan filosofi itu. "Ricky adalah pemain yang bisa mengendalikan tempo. Dia tidak perlu berlari secepat sprinter karena dia membaca permainan dua langkah lebih awal," ujar Gonzales dalam sesi analisis di kanal pribadinya, Selasa malam.
Statistik yang Terabaikan
Jika menilik data, absennya Kambuaya meninggalkan kekosongan yang sulit diisi. Dalam 15 laga terakhir Timnas Indonesia, saat Kambuaya menjadi starter, rata-rata penguasaan bola mencapai 56% dan tim mampu menciptakan 13,7 tembakan per pertandingan. Tanpanya, angka itu merosot ke 48% penguasaan dan hanya 8,2 tembakan per laga. Perbedaannya signifikan, terutama pada aspek progressive passes di sepertiga akhir lapangan. Kambuaya mencatatkan rata-rata 4,1 umpan progresif per 90 menit, unggul jauh dari kandidat penggantinya yang hanya mencatat 1,9 umpan progresif dalam periode yang sama.
Lebih lanjut, kemampuan Kambuaya dalam menjaga sirkulasi bola di bawah tekanan tinggi menjadi krusial. Saat menghadapi pressing lawan, pilar Persebaya Surabaya ini mencatat 86% keberhasilan dribel dalam situasi tertekan, yang kerap menjadi titik awal serangan balik berbahaya. Gonzales menyoroti aspek itu secara spesifik. "Kita butuh pemain yang tetap tenang saat dikepung dua-tiga lawan. Ricky punya visi untuk kemudian melepaskan umpan mematikan ke ruang kosong. Itu senjata yang sekarang hilang," tambahnya.
Pandangan Oposisi dan Respons Publik
Tidak hanya Gonzales, sejumlah analis juga meragukan pilihan Herdman. Mantan pelatih timnas U-23, Bima Sakti, turut mengomentari bahwa Kambuaya adalah tipe pemain yang sulit di-scout lawan karena fleksibilitasnya. Ia mampu berperan sebagai gelandang kotak ke kotak, gelandang serang, bahkan false nine saat tim membutuhkan gol. Di Piala AFF 2024 lalu, Kambuaya tampil impresif dengan raihan rata-rata 2,3 intercept dan 1,8 tekel sukses per laga—dua angka yang menunjukkan bahwa kontribusinya tidak hanya terbatas pada ofensif.
Spekulasi mulai mengarah pada dugaan ketidakcocokan taktik personal. Beberapa sumber dekat dengan tim menyebutkan bahwa Herdman menginginkan gelandang dengan lungsuran bertahan lebih disiplin, mengingat rencana memakai tiga bek. Namun, Gonzales menepis alasan itu dengan data: Kambuaya justru punya etos kerja defensif yang tinggi, terbukti dari 11,2 km jarak tempuh rata-rata per pertandingan—tertinggi kedua di antara gelandang timnas musim lalu. "Kalau argumennya soal defense, saya tidak paham. Ricky itu gelandang paling rajin membantu full-back," kritik Gonzales dengan nada kecewa.
Dampak Tersembunyi dan Jalan Berikutnya
Ketiadaan Kambuaya diperkirakan akan menyulitkan skema build-up Garuda. Tanpa dirinya, opsi umpan pendek terstruktur di fase awal serangan berkurang drastis. Herdman mungkin dipaksa mengandalkan bola-bola panjang langsung ke lini depan, yang selama ini bukan ciri khas tim. Pelatih asal Inggris itu telah menyatakan akan mengandalkan Witan Sulaeman dan Dedik Setiawan untuk menjadi kreator kedua dari sayap. Namun, Gonzales ragu: "Witan lebih suka menusuk ke dalam, bukan mengatur ritme. Kita berisiko kehilangan kontrol di lini tengah, seperti yang terjadi di laga uji coba terakhir."
Publik sepakbola tanah air pun terbelah. Tagar #BringBackKambuaya sempat menjadi trending topic di media sosial, mencerminkan keinginan suporter agar Herdman meninjau ulang keputusannya. Meski demikian, regulasi Piala AFF tidak mengizinkan perubahan skuad kecuali karena cedera yang dibuktikan medis. Artinya, pintu bagi Kambuaya tampaknya sudah tertutup untuk turnamen yang akan dimulai dua pekan mendatang. Fokus kini beralih pada bagaimana lini tengah yang direformasi akan menjawab keraguan itu di pertandingan perdana melawan Vietnam.
Gonzales menutup pernyataannya dengan nada yang lebih tenang namun penuh makna. "Saya berharap timnas tetap sukses, tapi sebagai mantan pemain, saya ingin keputusan diambil berdasarkan visi yang utuh, bukan eksperimen mendadak. Ricky adalah aset, dan aset tidak seharusnya disia-siakan," pungkasnya. Laga nanti akan menjadi pembuktian—apakah absennya Kambuaya memang strategi jitu Herdman atau justru blunder yang akan diingat panjang.
Comments (0)