Gempa M 4,5 Guncang Melonguane, Sulawesi Utara, Kedalaman 10 Kilometer
Melonguane, Sulawesi Utara, kembali diguncang gempa bumi tektonik pada Senin dini hari (29/6/2026) pukul 00.57 WIB. Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang
Melonguane, Sulawesi Utara, kembali diguncang gempa bumi tektonik pada Senin dini hari (29/6/2026) pukul 00.57 WIB. Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dihimpun media kami, gempa tercatat berkekuatan Magnitudo 4,5 dengan titik pusat berada di 225 kilometer arah barat laut Melonguane.
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer. Koordinat titik gempa belum dirilis secara spesifik, namun data awal memastikan bahwa aktivitas seismik ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Meskipun demikian, warga diimbau untuk tetap waspada dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
Guncangan Terasa Hingga Permukiman Pesisir
Getaran gempa dilaporkan dirasakan secara terbatas di beberapa titik permukiman pesisir di sekitar Kabupaten Kepulauan Talaud. Beberapa warga yang diwawancarai media kami mengaku merasakan goncangan ringan yang berlangsung kurang dari lima detik, namun cukup untuk membuat mereka beranjak dari tempat tidur. "Saya langsung terbangun karena tempat tidur terasa berayun pelan, untungnya hanya sebentar dan tidak ada kerusakan," ujar Ronal, seorang warga Melonguane.
Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BPBD Sulawesi Utara segera berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk memantau situasi di lapangan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun luka-luka akibat gempa ini. Tim reaksi cepat masih terus melakukan pendataan di wilayah-wilayah terluar.
Aktivitas Seismik di Zona Subduksi Ganda
Wilayah perairan utara Sulawesi merupakan zona seismik aktif karena berada pada pertemuan lempeng. Melonguane dan sekitarnya terletak di dekat sistem subduksi ganda yang melibatkan Lempeng Laut Maluku. Kondisi geologis ini menjadikan kawasan tersebut rawan terhadap gempa bumi dangkal, seperti yang terjadi pada dini hari tadi. Sepanjang tahun 2025 hingga 2026, BMKG setidaknya mencatat puluhan kejadian gempa dengan magnitudo kecil hingga menengah di koridor yang sama.
Gempa dengan kedalaman hanya 10 kilometer diklasifikasikan sebagai gempa dangkal. Jenis gempa ini biasanya menghasilkan guncangan yang lebih terasa di permukaan meskipun magnitudonya relatif kecil. Ahli kegempaan dari stasiun pemantau lokal mengingatkan bahwa rangkaian gempa serupa kerap terjadi sebagai bagian dari adaptasi tegangan kulit bumi. "Kami terus memonitor potensi gempa susulan, walaupun biasanya gempa dengan kekuatan segini tidak memicu aktivitas yang lebih besar," tulis BMKG melalui kanal resmi yang dipantau media kami.
BMKG mengajak masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi dari sumber resmi dan tidak menyebarluaskan kabar yang tidak jelas asal-usulnya. Warga yang membutuhkan informasi terkini dapat mengakses situs BMKG atau kanal-kanal sosial media yang terverifikasi. Selain itu, pengetahuan mitigasi bencana seperti cara berlindung di bawah meja kuat dan menjauhi bangunan tinggi ketika gempa terjadi, tetap menjadi kunci utama keselamatan.
Comments (0)