EMTEK Perkuat Komitmen Kehijauan Lewat Ikrar Keanekaragaman Hayati
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) menegaskan kembali langkah strategisnya di panggung keberlanjutan nasional. Perusahaan teknologi, media, dan infrastruktur digital ini baru saja meresmikan Ikrar...
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) menegaskan kembali langkah strategisnya di panggung keberlanjutan nasional. Perusahaan teknologi, media, dan infrastruktur digital ini baru saja meresmikan Ikrar Keanekaragaman Hayati sekaligus menunjuk para Sustainability Champions yang akan menjadi ujung tombak di masing-masing lini bisnis. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa EMTEK tidak sekadar mengejar pertumbuhan digital, tetapi juga bertanggung jawab menjaga keseimbangan ekologis yang semakin rentan.
Komitmen Menyeluruh Melampaui Bisnis Inti
Selama lima tahun terakhir, EMTEK konsisten membangun fondasi hijau. Pada 2022, perusahaan mencatat penurunan emisi karbon operasional sebesar 18% melalui efisiensi energi di pusat data dan gedung kantor, serta mendaur ulang lebih dari 1.200 ton limbah elektronik. Kini, ikrar biodiversitas menjadi pilar berikutnya yang diselaraskan dengan standar global Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD). "Kami tidak bisa memisahkan bisnis dari alam. Infrastruktur digital yang kami bangun membutuhkan ekosistem yang sehat," ujar Direktur Utama EMTEK, Budi Santoso, dalam seremoni di Jakarta, Senin (14/7).
Ikrar tersebut mencakup empat komitmen utama: proteksi habitat kritis di sekitar area operasional, pemulihan ekosistem terdegradasi, pengarusutamaan kebijakan rantai pasok bebas deforestasi, serta pelibatan aktif masyarakat adat dan lokal dalam konservasi. EMTEK mengalokasikan dana awal Rp75 miliar untuk fase pilot di tiga lanskap prioritas: kawasan karst Pacitan, hutan mangrove di pesisir Semarang, dan koridor gajah Sumatra di Riau. Pendekatan ini diharapkan mampu melindungi lebih dari 12.000 hektar area bernilai konservasi tinggi hingga 2027.
Sustainability Champions: Ujung Tombak Perubahan Internal
Bersamaan dengan ikrar itu, EMTEK menunjuk 47 Sustainability Champions dari divisi operasi, sumber daya manusia, keuangan, teknik, hingga produksi konten. Mereka berasal dari 12 entitas anak usaha, termasuk SCTV, Indosiar, Vidio, dan infrastruktur telekomunikasi. Para champion ini akan menjalani pelatihan sertifikasi ESG (Environmental, Social, and Governance) selama enam bulan, kemudian bertanggung jawab menyusun peta jalan keberlanjutan di unit masing-masing, memonitor metrik dampak lingkungan, serta mengedukasi rekan kerja.
Kehadiran mereka bukan sekadar seremonial. Setiap champion memiliki target terukur: pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di kantor sebesar 50% dalam setahun, peningkatan efisiensi air 15% di fasilitas produksi, serta penetrasi narasi lingkungan di 20% total jam tayang program televisi grup EMTEK. Tim produksi konten, misalnya, didorong untuk memasukkan episode atau segmen khusus seputar keanekaragaman hayati. Data internal menunjukkan bahwa selama kuartal pertama 2025, program-program bertema lingkungan yang tayang di platform EMTEK telah meraih rata-rata share penonton 15,7%, naik 4 poin dari tahun sebelumnya. Artinya, publik semakin peduli dan bisnis pun dapat berjalan beriringan.
Melindungi Alam, Membangun Ekonomi
Di lanskap Pacitan, EMTEK bermitra dengan LSM lokal dan pemerintah daerah untuk merestorasi 2.500 hektar lahan karst yang rusak akibat penambangan liar. Selain konservasi, program ini menciptakan 350 lapangan kerja hijau di sektor ekowisata dan pertanian regeneratif. Di Semarang, penanaman 500.000 bibit mangrove akan mengurangi abrasi sekaligus membuka sumber penghasilan baru lewat budi daya kepiting dan udang windu. Sementara di Riau, pemasangan drone pemantau dan penanaman 100.000 pohon lokal diharapkan dapat memitigasi konflik manusia-gajah yang meningkat 22% dalam satu dekade terakhir.
Chief Sustainability Officer EMTEK, Rina Marlina, menekankan bahwa ikrar ini akan terintegrasi ke dalam sistem manajemen perusahaan dan dilaporkan secara transparan dalam laporan tahunan. "Setiap tahun kami akan mengukur dampaknya terhadap indikator-indikator seperti peningkatan tutupan lahan, penurunan konflik satwa, dan kesejahteraan masyarakat. Kami juga membuka ruang bagi publik untuk mengakses progresnya melalui dasbor daring," jelasnya.
Dengan langkah ini, EMTEK bergabung dengan segelintir perusahaan Indonesia yang mengadopsi kerangka kerja nature-positive secara sukarela dan terukur. Di tengah disrupsi iklim dan krisis biodiversitas, ikrar tersebut menjadi cetak biru bahwa transformasi digital harus beriringan dengan perlindungan alam. Bukan hanya untuk mematuhi regulasi, tetapi karena masa depan bisnis bergantung pada planet yang sehat.
Comments (0)