Eks Gelandang West Brom Quevin Castro Wafat Usai Kolaps di Lapangan
Dunia sepak bola kembali diselimuti kabar duka. Quevin Castro, mantan gelandang West Bromwich Albion, meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah kolaps di tengah pertandingan saat membela klub barunya...
Dunia sepak bola kembali diselimuti kabar duka. Quevin Castro, mantan gelandang West Bromwich Albion, meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah kolaps di tengah pertandingan saat membela klub barunya, Real Massamá, di Portugal. Kejadian tragis ini menjadi pengingat pahit betapa tipisnya jarak antara lapangan hijau dan hidup mati seorang atlet, sekaligus menghentikan perjalanan karier yang baru saja dimulai sang pemain di Negeri C. Ronaldo.
Momen Kelam di Lapangan
Insiden terjadi ketika laga sedang berjalan. Castro, yang hari itu tercatat mengisi salah satu slot di starting XI Real Massamá, tiba-tiba ambruk tanpa kontak berarti dengan pemain lawan. Rekan setim yang berada paling dekat langsung menyadari ada yang tidak beres — sang gelandang tidak bergerak, dan isyarat tangan meminta pertolongan medis pun segera dikibarkan. Tim medis bergegas masuk lapangan, pertandingan dihentikan, dan seluruh pemain dari kedua kubu berdiri mengelilingi area kejadian, menyaksikan dengan wajah cemas.
Upaya pertolongan pertama dilakukan secepat mungkin di tempat, sebelum Castro dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun kabar yang paling ditakuti semua orang akhirnya datang: nyawa pemain berusia 25 tahun itu tidak tertolong. Klub dan otoritas setempat kemudian mengonfirmasi kepergiannya, dan laga yang sempat berhenti itu tidak pernah lagi dilanjutkan. Skor akhir menjadi hal kedua yang tak lagi penting di hadapan tragedi sebesar ini.
Perjalanan Karier: Jebolan Akademi West Brom
Quevin Castro bukan nama asing di akademi sepak bola Inggris. Ia tumbuh dari jenjang usia muda di West Bromwich Albion, klub asal West Midlands yang bermarkas di The Hawthorns. Beroperasi di lini tengah, Castro dikenal dengan visi permainan yang tenang dan kemampuannya membagi bola dari kedalaman — tipe deep-lying playmaker yang mengatur ritme dan tempo permainan timnya.
Puncak perjalanannya di Inggris terjadi ketika ia berhasil menembus tim utama The Baggies. Castro menjalani debut seniornya pada awal 2022, tampil di ajang piala sebelum akhirnya diberi kesempatan merasakan atmosfer Championship. Memang, jumlah penampilannya bersama tim utama tidak banyak — bisa dihitung dengan jari — namun setiap menit bermain yang ia dapatkan adalah bukti bahwa lulusan akademi tetap bisa menembus level tertinggi klub. Namanya sempat disebut-sebut sebagai salah satu prospek yang dinanti perkembangannya di West Brom.
Dari Inggris ke Portugal demi Menit Bermain
Bagi pemain muda, menit bermain adalah segalanya. Setelah masa baktinya di West Brom usai, Castro memutuskan menyeberang ke Portugal untuk mencari kesempatan tampil lebih rutin. Ia bergabung dengan Real Massamá, klub yang berbasis di kawasan sekitar Lisbon, dengan harapan membangun karier dari panggung sepak bola Portugal — negeri yang terkenal subur melahirkan gelandang-gelandang bertalenta dunia.
Keputusan itu masuk akal secara taktik. Filosofi sepak bola Portugal yang mengedepankan penguasaan bola dan sirkulasi umpan pendek sangat cocok dengan gaya bermainnya. Sayangnya, babak baru kariernya di Portugal justru berakhir sebelum sempat berkembang. Castro baru beberapa kali mengenakan jersey Real Massamá ketika tragedi itu merenggut nyawanya — sebuah akhir yang terlalu cepat bagi pemain yang masih memiliki banyak panggung untuk ditaklukkan.
Duka yang Menyelimuti Dunia Sepak Bola
Kepergian Castro meninggalkan duka mendalam, terutama bagi dua klub yang pernah menjadi rumahnya. West Bromwich Albion ikut menyampaikan belasungkawa, mengenang gelandang muda yang pernah berseragam biru-putih itu, sementara Real Massamá kehilangan pemain yang baru saja menjadi bagian dari rencana mereka musim ini. Pesan duka berdatangan dari berbagai penjuru — rekan setim, mantan pelatih, hingga suporter yang pernah menyaksikannya berlaga di tribün.
Tragedi semacam ini selalu memicu pertanyaan besar tentang keamanan pemain di lapangan. Deteksi dini kondisi jantung, kehadiran defibrillator di pinggir lapangan, serta prosedur medis darurat kembali menjadi sorotan. Namun yang tak kalah penting adalah pengingat bahwa di balik jersey, statistik, dan taktik, ada manusia muda yang sedang mengejar mimpi. Mimpi Quevin Castro berhenti terlalu dini di usia 25 tahun.
Selamat jalan, Quevin Castro. Catatan statistikmu memang tidak gemuk, tetapi perjalananmu dari akademi West Brom hingga lapangan-lapangan Portugal adalah cerita perjuangan yang pantas dikenang selamanya.
Comments (0)