La Liga 2024/2025: Real Madrid Kampiun, Pichichi Milik Lewandowski

Skor akhir 3-0. Santiago Bernabéu bergemuruh saat peluit panjang mengakhiri duel Real Madrid kontra Getafe pada jornada ke-34. Kemenangan itu bukan sekadar tiga poin — itulah tiket menuju puncak kl...

Aug 24, 2026 - 09:38
0 0
La Liga 2024/2025: Real Madrid Kampiun, Pichichi Milik Lewandowski

Skor akhir 3-0. Santiago Bernabéu bergemuruh saat peluit panjang mengakhiri duel Real Madrid kontra Getafe pada jornada ke-34. Kemenangan itu bukan sekadar tiga poin — itulah tiket menuju puncak klasemen yang tak lagi bisa dikejar. Dengan hasil tersebut, Los Blancos mengunci gelar juara La Liga musim 2024/2025, trofi liga ke-37 dalam sejarah klub, dengan empat laga tersisa. Malam itu penguasaan bola Madrid tercatat 61 persen, shots on target unggul telak 7-2, dan Thibaut Courtois menutup laga dengan clean sheet untuk kali ke-19 musim ini.

Menit ke-35, Kylian Mbappé membuka skor lewat penyelesaian first-time memanfaatkan umpan terobosan Vinícius Junior. Enam menit berselang, sundulan Antonio Rüdiger menggandakan keunggulan dari skema sepak pojok. Fran García melengkapi pesta di menit ke-66 dengan tendangan kaki kiri dari tepi kotak penalti. Getafe, yang bermain dengan formasi 5-4-1 yang rapat, nyaris tak mampu keluar dari tekanan tinggi Madrid sepanjang babak kedua.

Perjalanan Musim: Kejutan Barcelona di Awal, Dominasi Madrid di Akhir

Musim 2024/2025 tidak dimulai dengan wajah sang juara. Barcelona justru tampil sebagai tim terpanas di Eropa. Puncaknya, El Clásico pertama di Bernabéu pada Oktober berakhir 4-0 untuk tim asuhan Hansi Flick. Menit ke-54, Robert Lewandowski menuntaskan umpan Lamine Yamal; dua menit kemudian ia menggandakan skor. Yamal dan Raphinha menutup pesta di babak kedua. Saat itu, banyak yang meyakini gelar akan kembali ke Camp Nou.

Namun konsistensi berbicara lain. Sejak November, Madrid memenangi delapan dari sepuluh laga. Starting XI andalan Ancelotti — dengan trio Mbappé, Vinícius, dan Rodrygo di lini depan — mulai menemukan ritme. Sebaliknya, Barcelona kehilangan poin di laga-laga kecil: hasil imbang kontra Real Betis dan Celta Vigo, plus kekalahan mengejutkan dari Las Palmas, menjadi noda yang berujung mahal. Jarak di puncak klasemen pun melebar dari dua poin menjadi dua digit.

Duel Pichichi: Lewandowski vs Mbappé

Di papan pencetak gol, musim ini menghadirkan salah satu duel terketat dalam satu dekade terakhir. Lewandowski mengunci trofi Pichichi dengan 28 gol, unggul tipis atas Mbappé yang finis dengan 27 gol di musim perdananya di La Liga. Keduanya juga tercatat sebagai pemain dengan kontribusi gol terbesar: Lewandowski menambahkan 6 assist, sementara Mbappé 5 assist.

Momen paling memukau milik Mbappé: hat-trick ke gawang Real Valladolid pada April lalu, termasuk satu gol dari jarak 25 meter yang lolos dari pantauan VAR sebelum dinyatakan sah. Sementara Lewandowski menunjukkan kelasnya di menit-menit krusial — lima golnya lahir dalam 15 menit terakhir laga, bukti mentalitas pembunuh di kotak penalti.

Analisis Taktik: Formasi, Offside, dan Peran VAR

Dari sisi taktik, dua sekolah sepak bola bertarung sengit. Ancelotti mempertahankan formasi 4-3-3 yang fleksibel, dengan Jude Bellingham turun sebagai interior kiri untuk memberi ruang tembak bagi Mbappé. Madrid menutup musim dengan rata-rata penguasaan bola 57 persen dan akurasi umpan 88 persen. Sebaliknya, Barcelona menerapkan garis pertahanan super tinggi — tim asal Katalan itu memimpin liga dalam statistik menjebak lawan offside, meski paling sering kebobolan dari transisi cepat.

VAR kembali menjadi aktor penting. Puluhan gol dianulir sepanjang musim karena offside milimeter. Salah satunya terjadi di Clásico kedua di Camp Nou yang berakhir 2-2: gol Ferran Torres dianulir pada menit ke-87 setelah pemeriksaan VAR — momen yang membuat Madrid nyaris menyentuh trofi. Statistik kartu kuning musim ini juga naik dibanding musim sebelumnya, dengan rata-rata pelanggaran keras meningkat di papan tengah.

"Gelar ini buah kerja keras seluruh tim. Kami tidak bermain sempurna di awal musim, tapi kami belajar, bertahan, dan menyerang bersama. Ini gelar untuk para penggemar," ujar Carlo Ancelotti seusai laga penentu.

Catatan Penutup dan Proyeksi Musim Depan

Dengan trofi di tangan, Madrid menutup musim dengan rekor impresif: tak terkalahkan dalam 15 laga kandang terakhir dan rata-rata kebobolan di bawah satu gol per laga — pertahanan terbaik liga. Barcelona finis sebagai runner-up dengan salah satu lini serang paling produktif, sementara Atlético Madrid memastikan posisi ketiga. Athletic Club, di bawah Valverde, menutup musim di posisi keempat dan merebut tiket Liga Champions setelah 11 tahun absen.

Pertanyaan besar kini mengarah ke bursa transfer: akankah Mbappé mencapai level baru di musim keduanya? Bisakah Barça mempertahankan Yamal dan Pedri dalam performa puncak? Satu hal yang pasti — peta kekuatan La Liga musim berikutnya akan berubah, dan persaingan diprediksi lebih sengit dari sebelumnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User