Bos PPI Nilai Jokowi Ingin Kunci Duet Prabowo-Gibran 2 Periode Sejak Dini

Jakarta - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai arahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk mengawal pemerintahan Pre

Jul 08, 2026 - 00:14
0 1
Bos PPI Nilai Jokowi Ingin Kunci Duet Prabowo-Gibran 2 Periode Sejak Dini

Jakarta - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai arahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka agar berlangsung selama dua periode adalah manuver politik yang terencana. Menurutnya, langkah tersebut merupakan sinyal kuat bahwa Jokowi ingin mengunci duet Prabowo-Gibran sejak dini untuk melanjutkan pengaruh politiknya di masa depan.

Hal itu disampaikan Adi Prayitno dalam keterangannya kepada media kami, Minggu (21/6/2026). Ia menegaskan bahwa pernyataan Jokowi di hadapan kader PSI bukan sekadar imbauan biasa, melainkan penegasan bahwa mantan Presiden tersebut terus berupaya membangun koalisi permanen dengan pemerintahan saat ini.

Jokowi ingin mengunci duet Prabowo-Gibran sejak dini sekaligus penegasan bahwa Jokowi terus ingin berkoalisi dengan Prabowo,

ujar Adi.

Respons PKS dan Dinamika Politik

Menanggapi hal ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai wajar jika Jokowi menginginkan pemerintahan Prabowo-Gibran berlangsung stabil selama dua periode. Sebelumnya, dalam laporan Beritainti.com, PKS menyampaikan bahwa stabilitas pemerintahan merupakan prasyarat penting bagi pembangunan nasional, sehingga dorongan Jokowi tersebut bisa dipahami. Namun, PKS juga mengingatkan agar seluruh pihak tetap mengedepankan mekanisme demokrasi yang sehat dan tidak terkesan memaksakan kehendak.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai manuver Jokowi ini semakin mempertegas peran politiknya meski sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Upaya untuk mengunci dukungan PSI agar mengawal pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua periode dipandang sebagai strategi menjamin keberlanjutan pengaruhnya di kancah politik nasional. Apalagi, PSI merupakan salah satu partai pendukung utama pemerintah yang memiliki kedekatan historis dengan Jokowi.

Adi Prayitno menambahkan bahwa langkah ini mencerminkan dinamika koalisi yang cair di Indonesia, di mana aliansi politik tidak selalu bersifat permanen, tetapi bisa dibangun melalui serangkaian konsensus dan kepentingan bersama. Dengan “mengunci” duet Prabowo-Gibran sejak dini, Jokowi seolah ingin memastikan bahwa arah kebijakan dan stabilitas politik warisannya akan terus dilanjutkan tanpa gangguan berarti.

Para analis politik dari Beritainti.com mencatat bahwa pernyataan Jokowi ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi tentang arah koalisi menjelang pemilu berikutnya. Meskipun kontestasi elektoral masih cukup jauh, sinyal-sinyal politik semacam ini kerap menjadi penanda awal terbentuknya konfigurasi kekuatan di tingkat elite. Dengan demikian, wajar jika respons dari berbagai partai politik, termasuk PKS, turut mewarnai perdebatan tentang masa depan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana atau lingkar terdekat Prabowo dan Gibran terkait pernyataan Jokowi tersebut. Namun, komunikasi politik yang terbangun antara Jokowi, Prabowo, dan PSI menunjukkan adanya kesepahaman yang semakin kuat di antara para elite, setidaknya untuk jangka menengah. Perkembangan ini akan terus dipantau oleh media kami sebagai bagian dari dinamika politik nasional terkini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Pelaksana. Editor pelaksana dan konsistensi editorial.

Comments (0)

User