Beralih dari Ragunan, Penjual Tikar Semen Mencari Berkah di Puncak HUT Jakarta ke-499
Ratusan ribu warga memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Sabtu (27/6/2026) untuk mengikuti puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta. Di antara lautan manusia itu, tampak Didin (42
Ratusan ribu warga memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Sabtu (27/6/2026) untuk mengikuti puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta. Di antara lautan manusia itu, tampak Didin (42) sibuk merapikan tumpukan tikar berwarna abu-abu di emperan trotoar. Bukan sembarang tikar—alas duduk itu dirajut dari anyaman bekas kantong semen. Pemandangan yang tak biasa di pusat kemewahan Sudirman-Thamrin.
Didin bukan pendatang baru dalam urusan menjajakan tikar. Sehari-hari ia berjualan di dekat gerbang masuk Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, tempat ribuan pengunjung membeli dagangannya untuk piknik keluarga. Namun kali ini ia memilih pindah titik, mengikuti di mana keramaian berpusat. “Kantong semen bekas ini saya kumpulkan dari proyek, lalu dianyam sendiri. Kuat, tahan air, dan harganya murah meriah,” jelasnya seraya menunjuk sebuah tikar yang sudah diberikan lapisan tambahan.
Keputusan Pindah Lantaran Informasi Internet
Kepindahan Didin dari Ragunan ke Bundaran HI bukan tanpa perhitungan. Seminggu sebelumnya, ia mulai mencari informasi tentang acara akbar HUT Jakarta ke-499 melalui gawai butut miliknya. Penelusuran sederhana di mesin pencari dan media sosial memberinya gambaran: panggung budaya, pesta rakyat, dan karnaval akan terpusat di ikon ibu kota tersebut. Ia pun memutuskan untuk mencoba peruntungan di sana.
“Iya, saya biasa di Ragunan, sengaja mau jualan di HI hari ini karena ada HUT Jakarta. Tahunya lewat internet,” ujar Didin ketika ditemui media kami di antara kerumunan pengunjung, Sabtu siang.
Di lokasi, Didin menggelar puluhan tikar semen buatannya dengan harga yang tetap ramah di kantong: Rp15.000 hingga Rp25.000 per lembar, tergantung ukuran. Ia mengaku penjualan di Bundaran HI jauh lebih cepat dibandingkan di Ragunan. Dalam dua jam saja, setengah barang dagangannya sudah ludes diborong pengunjung yang kehausan tempat duduk untuk menonton pertunjukan.
Banjir Pesanan di Tengah Alunan Tanjidor
Suasana bertambah semarak ketika Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Wakil Gubernur Rano Karno tiba di lokasi acara. Iringan musik tanjidor menggema, seolah menyatu dengan riuh rendah teriakan pedagang dan pekik histeris warga. Didin memanfaatkan momen tersebut dengan berpindah-pindah titik, menawarkan tikar ke kelompok-kelompok pengunjung yang duduk di aspal panas.
Banyak di antara pembeli yang ternyata sengaja mencari tikar semen karena materialnya yang anti-lembap dan tidak licin. “Kalau tikar plastik biasa gampang robek, ini lebih awet buat duduk-duduk nonton,” kata Rina, salah seorang pembeli yang bersama keluarganya datang dari Bekasi. Keunggulan itulah yang membuat Didin optimistis meraup pendapatan dua kali lipat dari hari biasa di Ragunan—capaian yang sulit ia dapatkan jika tetap bertahan di pasar satwa.
Meski sempat khawatir terkena penertiban Satpol PP, Didin mengaku sudah meminta izin kepada koordinator lapangan acara. Ia diarahkan ke jalur khusus pedagang kreatif yang menjual barang ramah lingkungan. “Alhamdulillah, petugas malah mendukung karena tikar saya kan dari daur ulang,” lanjutnya sambil tersenyum.
Hingga sore menjelang, dagangan Didin hampir seluruhnya habis. Uang ratusan ribu rupiah pun terkumpul. Baginya, momentum HUT Jakarta tidak sekadar perayaan, melainkan berkah ekonomi yang hanya datang setahun sekali. Esok hari, ia berjanji kembali ke Ragunan dengan modal baru, sekaligus membawa cerita sukses melampaui batas zona nyamannya.
Comments (0)