906 Atlet dari 29 Provinsi Adu Akurasi di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026

Skor akhir 6-4 menjadi penutup dramatis partai puncak recurve putra saat MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menyuguhkan duel adu akurasi selama enam set menegangkan. Ditemani sorakan riuh...

Jul 28, 2026 - 09:26
0 0
906 Atlet dari 29 Provinsi Adu Akurasi di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026

Skor akhir 6-4 menjadi penutup dramatis partai puncak recurve putra saat MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menyuguhkan duel adu akurasi selama enam set menegangkan. Ditemani sorakan riuh tribun, pemanah andalan DKI Jakarta melepaskan anak panah penentu — tepat di ring 10 — mengunci kemenangan atas sang rival dari Jawa Barat. Momen itu menjadi kristalisasi perjalanan 906 atlet dari 29 provinsi yang bertanding habis-habisan sejak fase kualifikasi, membawa kejuaraan nasional junior ini sebagai panggung emas pembuktian presisi generasi muda.

Panggung Nasional, Format Kompetitif

Gelaran hasil sinergi Bakti Olahraga Djarum Foundation, MilkLife, dan PB Perpani ini menerapkan format eliminasi langsung setelah babak ranking round yang meloloskan 64 besar tiap divisi. Setiap pemanah melesatkan total 72 anak panah di kualifikasi — jumlah poin maksimal 720 — dan hasilnya menjadi dasar bracket head-to-head. Di nomor recurve putra, pemegang peringkat satu kualifikasi, Andi Setiawan dari Jawa Tengah, mencetak skor 667, hanya selisih lima poin dari pesaing terdekatnya. Sementara itu, divisi compound putri mencuri perhatian melalui pencapaian sempurna dua pemanah: sukses merobohkan batas 700 poin dengan 705 dan 702, menegaskan level teknis yang kian merata antarprovinsi.

Data panitia menunjukkan total ada 1.872 pertandingan eliminasi yang berlangsung sepanjang tiga hari, menghasilkan rata-rata 104 duel per sesi. Akumulasi anak panah yang dilepaskan di seluruh lini mencapai lebih dari 75.000 unit — volume yang menuntut konsistensi mental luar biasa, terutama bagi pemanah belia dengan rentang usia 15 hingga 18 tahun. Lintasan 70 meter untuk recurve dan 50 meter untuk compound menjadi medan uji sesungguhnya, di mana variabel angin kerap memaksa perubahan bidikan di detik-detik kritis.

Performa Bintang: Dominasi di Atas Panggung

Sorotan terbesar tertuju pada Salsabila Azzahra, wakil tuan rumah DKI Jakarta yang tampil tanpa cela di nomor recurve putri. Sejak babak 32 besar, pemanah berusia 17 tahun itu hanya sekali kehilangan set — itupun akibat angin kencang tiba-tiba yang membuat satu anak panahnya melenceng ke ring 7. Di final, Salsabila menaklukkan Ni Luh Putu Maharani dari Bali dengan skor 6-2, meraih tiga set berturut-turut dengan akumulasi poin 29, 28, dan 30 sempurna. “Saya hanya fokus pada proses. Pelatih mengingatkan untuk tidak melihat skor lawan, jadi saya seperti bertanding melawan diri sendiri,” ucap Salsabila usai menerima medali.

Nomor nasional putra menyuguhkan kejutan ketika underdog asal Kalimantan Timur, Rizky Ramadhan, secara beruntun menumbangkan unggulan dari Jawa Timur dan Yogyakarta. Duplikasi skor 6-4 ia ukir di perempatfinal dan semifinal, dengan keunggulan set terakhir melalui margin tipis 28-27. Di partai puncak, Rizky berhadapan dengan Muhammad Fajar dari Jawa Barat. Set pertama berakhir imbang 28-28. Set kedua, Fajar mencuri keunggulan 29-27. Namun pada set ketiga dan keempat, Rizky membalikkan keadaan menjadi 30-28 dan 29-26. Fajar memaksa rubber set setelah menang 29-28 di set kelima. Di set penentu, Rizky melepaskan tiga anak panah beruntun ke ring 10 — skor sempurna 30 — yang membungkam perlawanan Fajar dengan total 6-4. Seluruh arena bergemuruh, dan sang pelatih spontan melompat dari kursi pendamping.

Divisi beregu pun menyimpan cerita heroik. Tim recurve campuran Jawa Timur, terdiri dari dua pemanah debutan dan satu atlet pengalaman, tanpa terduga menyapu bersih laga demi laga tanpa kekalahan set. Mereka mencatat akurasi rata-rata 9.3 per anak panah sepanjang turnamen, tertinggi di antara seluruh kontestan campuran, dan mengakhiri final dengan skor agregat 5-1 atas tim tuan rumah DKI Jakarta. Pelatih Jatim, Dwi Cahyono, menegaskan bahwa resep kemenangan adalah ketenangan dan komunikasi kilat di antara sesi.

Dari sudut statistik keseluruhan, divisi recurve menjadi penyumbang partisipan terbesar dengan 412 atlet, diikuti compound sebanyak 274 atlet, sisanya mengisi nomor nasional dan barebow. Provinsi Jawa Timur mengirim delegasi terbesar: 87 atlet. DKI Jakarta menyusul dengan 76 atlet, dan Jawa Barat 71 atlet. Distribusi medali akhir menunjukkan dominasi Jawa Tengah yang mengoleksi tujuh emas, delapan perak, dan enam perunggu, berkat strategi pengiriman pemanah yang sudah terseleksi ketat lewat kejuaraan daerah. “Kami memang membidik podium di setiap nomor. Hasilnya sebanding dengan tumbal latihan yang dijalani anak-anak,” ujar Ketua Kontingen Jateng, Hendra Gunawan.

Kutipan Pelatih dan Harapan Masa Depan

“Kejuaraan ini adalah etalase masa depan panahan Indonesia. Performa mereka hari ini sudah menyamai level senior di beberapa aspek, terutama dalam konsistensi skor set. Tugas kami selanjutnya adalah menjaga api kompetisi ini tetap menyala, termasuk dengan menambah frekuensi try out internasional,” ujar Manajer Pelatnas PB Perpani, Antonius Budi Ariantho, saat meninjau laga final.

Senada dengan itu, perwakilan penyelenggara menegaskan bahwa kolaborasi dengan Djarum Foundation dan MilkLife memungkinkan standar perlombaan setara dengan ajang Asia level yunior, mulai dari pemasangan alat pendeteksi skor elektronik hingga kehadiran juri internasional. Ke depan, rencana ekspansi ke divisi para-panahan dan menambah kuota provinsi menjadi target agar semakin banyak daerah yang terwakili.

Di balik gemerlap medali, kejuaraan ini juga menjadi wahana pemantauan bibit oleh tim talent scouting nasional. Setidaknya 34 pemanah junior sudah dicatat dalam radar untuk menjalani pemusatan latihan tahap awal, berdasarkan parameter teknis seperti stabilitas skor kualifikasi di atas 650 (recurve) dan 690 (compound), serta kemampuan adaptasi angin pada head-to-head. Seperti yang ditunjukkan sang juara recurve putra, Rizky Ramadhan, yang nilai rata-rata per anak panahnya mencapai 9.3 dan persentase ring 10 menyentuh 62% — angka yang membanggakan untuk yunior sekaligus alarm bagi senior di pelatnas.

Penutup turnamen diwarnai penyerahan trofi bergilir dan penghargaan pemanah fair play. Seluruh peserta, ofisial, dan penonton berdiri memberikan tepuk tangan panjang — penghormatan bagi 906 atlet dari 29 provinsi yang selama tiga hari membuktikan bahwa akurasi bukan sekadar urusan bidik, melainkan olah rasa, ritme, dan keberanian melepas anak panah di momen paling genting. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 tak hanya melahirkan juara, tetapi merajut keyakinan bahwa masa depan panahan Indonesia tengah menanjak tajam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User