Penalti Dua Sentuhan Alvarez Bikin Atletico Gugur dari Liga Champions

Atletico Madrid 1-0 Real Madrid (agregat 2-2, adu penalti 2-4). Skor akhir itu tercatat rapi di papan elektronik Metropolitano Stadium, Madrid, Kamis (13/03/2025), tetapi malam itu tidak akan dikenang...

Aug 25, 2026 - 02:26
0 0
Penalti Dua Sentuhan Alvarez Bikin Atletico Gugur dari Liga Champions

Atletico Madrid 1-0 Real Madrid (agregat 2-2, adu penalti 2-4). Skor akhir itu tercatat rapi di papan elektronik Metropolitano Stadium, Madrid, Kamis (13/03/2025), tetapi malam itu tidak akan dikenang karena angka. Satu nama yang menjadi sorotan dunia justru Julian Alvarez, eksekutor penalti yang sepakannya dianulir VAR karena dua sentuhan — keputusan yang memupus langkah Rojiblancos di babak 16 besar Liga Champions 2024/2025.

Dengan ketinggalan 1-2 dari leg pertama di Santiago Bernabeu, Atletico memasuki laga kedua dengan misi sederhana: menang minimal satu gol. Mereka berhasil menjalankan skrip tersebut selama 120 menit penuh, namun lotere dari titik penalti berbalik menjadi mimpi buruk ketika hukum dasar eksekusi penalti mengkhianati sang penyerang Argentina.

Gallagher Bangkitkan Metropolitano pada Menit ke-27

Diego Simeone menurunkan starting XI dengan formasi 4-4-2 klasik: Jan Oblak di bawah mistar, lini tengah padat diisi Koke dan Pablo Barrios, sementara Alvarez berduet dengan Antoine Griezmann di ujung tombak. Carlo Ancelotti menjawab dengan struktur 4-3-3 — Kylian Mbappe sebagai penyerang tunggal, didukung Vinicius Junior dan Rodrygo di sektor sayap.

Tekanan awal tuan rumah akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-27. Sepakan dari luar kotak penalti mengenai tubuh bek dan memantul tepat ke arah Conor Gallagher. Tanpa banyak mengolah bola, gelandang Inggris itu melepaskan tembakan first-time rendah yang tak mampu dibaca Thibaut Courtois. Metropolitano meledak, agregat berubah 2-2, dan seluruh momentum berpindah ke kubu merah-putih.

Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola Atletico 47 persen dengan empat shots on target, sementara Courtois dipaksa bekerja keras dengan dua penyelamatan penting. Wasit juga telah mencatat dua kartu kuning bagi kedua tim sebelum turun minum, sinyal bahwa duel derbi ini benar-benar memanas di tengah lapangan.

Oblak Jaga Clean Sheet, Los Blancos Frustrasi 120 Menit

Masuk babak kedua, Ancelotti menggeser bentuk tim menjadi lebih ofensif. Penguasaan bola Real Madrid naik hingga kisaran 58 persen dengan gelombang serangan lewat kombinasi Mbappe dan Vinicius. Sebuah umpan terakhir Mbappe nyaris menjadi assist cantik, sayangnya masih bisa diblok lini pertahanan Atletico. Setiap percobaan lainnya selalu berakhir di tangan Oblak — kiper Slovenia itu tampil gemilang dan menjaga clean sheet hingga 120 menit, termasuk penyelamatan krusial menepis tembakan keras Vinicius menjelang menit ke-70.

Vinicius sendiri dua kali terjebak perangkap offside yang dirancang rapi oleh blok rendah Atletico, bukti disiplin taktik Simeone bekerja efektif. Sang pelatih merespons tekanan dengan menghadirkan napas segar: Angel Correa, Rodrigo De Paul, dan Rodrigo Sorloth masuk bergantian untuk menjaga intensitas pressing.

Dua puluh menit extra time berlalu tanpa gol. Total shots on target Atletico terhenti di angka enam, Real Madrid lima. Tidak ada pemenang dalam waktu normal maupun tambahan — semua diputuskan dari titik penalti.

Drama Titik Putih: Ketika Regulasi Mengkhianati Alvarez

Rodrigo Sorloth menjalankan tugas sebagai eksekutor pertama Atletico dengan tenang, disusul Saul Niguez yang tak gentar. Di kubu putih, Mbappe, Jude Bellingham, dan Federico Valverde sama-sama tampil dingin di bawah tekanan luar biasa.

Lalu datang giliran kedua Atletico: Julian Alvarez. Pencetak gol tunggal timnya di leg pertama itu berlari, terpeleset sedikit, dan kakinya menyentuh bola dua kali dalam satu gerakan — sentuhan pertama dengan kaki kiri, disusul kaki kanan sebelum bola sempat melambung. Wasit awalnya menunjuk titik tengah sebagai tanda gol sah, namun setelah proses review VAR yang panjang, keputusan dibalik: gol dianulir sesuai regulasi yang melarang eksekutor menyentuh bola lebih dari sekali.

Kejutan itu mengubah psikologi adu penalti. Marcos Llorente kemudian hanya membentur tiang gawang, dan ketika Antonio Rudiger maju sebagai eksekutor keempat Real Madrid, bek veteran itu menyelesaikan pekerjaan: 4-2, Los Blancos melaju ke perempat final.

Saya belum menonton ulang secara detail apakah bola menyentuh dua kaki yang berbeda. Yang pasti, anak-anak saya sudah memberikan segalanya selama 120 menit. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi kepala kami tetap tegak.

Demikian ungkapan Simeone dalam konferensi pers pasca laga, merangkum malam pahit yang tak akan cepat dilupakan para pendukung Atletico.

Bagi Real Madrid, kemenangan ini memperpanjang dominasi atas rival sekotanya di panggung Eropa. Menanti mereka di perempat final adalah Arsenal, sementara Atletico pulang dengan kepala tertunduk — tersingkir oleh tetangga sendiri, lewat cara yang paling menyakitkan: satu sentuhan berlebih dari titik penalti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User