Yamal Berpesta, Spanyol Gulung Arab Saudi di Piala Dunia 2026
Atlanta Stadium bergemuruh pada Senin (22/6/2026) dini hari WIB ketika Spanyol memastikan tempat di fase gugur Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Arab Saudi dalam laga pamungkas Gr...
Atlanta Stadium bergemuruh pada Senin (22/6/2026) dini hari WIB ketika Spanyol memastikan tempat di fase gugur Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Arab Saudi dalam laga pamungkas Grup H. Di atas lapangan yang basah oleh hujan ringan Georgia, bintang remaja Lamine Yamal menjadi pusat perhatian usai mencatatkan dwigol yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain paling elektrik di turnamen ini.
Babak Pertama: Dominasi Mutlak La Roja
Sejak peluit pertama dibunyikan oleh wasit asal Argentina, Facundo Tello, Spanyol langsung mengambil inisiatif dengan formasi 4-3-3 cair. Gavi, Pedri, dan Rodri mengurung lini tengah Arab Saudi yang hanya mencatatkan 31% penguasaan bola sepanjang 45 menit pertama. Statistik shots on target pun kontras: 6 berbanding 0 untuk keunggulan Spanyol.
Gol pembuka lahir pada menit ke-18 melalui serangan terstruktur. Nico Williams menusuk dari sisi kiri, melepaskan umpan tarik yang sempat dibelokkan bek Abdullah Al-Hamdan sebelum bola jatuh di kaki Yamal. Tanpa ragu, pemain FC Barcelona itu melepaskan tembakan first-time dari luar kotak penalti yang meluncur deras ke sudut kiri bawah gawang yang dikawal Mohammed Al-Owais. Gol tersebut menjadi gol ke-5 Yamal di sepanjang karier Piala Dunianya, hanya dalam dua edisi.
Arab Saudi mencoba merespons lewat serangan balik cepat yang dimotori Salem Al-Dawsari, namun duet bek tengah Pau Torres dan Aymeric Laporte tampil solid. Tercatat, Al-Dawsari hanya sekali menyentuh bola di dalam kotak penalti Spanyol sepanjang babak pertama, dan itupun berhasil dimentahkan oleh kiper Unai Simón.
Babak Kedua: Lamine Yamal Show
Selepas turun minum, pelatih Hervé Renard memasukkan Firas Al-Buraikan untuk menambah daya gedor, tetapi Spanyol justru makin trengginas. Menit ke-54, kombinasi satu-dua apik antara Pedri dan Yamal di sisi kanan pertahanan Saudi berujung pada penetrasi Yamal ke dalam kotak 16. Bek kiri Yasser Al-Shahrani terlambat menutup ruang, dan Yamal dengan tenang menceploskan bola di antara kaki Al-Owais. Skor menjadi 2-0.
Ekspresi Yamal setelah gol kedua itu menjadi sorotan utama: ia berlari ke sudut lapangan, mengangkat kedua tangan, lalu melakukan selebrasi khas dengan gestur “mendengarkan” seisi stadion. Atlanta Stadium yang dihuni 71.000 penonton pun meledak. Tepuk tangan panjang mengiringi aksinya yang malam itu mencatatkan 7 dribel sukses, 3 umpan kunci, dan 5 tembakan dengan 4 mengarah ke gawang.
Menit ke-71, Spanyol menambah keunggulan lewat sundulan Joselu memanfaatkan sepak sudut Dani Olmo. Assist tersebut menjadi assist keempat Olmo di Piala Dunia 2026, menjadikannya kreator serangan paling produktif di Grup H. Meski tertinggal tiga gol, Arab Saudi tak menyerah dan nyaris mencetak gol hiburan pada menit ke-83 saat tendangan jarak jauh Nawaf Al-Abed membentur mistar gawang Simón.
Papan Statistik Penuh Dominasi
Angka akhir tidak berbohong. Spanyol menutup laga dengan penguasaan bola 68 persen, total 19 tembakan (9 on target), dan 92% akurasi umpan. Sementara Arab Saudi hanya mampu melepaskan 4 tembakan sepanjang laga tanpa satu pun tepat sasaran. Kartu kuning tunggal diterima Alex Baena karena pelanggaran taktis, menjadi satu-satunya noda dalam permainan bersih Spanyol. Tanpa drama VAR dan offside yang minimal, pertandingan ini berjalan dalam tempo tinggi tapi terkendali.
Kemenangan ini memastikan Spanyol memuncaki Grup H dengan koleksi 9 poin sempurna, unggul selisih gol atas Kanada yang finis di posisi kedua. Sementara itu, Arab Saudi harus pulang lebih awal setelah hanya mengemas satu poin dari tiga laga. Pelatih Luis de la Fuente memuji performa anak asuhnya, terutama Yamal. Dalam jumpa pers usai laga, De la Fuente mengatakan bahwa Yamal adalah “aset generasi yang tak hanya menentukan masa kini, tetapi juga masa depan sepakbola Spanyol.”
Yamal dan Rekor di Depan Mata
Dengan dwigol ini, Lamine Yamal kini mengoleksi 6 gol di putaran final Piala Dunia, melampaui catatan legenda Brasil, Pelé, yang mencetak 6 gol di usia 21 tahun. Yamal sendiri masih berusia 18 tahun 11 bulan pada pertandingan ini, menjadikannya pencetak gol terbanyak di bawah usia 20 tahun dalam sejarah turnamen. Di ruang ganti, rekan-rekannya memberikan penghormatan khusus dengan menandatangani bola pertandingan yang kemudian diserahkan kepada sang wonderkid.
Pertanyaan berikutnya: akankah Yamal mampu membawa Spanyol melampaui pencapaian semifinal edisi lalu? Dengan performa seperti ini, La Roja jelas menjadi salah satu unggulan serius di fase gugur. Lawan mereka di babak 16 besar baru ditentukan malam ini dari Grup G, namun atmosfer di skuat Spanyol sedang berada di puncak kepercayaan diri—berkat malam ajaib di Atlanta yang akan dikenang sebagai malam ketika Yamal menuliskan namanya dengan tinta emas di panggung dunia.
Comments (0)