Euforia Juara Dunia Berubah Ricuh, Leandro Paredes Jadi Biang Keladinya
NEW JERSEY — Skor akhir Argentina 3-2 Prancis usai perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium. La Albiceleste mencatatkan gelar juara dunia ketiga dalam empat edisi terakhir, na...
NEW JERSEY — Skor akhir Argentina 3-2 Prancis usai perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium. La Albiceleste mencatatkan gelar juara dunia ketiga dalam empat edisi terakhir, namun euforia trofi itu nyaris ternoda total. Begitu peluit panjang dibunyikan, kericuhan pecah di sekitar lapangan dan terowongan stadion — dan nama Leandro Paredes disebut sebagai pemicu utamanya.
Laga itu sendiri berjalan dramatis. Lionel Scaloni menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3: Emiliano Martínez di bawah mistar, lini belakang Molina–Romero–Otamendi–Tagliafico, trio tengah De Paul–Enzo Fernández–Mac Allister, dengan trident Lautaro Martínez–Julián Álvarez–Messi di depan. Menit ke-14, Messi mengirim umpan terobosan dari ruang tengah, Lautaro menyambutnya dengan tendangan first-time yang menembus sudut jauh Mike Maignan. 1-0, assist kelima Messi di turnamen ini.
Babak Pertama: Tempo Sengit, Statistik Ketat
Prancis tidak panik. Les Bleus membalas lewat serangan balik cepat. Menit ke-38, Ousmane Dembélé memecah jebakan offside, menerobos ke kotak penalti sebelum mengirim umpan silang datar yang diselesaikan Kylian Mbappé tanpa kesalahan. Skor berubah 1-1. Hingga turun minum, statistik mencatat penguasaan bola Argentina 56 persen berbanding 44 persen, dengan shots on target 4-2 untuk La Albiceleste. Satu kartu kuning sudah keluar untuk Rodrigo De Paul menit ke-29 akibat protes kepada wasit.
Drama 120 Menit di MetLife Stadium
Menit ke-67, kombinasi satu-dua Mac Allister dan Enzo Fernández membuka ruang tembak bagi Julián Álvarez. Sepakan kaki kirinya dari tepian kotak penalti tak mampu dihalau Maignan — 2-1. Clean sheet Emiliano Martínez pun runtuh, kemudian VAR menentukan jalannya laga pada menit ke-86. Wasit memeriksa monitor lapangan untuk kontak tangan Otamendi dan menghadiahkan penalti yang dieksekusi sempurna Mbappé: 2-2, laga melaju ke perpanjangan waktu.
Penentu datang menit ke-104. Tendangan spekulatif Enzo Fernández dari luar kotak penalti membentur tiang dalam sebelum masuk — 3-2 bertahan sampai akhir. Total Argentina mencatat 18 percobaan tendangan dengan 7 shots on target, sementara Prancis membukukan 12 percobaan dan 5 tepat sasaran.
Momen Kericuhan: Apa yang Dilakukan Paredes?
Masalah dimulai beberapa detik setelah peluit panjang. Saat para pemain Argentina berlari ke sudut pendukung, Paredes — yang masuk sebagai pengganti menit ke-78 — diduga melemparkan benda keras ke arah rombongan pemain Prancis yang melintas di dekat garis pinggir. Suasana langsung memanas. Dorong-dorongan pecah melibatkan belasan pemain kedua tim, staf pelatih ikut terlibat, dan petugas keamanan harus membentuk pagar manusia hampir sepuluh menit sebelum situasi terkendali.
Kericuhan menjalar ke area tribun dan luar stadion. Botol air dilemparkan dari tribun atas, dua titik api kecil menyala di concourse, dan aparat terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan di gerbang keluar. Panitia menyebut sedikitnya 23 orang mengalami luka ringan, mayoritas akibat desakan massa.
"Kami mewakili sebuah negara dan harus memberi contoh. Apa yang terjadi setelah peluit panjang tidak bisa saya terima. Saya minta maaf kepada semua pihak," ujar Lionel Scaloni dalam konferensi pers pasca-laga.
Didier Deschamps turut menyoroti insiden itu. "Emosi memang tinggi di final, tetapi ada batas yang tidak boleh dilampaui. Kami kehilangan trofi, bukan berarti kami harus kehilangan rasa hormat," katanya singkat.
FIFA Buka Investigasi, Sanksi Mengintai Paredes
FIFA dikabarkan telah membuka proses disipliner terkait insiden tersebut. Risiko sanksi bagi Paredes terasa nyata mengingat rekam jejaknya: gelandang 32 tahun itu menerima kartu kuning menit ke-71 di final ini, dan namanya beberapa kali mencuat dalam kasus keributan — termasuk insiden pelemparan bola ke arah bangku cadangan lawan pada edisi 2022. Ancaman skorsing kompetisi internasional kini mengintai.
Sementara itu, selebrasi juara berlangsung singkat dan tertutup. Trofi Piala Dunia diangkat Messi bersama kapten alternatifnya dalam suasana yang jauh dari meriah. Malam yang semestinya milik tarian Buenos Aires berakhir dengan laporan polisi, investigasi FIFA, dan satu pertanyaan besar: seberapa berat hukuman bagi Leandro Paredes?
Comments (0)