Washington DC — Trump Ancam Eskalasi Serangan Jika Iran Tak Setop Agresi di Hormuz
Gelombang baru ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran
Gelombang baru ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran dengan ancaman pengeboman yang "jauh lebih parah" apabila Tehran tidak segera menghentikan serangan terhadap kapal komersial di jalur pelayaran strategis tersebut. Pernyataan itu sontak mengguncang pasar minyak dan memicu sentimen risk-off di bursa global.
Pukulan Ganda: Serangan Militer dan Guncangan Pasar
Ancaman Trump bukan sekadar retorika. Sebelumnya, pada Rabu (8/7) malam, CENTCOM mengonfirmasi pelaksanaan gelombang serangan udara yang menargetkan instalasi di pesisir selatan Iran. Media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan di beberapa fasilitas dekat pelabuhan, yang secara langsung maupun tidak langsung mengganggu operasional logistik minyak. Investor pun bereaksi cepat.
- Rabu, 8 Juli – Pukul 22.00 WIB: CENTCOM umumkan "operasi presisi" terhadap simpul-simpul ancaman di pesisir Iran.
- Kamis, 9 Juli – Dini Hari: Harga minyak mentah Brent meroket 4,2% ke US$78,10 per barel, tertinggi dalam tiga bulan, sementara WTI melesat 4,5% menjadi US$73,80.
- Kamis, 9 Juli – Pukul 07.00 WIB: Indeks saham Asia-Pasifik dibuka melemah, Nikkei 225 terkoreksi 1,8%, dan Hang Seng turun 2,1%, dipimpin anjloknya sektor energi dan transportasi.
- Kamis siang: Trump melalui unggahan media sosial mengancam eskalasi lebih lanjut, menekankan "konsekuensi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika Iran tidak menghentikan serangan terhadap kapal di Hormuz.
Hormuz sebagai Urat Nadi Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar 20,5 juta barel minyak per hari, setara dengan hampir 21% konsumsi global. Setiap gangguan, sekecil apa pun, langsung memantik volatilitas harga. Menurut data Energy Information Administration (EIA), pada 2025, lebih dari 80% ekspor minyak mentah Iran dan Irak serta sebagian besar LNG Qatar melintasi selat itu. Jika ketegangan berlanjut, premi risiko geopolitik—yang biasanya menambah US$5–US$10 per barel—bisa bertahan lebih lama.
Pasar juga mencermati pergerakan aset safe haven: harga emas spot naik 1,2% ke US$2.350 per troy ons, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 8 basis poin menjadi 4,12%, menunjukkan buruan investor terhadap keamanan.
Ancaman Lebih Besar untuk Eksportir dan Konsumen
Dari sudut pandang ekonomi makro, ancaman Trump menciptakan skenario "supply shock" tahap dua. Jika serangan terhadap kapal berlanjut, biaya asuransi pelayaran di kawasan Teluk bisa melonjak hingga 300% dari tarif normal, mirip yang terjadi pada krisis tanker 2019. Lonjakan biaya logistik itu akan membebani harga minyak di tingkat konsumen. Negara pengimpor besar seperti India, Jepang, dan Korea Selatan—yang menggantungkan 60–70% kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk—paling rentan. Tekanan inflasi dari sisi energi diprediksi menambah 0,3–0,5 poin persentase pada inflasi inti negara-negara tersebut di kuartal ketiga.
Di sisi lain, negara pengekspor non-OPEC seperti Amerika Serikat (produsen shale) berpeluang mengambil keuntungan jangka pendek melalui peningkatan ekspor LNG dan minyak ringan. Namun, kepastian investasi hulu jangka panjang bisa terganggu jika premi risiko ini membuat kontrak forward lebih mahal.
Respon Kebijakan: Bank Sentral di Persimpangan
Lonjakan harga energi ini terjadi di saat bank sentral utama—Federal Reserve, ECB, dan Bank Indonesia—sedang mencermati penurunan inflasi menuju target. Jika harga minyak bertahan di atas US$80 per barel selama dua bulan, ruang pemangkasan suku bunga di semester kedua akan menyempit. Ekspektasi penurunan Fed fund rate September kini turun dari 70% menjadi 55%, berdasarkan FedWatch Tool CME, karena inflasi energi dikhawatirkan merambat ke biaya transportasi dan pangan.
Bagi Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 40% kebutuhan BBM, kenaikan harga minyak bisa menekan anggaran subsidi energi. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang di atas asumsi APBN 2025 sebesar US$75 per barel akan menambah beban fiskal. Pemerintah perlu mencermati potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi jika situasi memburuk.
Langkah Diplomatik yang Dinanti Pasar
Pelaku pasar kini menanti respons resmi Iran. Jika Tehran memilih jalur diplomatik, premi risiko bisa luntur dan harga minyak kembali ke kisaran US$72 dalam waktu singkat. Namun, jika retalasi terjadi, skenario terburuk adalah gangguan fisik di Selat Hormuz yang memutus hingga 20% suplai global. Dampaknya diperkirakan akan melampaui krisis energi 2022, mendorong harga Brent tembus US$100 per barel dan memicu resesi di negara berkembang pengimpor energi. Di lantai bursa, volatilitas (VIX) naik 15%, menandakan pasar bersiap untuk ketidakpastian lebih panjang.
Comments (0)