Waka MPR Soroti Pentingnya Penerapan Ajaran Tri Pusat Pendidikan

Jakarta, Beritainti.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie, menekankan pentingnya penerapan kembali konsep Tri Pusat

Jul 06, 2026 - 13:47
0 1
Waka MPR Soroti Pentingnya Penerapan Ajaran Tri Pusat Pendidikan

Jakarta, Beritainti.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie, menekankan pentingnya penerapan kembali konsep Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Langkah ini dinilai mendesak untuk memperkuat fondasi sistem pendidikan nasional yang sedang dalam proses pembahasan melalui Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).

Pernyataan tersebut disampaikan Rerie dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI yang diselenggarakan bersama Institut Sarinah. Acara yang mengusung tema ‘Menghidupkan Kembali Tri Pusat Pendidikan’ ini berlangsung di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks DPR/MPR/DPD RI Senayan, Jakarta, pada Kamis (25/6).

Mengembalikan Ruh Pendidikan Nasional

Menurut Rerie, pembahasan RUU Sisdiknas yang saat ini bergulir harus dikembalikan pada pemikiran-pemikiran besar kebangsaan. Ia mengingatkan agar semua pihak tidak melupakan akar filosofi pendidikan Indonesia yang telah diletakkan oleh Ki Hajar Dewantara. Rerie menegaskan, ajaran Tri Pusat Pendidikan yang mengidealkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan kunci untuk membentuk karakter generasi penerus yang tangguh dan berakhlak mulia.

“Kita harus kembali pada gagasan besar Ki Hajar Dewantara. Rumah, sekolah, dan masyarakat adalah tiga pusat yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pendidikan. Jika salah satu pincang, maka pendidikan kita tidak akan utuh,” tegas Rerie di hadapan peserta diskusi.

Tiga Pilar Tak Terpisahkan

Tri Pusat Pendidikan menggariskan bahwa pendidikan pertama dan utama berada di lingkungan keluarga, kemudian diperkuat oleh satuan pendidikan formal, dan disempurnakan dalam kehidupan bermasyarakat. Rerie menyayangkan bahwa selama ini praktik pendidikan nasional cenderung menitikberatkan beban pada sekolah, sementara peran keluarga dan masyarakat semakin tersisihkan. Ia mengajak agar regulasi baru nanti mampu membangun jembatan kokoh di antara ketiga pusat tersebut.

Laporan dari media kami mencatat, diskusi ini juga menggarisbawahi pentingnya keteladanan. Ki Hajar Dewantara meyakini bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses ‘among’ atau pengasuhan yang mengedepankan asah, asih, dan asuh. Nilai-nilai tersebut hanya dapat tumbuh optimal jika ketiga pusat bergerak bersama dalam harmoni.

RUU Sisdiknas Harus Visioner

Rerie berharap agar RUU Sisdiknas yang baru tidak terjebak pada perdebatan administratif semu. Ia mendorong agar undang-undang itu dirancang untuk menjawab tantangan zaman yang kian kompleks, termasuk derasnya arus informasi digital yang dapat menggerus moral peserta didik. Kekuatan keluarga sebagai benteng karakter serta pelibatan masyarakat secara nyata harus diakomodasi dalam pasal-pasal regulasi tersebut.

“Pendidikan kita butuh ekosistem, bukan sekadar sistem. Ekosistem itu hidup ketika rumah, sekolah, dan masyarakat sama-sama merasa memiliki dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diserap oleh para pengambil kebijakan. Beritainti.com akan terus menyajikan perkembangan pembahasan RUU Sisdiknas serta respons berbagai pemangku kepentingan terhadap upaya menghidupkan kembali ajaran Tri Pusat Pendidikan yang relevan sepanjang masa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Pelaksana. Editor pelaksana dan konsistensi editorial.

Comments (0)

User