Uskup Anglikan Peringatkan Lonjakan Fasisme Ekstrem Kanan di Inggris

Eskalasi ketegangan sosial dan politik di Inggris kian memasuki fase mengkhawatirkan seiring meningkatnya aktivitas kelompok ekstrem kanan yang memanfaatka

Sep 10, 2026 - 20:12
0 0
Uskup Anglikan Peringatkan Lonjakan Fasisme Ekstrem Kanan di Inggris

Eskalasi ketegangan sosial dan politik di Inggris kian memasuki fase mengkhawatirkan seiring meningkatnya aktivitas kelompok ekstrem kanan yang memanfaatkan narasi keagamaan. Uskup Gereja Anglikan secara terbuka menyuarakan peringatan keras mengenai kebangkitan fasisme di negara tersebut, menyusul serangkaian aksi demonstrasi agresif bermuatan anti-imigran yang menyasar wilayah pelabuhan pesisir selatan Inggris baru-baru ini.

Kritik tajam tersebut dilontarkan oleh Arun Arora, Uskup Kirkstall di Leeds, yang mengecam apa yang ia sebut sebagai "teologi sesat" yang dipraktikkan oleh kelompok-kelompok yang melabeli diri mereka sebagai patriot Kristen. Fenomena pembajakan simbol-simbol keagamaan untuk melegitimasi kebencian rasial dinilai sebagai indikator kuat dari normalisasi ideologi fasis di ruang publik.

Manipulasi Simbol Agama oleh Kelompok Ekstremis

Dalam unjuk rasa di pelabuhan pesisir selatan tersebut, sekelompok agitator bertopeng dan berpakaian serba hitam melakukan intimidasi terhadap kedatangan para migran. Aksi ini dipimpin oleh Daniel "Danny Tommo" Thomas, sosok yang dikenal luas sebagai mantan pengawal aktivis sayap kanan radikal Tommy Robinson. Para demonstran terdengar meneriakkan slogan keagamaan, termasuk seruan "Christ is King", untuk membenarkan aksi permusuhan mereka.

"Menggunakan nama Kristus untuk menebarkan kebencian dan permusuhan terhadap mereka yang rentan adalah bentuk penyelewengan ajaran iman yang berbahaya. Ini bukan patriotisme, melainkan manifestasi dari fasisme yang mulai bangkit kembali," tegas Uskup Arun Arora dalam pernyataan sikapnya.

Secara analitis, adopsi retorika nasionalisme Kristen oleh kelompok sayap kanan Inggris menandai pergeseran taktik yang signifikan. Jika sebelumnya gerakan ekstremis lebih banyak mengandalkan narasi sekuler seputar nativisme dan beban ekonomi, kini mereka mulai meminjam elemen teologis untuk menciptakan legitimasi moral semu dan menarik simpati demografi yang lebih luas.

Eskalasi Sentimen Anti-Imigran di Pelabuhan

Ketegangan di pintu-pintu masuk migrasi Inggris mencerminkan polarisasi yang semakin akut di tengah masyarakat. Beberapa poin kunci yang melatarbelakangi eskalasi ini meliputi:

  • Mobilisasi Aksi Jalanan Terorganisir: Kelompok vigilante tidak lagi bergerak secara sporadis, melainkan membentuk barisan terstruktur dengan atribut visual yang intimidatif.
  • Eksploitasi Isu Penyeberangan Selat: Wilayah pesisir selatan menjadi panggung utama narasi populis akibat intensitas penyeberangan perahu kecil oleh pencari suaka.
  • Keterlibatan Tokoh Kunci Ekstremis: Figur-figur yang terafiliasi dengan jejaring radikal lama kembali mengonsolidasikan basis massa melalui platform digital.

Tantangan Polarisasi Sosial dan Penegakan Hukum

Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi aparat penegak hukum dan pemerintah Inggris. Batasan antara kebebasan berekspresi dan ujaran kebencian yang berpotensi memicu kekerasan fisik kian kabur. Ketika kelompok ekstremis mulai mengadopsi taktik vigilante dengan memantau fasilitas pelabuhan secara mandiri, risiko benturan horizontal dengan aparat maupun kelompok masyarakat sipil menjadi sangat tinggi.

Peringatan dari pimpinan Gereja Anglikan menegaskan bahwa ancaman terhadap kohesi sosial Inggris tidak lagi bersifat laten. Jika pembiaran terhadap retorika fasis berkedok agama terus berlanjut, stabilitas demokrasi dan prinsip kemanusiaan yang dianut Inggris berpotensi mengalami kemunduran struktural yang sulit dipulihkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User