Universitas Airlangga — Fermentasi Gulma Air Jadi Pakan Ikan Murah
Di balik gemericik air tambak dan senyum tipis pembudidaya ikan, ada cerita klasik tentang biaya pakan yang terus mencekik. Selama bertahun-tahun, para pet
Di balik gemericik air tambak dan senyum tipis pembudidaya ikan, ada cerita klasik tentang biaya pakan yang terus mencekik. Selama bertahun-tahun, para petambak—dari skala kecil di Sidoarjo hingga perusahaan akuakultur di Jawa Timur—harus mengalokasikan 60–70% biaya operasional hanya untuk pakan komersial. Kini, secercah harapan datang dari laboratorium Universitas Airlangga (Unair) lewat inovasi yang tak terduga: fermentasi gulma air liar bernama alligator weed (Alternanthera philoxeroides) menjadi pakan ikan yang murah dan bergizi.
Inovasi Berbasis Tanaman yang Menjawab Jeritan Biaya
Tim peneliti Unair berhasil membuktikan bahwa gulma yang kerap dianggap tanaman pengganggu di saluran irigasi itu bisa disulap menjadi pakan alternatif. Melalui proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat, kandungan protein kasar alligator weed melonjak hingga 22–25%, mendekati kadar protein pakan komersial yang rata-rata 26–30%. Biaya produksinya hanya sekitar Rp 2.800–3.200 per kilogram, jauh di bawah harga pakan pabrikan yang menembus Rp 11.000–13.000 per kilogram di tingkat petambak.
“Alligator weed sebenarnya sudah lama dimanfaatkan sebagai pakan ternak di beberapa negara, tapi kami mengoptimalkan fermentasi untuk meningkatkan palatabilitas dan daya cerna ikan air tawar,” ujar Dr. Rina Wijayanti, ketua tim peneliti Unair.
Dampak Ekonomi: Mengurangi Beban Petambak Kecil
Inovasi ini punya efek berganda yang langsung terasa di lapangan. Dengan mensubstitusi 30–40% pakan komersial menggunakan pakan fermentasi gulma air, total biaya pakan per siklus budidaya bisa turun hingga 35%. Bagi petambak lele dengan biaya pakan sekitar Rp 2,5 juta per bulan, penghematan mencapai Rp 800 ribu–1 juta per bulan. Uang yang tersisa bisa dialihkan untuk menambah bibit, memperbaiki infrastruktur tambak, atau sekadar ‘nafsas lega’ menutupi kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, sektor akuakultur nasional yang nilai pasarnya mencapai Rp 100 triliun lebih sangat bergantung pada bahan baku impor. Sekitar 60% tepung ikan dan 80% bungkil kedelai sebagai sumber protein pakan masih diimpor. Kehadiran pakan berbasis gulma lokal membuka peluang substitusi impor yang bisa menghemat devisa hingga triliunan rupiah jika diadopsi secara luas.
Menekan Jejak Karbon dan Ekonomi Sirkular
Dari kacamata ekonomi hijau, pemanfaatan alligator weed juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Tanaman ini sangat invasif dan cepat tumbuh; membersihkannya dari badan air justru mengurangi masalah pendangkalan dan biaya pengelolaan saluran irigasi. Alhasil, ada efisiensi ganda: menekan biaya pakan sekaligus memangkas ongkos pemeliharaan lingkungan. Setiap hektare saluran irigasi bisa menghasilkan 1,5–2 ton biomassa basah alligator weed per bulan, cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga petambak kecil.
Tantangan Komersialisasi: Standarisasi dan Volume
Namun, perjalanan dari laboratorium ke lapangan tak sepenuhnya mulus. Produsen pakan besar mensyaratkan konsistensi nutrisi, kadar air, dan bebas kontaminan yang sulit dijaga oleh petani pengumpul gulma skala mikro. Diperlukan investasi awal untuk mesin pengering dan fermentor sederhana, meskipun angka Rp 15–25 juta per unit masih terjangkau untuk koperasi atau kelompok tani.
“Kami sudah mencoba mandiri, tapi kalau ada bantuan alat pengering tenaga surya, produksi bisa lebih stabil,” ucap Hendro, pembudidaya lele di Sidoarjo yang sudah mencoba fermentasi gulma air sejak awal 2025.
Kendati demikian, dengan dukungan program pemerintah seperti kampung akuakultur dan KUR (Kredit Usaha Rakyat), adopsi teknologi ini bisa dipercepat. Jika satu kabupaten sentra budidaya mampu memproduksi pakan fermentasi ini secara mandiri, rantai pasok akan berubah: petambak tak lagi bergantung penuh pada pabrikan besar.
Pada akhirnya, fermentasi alligator weed bukan sekadar inovasi pakan. Ia adalah puzzle ekonomi yang menyatukan efisiensi biaya, ketahanan pakan nasional, dan pengelolaan lingkungan. Bagi ribuan petambak, ini adalah angin segar—bahwa jawaban atas biaya tinggi yang selama ini menghantui bisa tumbuh liar di selokan air dekat rumah mereka.
Comments (0)