Padang Siapkan 700 Dosis Vaksin PMK untuk Ternak
Pemerintah Kota Padang menyiapkan 700 dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) sebagai langkah proteksi terhadap hewan ternak, terutama sapi, dari ancama
Pemerintah Kota Padang menyiapkan 700 dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) sebagai langkah proteksi terhadap hewan ternak, terutama sapi, dari ancaman wabah yang kembali mencuat di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi bagian dari mitigasi risiko rantai pasok ternak, mengingat sekitar 70–80 persen sapi potong dan bibit di Padang didatangkan dari luar daerah—seperti Sumatera Barat bagian lain, Sumatera Utara, dan Lampung—sehingga pintu masuk patogen dinilai lebih terbuka.
Kebergantungan Pasokan Luar Daerah dan Risiko Ekonomi
Alih-alih hanya isu kesehatan hewan, penyebaran PMK di Padang menyimpan bom waktu bagi stabilitas harga pangan. Data Dinas Pangan dan Pertanian setempat menunjukkan konsumsi daging sapi di kota itu rata-rata 5.200 ton per tahun, dengan 85 persen pasokan mengandalkan kiriman antardaerah. Ketika wabah merebak, biaya logistik membengkak: setiap sapi yang dikirim harus dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dan sering kali melewati pos karantina tambahan. Beban biaya ini biasanya merambat ke harga jual daging di tingkat konsumen, menciptakan inflasi pangan lokal."Pemko Padang menggencarkan vaksinasi gratis untuk hewan ternak [guna] meminimalkan potensi penularan yang dapat mengganggu keberlangsungan usaha peternak," terang keterangan resmi Pemerintah Kota Padang.Intervensi berupa 700 dosis vaksin tahap ini memang terbilang terbatas jika dibandingkan dengan populasi sapi di Padang yang mencapai sekitar 3.200 ekor. Akan tetapi, Kepala Bidang Peternakan mengonfirmasi bahwa alokasi tersebut diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan ternak tertinggi dan pada sapi-sapi yang baru tiba dari daerah endemis. Strategi targeted vaccination ini diharapkan mampu menekan risiko penularan tanpa perlu menunggu cakupan vaksinasi massal.
Stok Vaksin Aman dan Peran Aktif Peternak
Kekhawatiran tentang kelangkaan vaksin mulai mereda setelah pemerintah pusat memastikan stok nasional dalam kondisi aman. Di Sumatera Selatan, misalnya, Dinas Perkebunan dan Peternakan menargetkan vaksinasi PMK hingga 41 ribu dosis dalam tahun ini. Di Padang, sinergi antara Satuan Tugas Penanganan Penyakit Hewan dan para penyuluh lapangan diperkuat agar setiap gejala klinis—seperti lepuh di mulut atau kuku—segera tertangani."Stok vaksin aman, [tetapi] peternak diminta sigap melaporkan gejala penyakit ternak," tegas narasumber dari radarutara.disway.id, menggarisbawahi pentingnya deteksi dini.Bagi pelaku usaha ternak, keterlambatan pelaporan satu ekor sapi bisa berakibat fatal. Satu kasus klinis PMK biasanya memicu penutupan sementara pasar hewan, penolakan pengiriman, hingga larangan pemotongan di rumah pemotongan hewan (RPH). Kerugian ekonomi yang ditanggung peternak kecil dapat mencapai Rp5–7 juta per ekor untuk sapi dewasa yang tidak bisa dijual tepat waktu.
Proyeksi dan Kesiapan
Dinas terkait di Padang juga tengah mengajukan tambahan vaksin ke Kementerian Pertanian, menargetkan cakupan minimal 2.000 dosis hingga akhir triwulan depan. Upaya ini digabungkan dengan pengawasan ketat di pos masuk kota—terminal ternak, pelabuhan, dan jalur darat—untuk memverifikasi dokumen kesehatan hewan.- 700 dosis disiapkan – prioritas pada ternak di zona merah dan sapi pendatang baru.
- Stok nasional dinyatakan aman – Sumsel menargetkan 41.000 dosis, memberi sinyal tidak ada kelangkaan.
- Kerugian satu ekor sapi PMK – potensi kehilangan pendapatan Rp5–7 juta, yang dapat menggerus margin peternak kecil.
Comments (0)