Trump Pamer Kartu Merah dari Infantino ke Jurnalis di Oval Office
Washington DC menyaksikan momen unik yang memadukan politik dan sepak bola ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengangkat sebuah kartu merah ke arah para jurnalis yang meliput pertemuan di ...
Washington DC menyaksikan momen unik yang memadukan politik dan sepak bola ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengangkat sebuah kartu merah ke arah para jurnalis yang meliput pertemuan di Oval Office, Gedung Putih, Selasa (28/8). Kartu merah tersebut bukan sekadar properti biasa — benda itu merupakan hadiah langsung dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang hadir dalam kunjungan kerja ke markas kekuasaan AS.
Adegan tersebut berlangsung santai namun sarana makna. Saat sesi foto bersama berlangsung, Trump tampak menggenggam kartu merah plastik khas wasit sepak bola, lalu dengan gerakan teatrikal menyodorkannya ke arah barisan kamera dan reporter. Ruangan yang biasanya tegang justru pecah oleh tawa. Para jurnalis pun ikut menjawab lelucon tersebut dengan sorakan dan tepuk tangan ringan.
Kartu Merah yang Mengundang Gelak Tawa
Momen ini cepat menyebar luas di media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat jelas bagaimana Trump memegang kartu merah dengan dua jarinya seolah hendak melakukan pengusiran — gestur klasik yang identik dengan keputusan wasit mengeluarkan pemain dari lapangan. Bedanya, target kali ini bukan pemain bola, melainkan para awak media yang bertugas meliput agenda Gedung Putih.
Kartu merah itu sendiri diberikan Infantino kepada Trump sebagai cinderamata kenang-kenangan. Lelucon sederhana ini menjadi pemanis suasana pertemuan yang secara substansi membahas persiapan besar dunia sepak bola: turnamen antarabenua yang akan digelar di Amerika Utara tahun depan. Interaksi ringan semacam ini kerap menjadi ciri khas kedua tokoh ketika bertemu di depan publik.
Bagi pengamat, gestur Trump bukan hal baru. Mantan pemilik klub yang pernah aktif terlibat dalam urusan olahraga ini memang dikenal gemar menggunakan simbolisme olahraga dalam komunikasi politiknya. Kartu merah — salah satu ikon paling dikenal dalam sepak bola modern sejak diperkenalkan pada Piala Dunia 1970 — kini sempat menjadi bintang utama di ruangan paling berkuasa di Washington.
Agenda Besar: Panggung Sepak Bola Dunia di AS
Kunjungan Infantino tidak bisa dilepaskan dari konteks turnamen megah yang akan diselenggarakan Amerika Serikat bersama Kanada dan Meksiko. Edisi 2026 nanti mencatat sejarah sebagai turnamen dengan format terbesar sepanjang eksistensi Piala Dunia: 48 tim nasional akan bertanding dalam 104 pertandingan, meningkat drastis dibanding format 32 tim dan 64 laga pada edisi-edisi sebelumnya.
Dari total 16 kota tuan rumah, 11 stadion berlokasi di Amerika Serikat, termasuk venue ikonik seperti MetLife Stadium di New Jersey yang dipercaya menjadi tuan rumah partai final. Sisanya tersebar di Meksiko dengan tiga kota dan Kanada dengan dua kota. Skala sebesar ini menuntut koordinasi intensif antara FIFA dan pemerintah federal AS — mulai dari perizinan visa bagi ribuan delegasi, keamanan, hingga infrastruktur transportasi antarkota.
Di sinilah peran Trump menjadi krusial. Sebagai kepala negara tuan rumah utama, ia memiliki pengaruh langsung atas kebijakan imigrasi dan keamanan yang akan sangat menentukan kelancaran turnamen. Pertemuan dengan Infantino diyakini membahas penyelarasan dukungan pemerintah federal terhadap seluruh rencana operasional FIFA.
Kedekatan Trump dan Infantino yang Terus Erat
Hubungan kedua tokoh ini memang sudah lama terjalin hangat. Infantino beberapa kali terlihat hadir dalam acara-acara yang melibatkan Trump, baik sebelum maupun setelah Trump kembali menjabat sebagai presiden. Kedekatan personal ini dinilai banyak pihak sebagai modal penting bagi FIFA untuk memastikan komitmen penuh pemerintah AS menjelang turnamen bergengsi tersebut.
FIFA sendiri tengah berada di fase ekspansi agresif. Di bawah kepemimpinan Infantino, organisasi induk sepak bola dunia telah memperluas Piala Dunia Klub menjadi kompetisi musiman berskala global, serta menambah kuota peserta Piala Dunia antarnegara. Semua proyek besar itu membutuhkan pasar yang kuat — dan Amerika Serikat, dengan industri siaran serta daya beli tiketnya yang raksasa, menjadi pasar paling strategis.
Sementara itu, bagi Trump, kesuksesan penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar sedunia di negerinya akan menjadi pencapaian prestisius sekaligus panggung diplomasi publik yang tak ternilai. Jutaan pengunjung internasional diproyeksikan datang, membawa dampak ekonomi miliaran dolar bagi sektor pariwisata, perhotelan, dan transportasi.
Ujung tombak komunikasi kedua pihak pun tampaknya adalah pendekatan informal seperti yang terlihat di Oval Office itu. Satu kartu merah kecil berhasil menciptakan headline positif, mencairkan suasana, dan menegaskan satu hal: hitungan mundur menuju pesta sepak bola di Amerika Utara telah dimulai, dan Gedung Putih ingin tampil sebagai tuan rumah yang ramah — meski sesekali mengancam akan 'mengusir' para jurnalis dari lapangan.
Comments (0)