SURABAYA — Dokter Peringatkan Bahwa Abu Vulkanik Bisa Merusak Paru-Paru

Fenomena erupsi gunung berapi di berbagai wilayah Indonesia terus menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Meskipun erupsi utama sering kali mereda, s

Sep 15, 2026 - 15:48
0 0
SURABAYA — Dokter Peringatkan Bahwa Abu Vulkanik Bisa Merusak Paru-Paru

Fenomena erupsi gunung berapi di berbagai wilayah Indonesia terus menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Meskipun erupsi utama sering kali mereda, status Level III (Siaga) yang ditetapkan oleh otoritas terkait pada sejumlah gunung api aktif seperti Gunung Anak Krakatau menandakan bahwa ancaman lanjutan masih membayangi masyarakat. Di luar bahaya langsung berupa aliran lahar dan awan panas, terdapat bahaya laten yang sering terabaikan namun sangat mematikan bagi kesehatan organ pernapasan: paparan sebaran mikro abu vulkanik.

Abu vulkanik bukanlah debu tanah biasa yang berasal dari erosi atau sampah organik. Partikel abu ini terbentuk dari fragmentasi batuan magma yang membeku secara mendadak saat terjadinya letupan gunung berapi. Akibatnya, partikel yang dihasilkan memiliki tekstur sangat keras, tajam, dan berukuran amat kecil sehingga sangat rentan terhirup oleh manusia tanpa disadari.

Mekanisme Kerusakan: Dari Udara Hingga Kedalaman Alveoli

Ancaman utama abu vulkanik terletak pada kemampuannya menembus sistem filtrasi alami pada hidung dan tenggorokan. Ketika seseorang beraktivitas di area terdampak hujan abu tanpa perlindungan standar medis, partikel-partikel mikro tersebut akan masuk jauh ke dalam organ pernapasan bawah.

"Abu vulkanik mengandung pecahan kaca silika mikroskopis dan mineral berujung runcing. Saat terhirup, partikel terkecil berukuran di bawah 2.5 mikrometer mampu melampaui saluran napas atas dan meluncur jauh hingga mengendap di alveoli, yaitu kantung udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida," ungkap dr. Venny Singgih, Sp.P., spesialis paru-paru dari Fakultas Kedokteran UK Petra.

Penumpukan silika pada alveoli memicu reaksi inflamasi atau peradangan hebat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan jaringan parut pada paru-paru (fibrosis) yang bersifat permanen, mengurangi kapasitas vital paru-paru, serta memicu penyakit silikosis yang mengganggu kualitas hidup penderitanya secara drastis.

Analisis Potensi Risiko Berdasarkan Ukuran Partikel

Untuk memahami seberapa berbahaya abu vulkanik terhadap kesehatan pernapasan, berikut adalah perbandingan dampak paparan berdasarkan ukuran partikel abu:

Ukuran Partikel (PM) Lokasi Penetrasi Paru Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan
> 10 Mikrometer Hidung dan Saluran Udara Atas Iritasi tenggorokan, batuk ringan, bersin, dan iritasi mata.
PM 2.5 - PM 10 Bronkus dan Bronkiolus Memicu ISPA, kekambuhan asma, dan serangan bronkitis akut.
< 2.5 Mikrometer Alveoli (Kantung Udara) Inflamasi sistemik, penurunan fungsi paru, fibrosis, dan silikosis.

Strategi Proteksi Mandiri di Kawasan Bencana

Menghadapi risiko yang dapat merusak jaringan paru-paru secara permanen tersebut, para pakar medis mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap sepele penggunaan alat pelindung diri. Masker kain biasa atau masker bedah biasa dinilai kurang memadai untuk menahan partikel mikro silika.

"Sangat disarankan memakai masker dengan tingkat filtrasi tinggi seperti N95, KN95, atau FFP2 saat berada di zona paparan abu vulkanik. Masker jenis ini dirancang khusus untuk memfilter partikel hingga ukuran mikroskopis agar tidak sampai menembus alveoli," pangkas dr. Venny.

Selain penggunaan masker yang tepat, masyarakat di area terdampak bencana dianjurkan untuk selalu menutup rapat pintu dan jendela rumah, menghindari pemakaian lensa kontak guna mencegah luka gores kornea, serta segera membasuh seluruh anggota tubuh dan berganti pakaian setelah beraktivitas dari luar ruangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User