Spanyol Taklukkan Argentina 2-1, Ferran Torres Jadi Pahlawan
MetLife Stadium bergemuruh pada Senin malam, 20 Juli 2026. Di hadapan lebih dari 82.000 pasang mata, Timnas Spanyol mengunci gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor akhi...
MetLife Stadium bergemuruh pada Senin malam, 20 Juli 2026. Di hadapan lebih dari 82.000 pasang mata, Timnas Spanyol mengunci gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor akhir 2-1. Ferran Torres menjadi penentu kemenangan lewat golnya di menit ke-78, sebuah momen yang langsung mengukir sejarah baru bagi La Roja.
Pertandingan berlangsung dalam tensi tinggi sejak peluit pertama dibunyikan. Argentina, yang tampil dengan formasi 4-3-3 ofensif, langsung menekan lewat pergerakan Lionel Messi dan Lautaro Martínez. Namun, Spanyol di bawah asuhan Luis de la Fuente tampil sabar dengan penguasaan bola khas mereka, membangun serangan dari lini belakang.
Babak Pertama: Dominasi Spanyol Berujung Gol Pedri
Sejak menit awal, Spanyol langsung mengambil kendali. Penguasaan bola mencapai 62% di 30 menit pertama, dengan total 8 tembakan dan 4 di antaranya mengarah ke gawang Emiliano Martínez. Argentina lebih banyak mengandalkan serangan balik cepat, namun rapatnya pertahanan Spanyol yang dikomandoi Pau Cubarsí membuat peluang emas sulit tercipta.
Gol pembuka lahir di menit ke-35. Sebuah skema serangan rapi yang dibangun dari kaki ke kaki selama 18 operan berakhir dengan umpan terobosan Gavi ke dalam kotak penalti. Pedri, yang menusuk dari lini kedua, melepaskan tendangan first-time mendatar ke pojok kiri bawah gawang. Skor 1-0 untuk Spanyol bertahan hingga turun minum. Statistik babak pertama mencatat Spanyol unggul shots on target 4-1 dan menciptakan dua peluang emas.
Babak Kedua: Gol Balasan Argentina dan Drama di Menit Akhir
Memasuki babak kedua, Argentina meningkatkan intensitas. Lionel Scaloni memasukkan Alejandro Garnacho untuk menambah daya dobrak. Hasilnya, di menit ke-52, Argentina menyamakan kedudukan lewat sundulan Lautaro Martínez memanfaatkan umpan silang akurat Nahuel Molina dari sisi kanan. Gol ini membuat laga semakin sengit. Argentina terus menggempur dan nyaris berbalik unggul andai tendangan voli Messi di menit ke-67 tidak membentur mistar gawang.
Spanyol tidak menyerah. Masuknya Fermín López dan Ferran Torres di menit ke-70 menyegarkan lini depan. Hanya delapan menit berselang, tepatnya di menit ke-78, Ferran Torres mencatatkan namanya di papan skor. Berawal dari skema sepak pojok pendek, Dani Olmo mengirim umpan lambung ke tiang jauh. Torres, yang lepas dari kawalan Cristian Romero, menyambar bola dengan sepakan voli kaki kanan yang bersarang deras di pojok atas gawang. Selebrasi emosional Torres di depan pendukung Spanyol menjadi ikon malam itu. Gol tersebut menjadi gol ke-6 Torres sepanjang turnamen, menjadikannya salah satu kandidat Sepatu Emas.
Argentina berusaha mati-matian menyamakan skor. Di menit ke-85, wasit mengecek potensi penalti lewat VAR untuk insiden benturan di kotak terlarang, namun keputusan akhir menyatakan tidak ada pelanggaran. Hingga 5 menit injury time, Spanyol bertahan dengan disiplin. Kiper Unai Simón melakukan penyelamatan krusial dari sundulan Nicolás Otamendi di detik-detik akhir. Skor 2-1 bertahan.
Statistik Kunci dan Jalan Menuju Trofi
Secara keseluruhan, penguasaan bola berakhir 55% untuk Spanyol dan 45% untuk Argentina, dengan total tembakan 14-10 (shots on target 6-4). Spanyol mencatatkan 487 operan sukses berbanding 398 milik Argentina, menunjukkan dominasi dalam membangun ritme. Kedua tim sama-sama agresif, dengan total kartu kuning 3-3, namun tidak ada kartu merah yang mengubah komposisi pemain.
Kemenangan ini mengantarkan Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua setelah 2010. Ferran Torres dinobatkan sebagai Man of the Match berkat gol penentu dan pergerakan tanpa bolanya yang konstan merepotkan lini belakang Argentina. Di sisi lain, ini menjadi final kedua beruntun bagi Argentina yang kembali harus puas sebagai runner-up setelah 2022.
“Saya sangat bangga dengan para pemain. Mereka menjalankan rencana dengan sempurna. Ini adalah malam yang akan dikenang selamanya,” ujar Luis de la Fuente usai laga.
MetLife Stadium menjadi saksi kebangkitan La Roja di bawah generasi baru. Dengan rata-rata usia skuad 25,4 tahun, Spanyol menunjukkan bahwa kombinasi antara teknik tinggi dan taktik modern adalah resep juara. Sementara Argentina dengan Messi yang kini berusia 39 tahun harus merelakan trofi, tetap mendapat penghormatan atas perjuangan hingga detik terakhir. Final Piala Dunia 2026 akan selalu dikenang sebagai malam milik Ferran Torres dan kejeniusan kolektif tim Matador.
Comments (0)