Comeback Epik Argentina: Tertinggal 2 Gol, Akhiri Perlawanan Mesir
Stadion Mercedes-Benz Atlanta bergemuruh pada Selasa malam, 7 Juli 2026, ketika Argentina meraih kemenangan dramatis 4-2 atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tertinggal dua gol di babak pert...
Stadion Mercedes-Benz Atlanta bergemuruh pada Selasa malam, 7 Juli 2026, ketika Argentina meraih kemenangan dramatis 4-2 atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tertinggal dua gol di babak pertama, La Albiceleste bangkit dengan empat gol tanpa balas di babak kedua untuk mengamankan tiket perempat final. Kemenangan comeback ini menegaskan mental juara bertahan, sementara Mesir harus pulang dengan kepala tegak setelah memberikan perlawanan sengit.
Babak Pertama: Mesir Mengejutkan Dunia
Mesir mengawali laga dengan intensitas tinggi dan taktik disiplin di bawah asuhan pelatih Hossam El-Badry. Menit ke-14, serangan balik cepat yang dibangun dari Mohamed di lini tengah sukses membelah pertahanan Argentina. Umpan terobosannya diterima Omar Marmoush yang melepaskan tembakan kaki kiri mendatar ke sudut jauh gawang Emiliano Martínez. Gol! Mesir unggul 1-0 dan membuat pendukung Argentina terdiam.
Argentina merespons dengan tekanan telak, tetapi sering terbentur tembok kokoh pertahanan lima bek Mesir yang digalang kapten Ramadan Sobhi. Menit ke-31, Mesir kembali membobol gawang Argentina lewat skema bola mati. Tendangan sudut dari Mohamed disambut tandukan keras Mostafa Mohamed yang menggetarkan jala Martínez untuk kali kedua. 2-0 untuk Mesir, dan babak pertama berakhir dengan keunggulan mengejutkan tersebut.
Lini depan Argentina yang diisi Lionel Messi, Alexis Mac Allister, dan Julián Álvarez tampak frustrasi. Messi dua kali mendapat peluang dari luar kotak penalti, namun tendangannya masih bisa diblok kiper Mohamed El Shenawy. Penguasaan bola Argentina mencapai 63%, tetapi efektivitas serangan nyaris nol karena disiplinnya pressing Mesir yang menciptakan 4 tembakan tepat sasaran dari 6 percobaan.
Babak Kedua: Kebangkitan Argentina
Masuk paruh kedua, pelatih Lionel Scaloni melakukan perubahan taktik dengan memasukkan Giovani Lo Celso menggantikan Rodrigo De Paul untuk menambah kreativitas. Hasilnya langsung terlihat. Menit ke-53, kombinasi satu-dua antara Mac Allister dan Lo Celso di kotak penalti diakhiri tendangan placing Mac Allister yang memperkecil kedudukan menjadi 1-2. Harapan kembali menyala.
Argentina terus menekan, dan pada menit ke-68, Messi menunjukkan kelasnya. Menerima umpan jauh dari Lo Celso, Messi melakukan kontrol dada sempurna, melewati satu bek, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang menghujam gawang Mesir. Skor menjadi 2-2. Stadion meledak.
Gol penyeimbang itu mengubah momentum sepenuhnya. Mesir yang mulai kelelahan mulai meninggalkan banyak celah. Menit ke-79, Julián Álvarez mencatatkan namanya di papan skor. Umpan silang Mac Allister dari sisi kanan disundul Álvarez dengan akurat ke pojok gawang. 3-2 Argentina. Gol ini lahir dari penguasaan bola intensif yang menghasilkan 11 tembakan di babak kedua dibanding hanya 3 dari Mesir.
Di masa injury time, Messi menggenapi kemenangan melalui titik penalti. Wasit menunjuk titik putih setelah Ahmed Hegazi melanggar Álvarez di kotak terlarang — keputusan yang dikonfirmasi VAR. Messi dengan tenang mengeksekusi ke kanan atas gawang. 4-2, dan pesta Argentina dimulai. Dengan gol itu, Messi menjadi pemain tertua yang mencetak brace di fase gugur Piala Dunia pada usia 40 tahun.
Statistik Kunci dan Performa Pemain
Penguasaan bola Argentina tercatat 65% berbanding 35% milik Mesir, dengan total 20 tembakan (9 tepat sasaran), sementara Mesir hanya mencatat 8 tembakan (5 tepat sasaran). Assist kemenangan dikuasai oleh Alexis Mac Allister yang menyumbang satu gol dan dua assist, tampil sebagai pemain terbaik. Pertandingan ini juga mencatatkan 3 kartu kuning — untuk Sobhi, De Paul, dan Carlos Cuesta — tanpa kartu merah.
"Kami tahu ini akan sulit. Mesir tim bertahan luar biasa. Tapi karakter pemain kami kembali berbicara. Mereka tidak pernah menyerah," ujar Scaloni usai laga.
Sementara itu, El-Badry menyatakan kebanggaannya: "Kami membuat dunia melihat kekuatan sepak bola Afrika. Sayang, pengalaman Argentina di menit krusial jadi pembeda. Kami akan belajar banyak." Clean sheet yang gagal diraih oleh kedua kiper menjadi catatan unik; Martínez kebobolan 2 gol dari 5 tembakan tepat sasaran, sedangkan El Shenawy menghadapi 9 tembakan tepat sasaran dan kebobolan 4.
Kemenangan ini membawa Argentina ke perempat final untuk menghadapi pemenang laga antara Prancis dan Kolombia. Dengan ketajaman lini depan yang mulai menemukan ritme, Argentina kembali menegaskan statusnya sebagai kandidat juara.
Comments (0)