Rupiah Lesu, BI Sebut Masih Lebih Baik dari Mata Uang Rusia-Thailand

Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara emerging market lainnya. Hal ini terungka

Jul 08, 2026 - 05:57
0 1
Rupiah Lesu, BI Sebut Masih Lebih Baik dari Mata Uang Rusia-Thailand

Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara emerging market lainnya. Hal ini terungkap dalam pemaparan data terkini yang dilakukan oleh pejabat BI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Pejabat Eksekutif yang menangani komunikasi di bank sentral, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa analisis ini didasarkan pada data pergerakan mata uang sejak keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni lalu. Meski saat itu FOMC memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, para pelaku pasar menangkap adanya sinyal hawkish dari para pejabat The Fed. Sinyal ini langsung berdampak pada penguatan indeks dolar AS (DXY) yang melonjak ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir, memberikan tekanan pada mayoritas mata uang global, terutama di negara berkembang.

Dengan merujuk pada data Bloomberg yang dihimpun oleh media kami, Ramdan mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah masih berada pada level yang terkendali jika disandingkan dengan mata uang negara lain seperti Rusia, Thailand, Filipina, dan India. Secara khusus, ia menyoroti bahwa mata uang Rusia, yaitu rubel, mencatat pelemahan paling tajam di antara negara-negara yang diamati.

"Jadi, kalau kita ambil posisi dari FOMC itu tanggal 17 Juni sampai dengan terakhir tanggal 6 Juli, itu kalau kita lihat berdasarkan data Bloomberg, mata uang Rusia paling melemah dibandingkan emerging market. Jadi, Rusia melemah 5,5 persen ya," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat.

Pernyataan tersebut dilontarkan dalam sebuah kesempatan wawancara di kompleks parlemen, menandakan bahwa bank sentral terus memantau dinamika eksternal dan dampaknya terhadap stabilitas rupiah. Dari rentang waktu 17 Juni hingga 6 Juli tersebut, pelemahan rupiah terhadap dolar AS berada pada angka yang jauh lebih kecil dibandingkan penurunan 5,5 persen yang dialami rubel Rusia. Hal ini, menurut BI, mengindikasikan fundamental ekonomi domestik yang cukup tangguh dalam menghadapi tekanan global.

Lebih lanjut, Ramdan menjelaskan bahwa kinerja rupiah juga menunjukkan tren yang lebih positif dibandingkan mata uang Thailand (baht) dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Laporan dari tim riset Beritainti.com mencatat bahwa pelemahan baht Thailand dalam periode yang sama juga cukup signifikan, meski tidak sedalam rubel. India dan Filipina pun mengalami tekanan serupa, namun semuanya belum mampu mengungguli ketahanan relatif yang ditunjukkan oleh rupiah.

Bank Indonesia meyakinkan publik bahwa pihaknya akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Data-data yang dipaparkan ini sekaligus menjadi bantahan terhadap persepsi bahwa pelemahan rupiah saat ini berada dalam kondisi terburuk di kawasan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Editor Ekonomi. Editor ringkasan isu bisnis dalam poin inti.

Comments (0)

User