Pupuk Kaltim Terapkan Pemupukan Berimbang Padi di Jombang

Tantangan efisiensi biaya produksi pertanian di Indonesia kembali menjadi sorotan utama, khususnya di sektor budidaya padi. Di tengah fluktuasi harga saran

Sep 16, 2026 - 14:52
0 0
Pupuk Kaltim Terapkan Pemupukan Berimbang Padi di Jombang

Tantangan efisiensi biaya produksi pertanian di Indonesia kembali menjadi sorotan utama, khususnya di sektor budidaya padi. Di tengah fluktuasi harga sarana produksi pertanian (saprotan) dan ancaman penurunan kualitas daya dukung tanah akibat ketergantungan kimiawi berlebih, edukasi mengenai tata kelola hara menjadi sangat krusial. Bertempat di Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggelar kegiatan pendampingan pemupukan tanaman padi melalui Program Agrosolution pada Selasa (15/9/2026). Inisiatif ini dirancang untuk mengubah pola pikir petani dari pendekatan pemupukan berbasis kuantitas menuju efisiensi berbasis presisi.

Presisi Pemupukan Sebagai Strategi Efisiensi Struktur Biaya

Selama bertahun-tahun, sebagian besar petani di daerah sentra produksi beras masih menganggap bahwa semakin banyak pupuk yang ditebar, semakin tinggi pula hasil panen yang didapatkan. Paradigma konvensional ini kerap memicu pemborosan modal kerja dan memperberat beban operasional usaha tani. Melalui pendekatan analitis, Pupuk Kaltim menegaskan bahwa efisiensi budidaya harus dimulai dari keterukuran input hara yang sesuai dengan kebutuhan riil tanaman dan karakteristik spesifik tanah setempat.

Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, menjelaskan bahwa efektivitas pemupukan tidak dapat diukur hanya dari volume pupuk yang dialokasikan, melainkan dari presisi aplikasi di lapangan.

“Yang ingin kami bangun adalah pemahaman bahwa pemupukan harus dilakukan secara tepat, mulai dari dosis hingga cara aplikasi. Jadi pupuk yang digunakan dapat memberikan hasil secara optimal dan biaya yang dikeluarkan petani juga lebih efisien,” ujar Maslani.

Penerapan prinsip ketepatan dosis, waktu, serta metode aplikasi dipandang sebagai pilar utama untuk menekan operational expenditure di tingkat petani. Pendampingan berkelanjutan ini mencakup pengujian kondisi lahan hingga evaluasi berkala untuk memastikan bahwa hara yang diserap tanaman bekerja maksimal tanpa terbuang sia-sia ke lingkungan.

Dampak Signifikan Terhadap Produktivitas Lahan Pertanian

Secara ekonomi, pemupukan yang tidak berimbang tidak hanya melambungkan biaya input, tetapi juga berpotensi merusak keanekaragaman hayati mikroba tanah dalam jangka panjang. Ketika tanah mengalami jenuh hara atau degradasi unsur organik, daya serap tanaman terhadap nutrisi utama justru menurun drastis.

Komisaris Pupuk Kaltim, Azis Samual, menekankan pentingnya menjaga daya dukung lahan demi keberlanjutan sektor agribisnis lokal.

“Pemupukan berimbang menjadi bagian penting, agar unsur hara yang diberikan dapat diserap tanaman secara optimal. Oleh karena itu perlu pendampingan untuk menjaga daya dukung lahan secara berkelanjutan,” terang Azis.

Keberhasilan formulasi pemupukan berimbang ini tercermin dari rekam jejak pelaksanaan Program Agrosolution sebelumnya yang mencatatkan lonjakan hasil panen secara signifikan:

  • Produktivitas Sebelum Program: Rata-rata 7,0 ton per hektare.
  • Produktivitas Setelah Program: Meningkat menjadi 8,5 ton per hektare.
  • Pertumbuhan Hasil: Mengalami kenaikan produktivitas sebesar 1,5 ton per hektare (naik sekitar 21,4%).
  • Efisiensi Usaha Tani: Pengurangan pemborosan alokasi pupuk tanpa mengorbankan imbal hasil (yield).

Kemandirian Petani dan Implikasi Ketahanan Pangan Nasional

Keberhasilan sebuah program transformasi pertanian tidak boleh berhenti pada indikator kuantitatif berupa kenaikan tonase panen semata. Parameter keberhasilan sejati terletak pada peningkatan kapabilitas finansial dan literasi agronomis para petani secara mandiri. Melalui evaluasi terukur dan pendampingan terintegrasi dari hulu ke hilir, Program Agrosolution membuktikan bahwa peningkatan margin keuntungan petani dapat dicapai tanpa harus memperluas areal tanam (ekstensifikasi), melainkan melalui optimalisasi lahan yang ada (intensifikasi presisi).

Di wilayah Jombang yang menjadi salah satu lumbung pangan utama Jawa Timur, langkah strategis Pupuk Kaltim ini diharapkan menjadi model percontohan (benchmark) bagi sentra-sentra pertanian lainnya. Dengan mengadopsi riset tanah berbasis data dan manajemen risiko modal yang terukur, efisiensi yang dicapai akan memperkuat daya saing komoditas beras nasional di tengah ketidakpastian iklim global dan fluktuasi ekonomi makro.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User