Prilly Latuconsina — Belajar Bahasa Arab dan Gelapkan Kulit demi Film Baru

Jakarta — Di sela jadwal syuting yang padat, Prilly Latuconsina menyempatkan diri duduk di sudut ruang rias, keningnya sedikit berkerut ketika mengulang-ul

Jul 09, 2026 - 12:45
0 0
Jakarta — Di sela jadwal syuting yang padat, Prilly Latuconsina menyempatkan diri duduk di sudut ruang rias, keningnya sedikit berkerut ketika mengulang-ulang pelafalan kata-kata asing yang baru beberapa minggu ia tekuni. Bukan dialog sinetron atau adegan komedi ringan; kali ini ia tengah bergulat dengan kosa kata bahasa Arab. Transformasi total demi sebuah peran dalam film layar lebar Minal Aidin Mohon Maaf Minta Rizki mendorong aktris yang selama ini identik dengan karakter urban itu untuk melakukan lompatan besar, baik secara fisik maupun mental. Langkah ini tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menunjukkan betapa seriusnya Prilly menggarap segmen pasar film religi yang tengah menanjak.

Kulit Lebih Gelap dan Riset Karakter

Untuk mendekati kebutuhan visual tokoh yang diperankannya, Prilly harus menjalani proses penggelapan warna kulit secara bertahap. Tim tata rias khusus mengaplikasikan tanning lotion berbasis DHA (dihydroxyacetone) tanpa paparan sinar UV, mengingat risiko kesehatan jangka panjang yang kerap mengintai metode sun tanning konvensional. Proses ini memakan waktu sekitar 45 menit setiap hari sebelum kamera menyala. “Rasanya seperti memakai kostum yang tidak bisa dilepas begitu saja. Setelah syuting, bekasnya masih menempel tiga sampai empat hari,” ujar Prilly. Lebih dari sekadar perubahan pigmentasi kulit, ia juga menyelami latar sosial tokohnya dengan mendatangi beberapa komunitas di pinggiran Jakarta. Dalam waktu dua pekan, Prilly tercatat melakukan empat kali kunjungan riset ke lingkungan pesantren kecil dan pasar tradisional, mengamati gestur, logat, hingga pola komunikasi warga setempat. Pendekatan riset etnografis semacam ini jarang dilakukan oleh aktor muda, dan menandai peningkatan investasi nonfinansial pada kualitas akting—sebuah sinyal positif bagi industri yang mulai mengedepankan keautentikan.

Belajar Bahasa Arab dan Dinamika Pasar Film Religi

Kebutuhan skenario yang mengharuskan tokoh utama berdialog dalam bahasa Arab menjadi tantangan lain. Prilly mengambil kursus intensif selama tiga jam per hari bersama seorang mentor lulusan Universitas Al-Azhar Kairo. Ia fokus pada pelafalan hijaiyah dan frasa-frasa doa harian yang kerap muncul dalam narasi film. Meskipun tidak dituntut untuk mencapai kefasihan sempurna, tekanan psikologis untuk terdengar meyakinkan di depan kamera sangat terasa. “Beda satu harakat, artinya bisa melenceng jauh. Saya tidak mau jadi bahan tertawaan, apalagi di mata penutur asli,” akunya. Dari sisi bisnis, keputusan produksi untuk menuntut akting tiga dimensi—fisik, linguistik, dan spiritual—sejalan dengan potensi pasar film religi Indonesia yang terus tumbuh. Data Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) mencatat, genre religi mencetak rerata 4,2 juta penonton per judul sepanjang 2025, naik 17% dari tahun sebelumnya. Film dengan sentuhan autentik seperti pemeranan yang total dinilai mampu meraih return on investment (RoI) hingga 300% jika tepat menyasar momen musiman seperti Ramadan dan Syawal. Minal Aidin Mohon Maaf Minta Rizki sendiri ditargetkan tayang pada periode Lebaran mendatang, yang secara historis menyumbang 38% dari total penjualan tiket tahunan film lokal.

Berhijab dan Citra Baru

Tak hanya kulit yang lebih gelap dan bahasa Arab, Prilly juga harus tampil berhijab sepanjang film. Bagi publik yang terbiasa melihatnya dengan gaya rambut modis dan penampilan fashion-forward, hijab yang membingkai wajahnya menghadirkan kontras visual yang kuat. Penata busana produksi memilih palet warna pastel dan motif etnik untuk menjaga kesan sederhana namun hangat, selaras dengan karakter perempuan mandiri dari keluarga santri yang ia perankan. Transformasi visual ini sejalan dengan strategi diversifikasi citra yang kian lazim diterapkan oleh talenta papan atas. Dari perspektif ekonomi kreatif, langkah Prilly bisa dibaca sebagai upaya memperluas marketability di segmen yang sebelumnya belum tersentuh. Dengan sekali proyek, ia bukan hanya menjual akting, tetapi juga membuka pintu bagi peluang endorsement produk modest fashion, wisata religi, hingga konten edukasi bahasa.
“Ini bukan sekadar ikut tren. Saya ingin membuktikan bahwa aktor muda bisa memikul tanggung jawab peran yang jauh dari zona nyaman. Kalau hasilnya bisa mengedukasi dan membawa penonton lebih dekat pada nilai-nilai kebaikan, kenapa tidak?” ujar Prilly saat ditemui di sela promosi awal film.
Dengan total biaya produksi yang dikabarkan menembus Rp 18 miliar, film ini termasuk proyek ambisius di kelas menengah-atas. Namun, tren jumlah penonton film religi yang terus menanjak dan daya tarik transformasi total Prilly diyakini investor mampu mendongkrak angka break-even point (BEP) di angka 1,2 juta penonton—target yang realistis jika musim libur Lebaran dimanfaatkan optimal. Bagi Prilly sendiri, terlepas dari hasil akhir box office, perjalanan menggelapkan kulit, memelintir lidah untuk bahasa Arab, dan menyesuaikan diri dengan hijab telah menorehkan pengalaman yang ia sebut sebagai “kuliah akting paling mahal” sepanjang kariernya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User