Prabowo-Modi Sepakati Kemitraan Baru, Target Dagang US$50 Miliar

Iring-iringan kendaraan Perdana Menteri India Narendra Modi melintasi jalan protokol Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026, disambut lambaian bendera Merah Puti

Jul 09, 2026 - 07:28
0 1
Prabowo-Modi Sepakati Kemitraan Baru, Target Dagang US$50 Miliar

Iring-iringan kendaraan Perdana Menteri India Narendra Modi melintasi jalan protokol Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026, disambut lambaian bendera Merah Putih dan Tiranga oleh ratusan pelajar. Di Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto menyambut kunjungan kenegaraan Modi yang disebut-sebut sebagai momentum reset kemitraan strategis antara dua raksasa demokrasi Asia. Dalam pertemuan tertutup selama dua jam itu, kedua pemimpin menyepakati peta jalan baru kerja sama ekonomi yang menyasar target perdagangan bilateral US$ 50 miliar pada 2030, naik dari capaian US$ 32,7 miliar di 2024.

Di balik seremoni kenegaraan, sinyal ekonomi yang dikirim sangat konkret. India yang tengah memacu pertumbuhan di atas 7% per tahun membutuhkan pasokan energi dan mineral kritis yang stabil, sementara Indonesia memerlukan investasi teknologi dan farmasi untuk hilirisasi. Keselarasan ini membuat kunjungan Modi bukan sekadar diplomatic courtesy, melainkan misi pencarian jangkar ekonomi baru di tengah fragmentasi rantai pasok global.

Mesin Pertumbuhan Baru: Dari Batu Bara ke Semikonduktor

Selama ini, hubungan dagang Indonesia-India bertumpu pada komoditas tradisional. Ekspor Indonesia didominasi batu bara termal (38% dari total ekspor ke India) dan minyak sawit mentah (22%), sementara India membalas dengan produk farmasi, baja, dan teknologi informasi. Namun, pertemuan di Jakarta ini menandai pivot signifikan: kedua negara sepakat membentuk Bilateral Task Force on Critical Minerals and Semiconductor Supply Chain.

“India sedang agresif membangun kapasitas manufaktur chipnya melalui skema insentif US$ 10 miliar. Mereka membutuhkan pasokan silikon dan nikel yang melimpah dari Indonesia,” ujar Dr. Radhika Pandey, ekonom senior National Institute of Public Finance and Policy (NIPFP) India, yang hadir sebagai penasihat delegasi. Komitmen investasi awal sebesar US$ 1,2 miliar untuk smelter nikel di Halmahera dan fasilitas pengolahan silika di Bangka Belitung diumumkan sebagai quick win.

Investasi India di Indonesia: Menyalip dalam Diam

Data BKPM menunjukkan tren menarik: investasi India ke Indonesia melonjak 62% year-on-year pada 2025, mencapai US$ 4,8 miliar, melampaui Jepang untuk pertama kalinya. Sektor digital dan infrastruktur menjadi tujuan utama, dengan dua proyek flagship: partisipasi konsorsium Indian Railways dalam proyek MRT fase 3 Jakarta (nilai kontrak US$ 450 juta) dan pendirian pusat data oleh Adani Group di Batam senilai US$ 900 juta.

Perbandingan Perdagangan & Investasi Indonesia-India (2023-2025)
Indikator202320242025Target 2030
Total Perdagangan (US$ M)27.40032.70038.20050.000
Surplus Indonesia (US$ M)9.80011.20012.500-
Investasi India di RI (US$ M)1.8002.9604.8008.000
Pangsa Non-Migas (%)68727885
*estimasi berdasarkan data semester I

Pergeseran struktural ini terlihat dari meningkatnya pangsa sektor non-migas yang mencerminkan diversifikasi dari komoditas ke barang bernilai tambah. Menteri Perdagangan RI menyebutkan bahwa negosiasi pengurangan tarif untuk produk elektronik dan farmasi akan diakselerasi dalam kerangka ASEAN-India Free Trade Area yang diperluas.

Implikasi Pasar dan Peluang Sektoral

Dari sudut pandang investor, kunjungan Modi memberikan katalis positif bagi saham-saham sektor energi terbarukan, infrastruktur, dan teknologi. IHSG tercatat menguat 0,87% pada sesi perdagangan kemarin, dengan saham emiten nikel dan data center memimpin kenaikan. Analis memproyeksikan aliran FDI dari India dapat mencapai US$ 3-4 miliar per tahun selama periode 2026-2030, dengan penekanan pada proyek transisi energi dan konektivitas digital.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengingatkan bahwa momentum ini harus dijaga dengan reformasi perizinan. “Investor India sangat sensitif terhadap kepastian regulasi. Jika kita mampu memberikan proses perizinan yang streamlined dan insentif fiskal yang kompetitif dengan Vietnam atau Bangladesh, maka target US$ 50 miliar perdagangan bisa tercapai lebih cepat dari 2030,” ujarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User