Petisi Boikot Argentina Tembus 23 Juta, Presiden Milei Murka

Lebih dari 23 juta tanda tangan telah terkumpul dalam sebuah petisi global yang mendesak FIFA untuk menjatuhkan sanksi larangan tampil bagi Timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Lonjakan dukungan ini ...

Jul 27, 2026 - 20:05
0 0
Petisi Boikot Argentina Tembus 23 Juta, Presiden Milei Murka

Lebih dari 23 juta tanda tangan telah terkumpul dalam sebuah petisi global yang mendesak FIFA untuk menjatuhkan sanksi larangan tampil bagi Timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Lonjakan dukungan ini terjadi hanya dalam hitungan pekan setelah skuad La Albiceleste terlibat kontroversi nyanyian diskriminatif usai kemenangan di Copa América 2024.

Kronologi Kontroversi dan Ledakan Petisi

Gerakan boikot bermula dari aksi viral gelandang Enzo Fernández yang merayakan gelar Copa América dengan menyanyikan lagu berbau rasis dan transfobia terhadap pemain Timnas Prancis. Video live-streaming itu langsung memicu kemarahan global, membuka luka lama tentang diskriminasi dalam sepak bola. Dalam waktu kurang dari satu minggu, petisi di platform Avaaz dan Change.org menyatu, masing-masing mencatat pertumbuhan eksplosif—dari 500 ribu menjadi 5 juta, lalu menembus 23,2 juta tanda tangan per pukul 17.00 GMT kemarin. Data internal platform menyebutkan bahwa 34% tanda tangan berasal dari Prancis, diikuti oleh Inggris (18%), Brasil (12%), dan negara-negara Afrika bagian barat yang memiliki banyak diaspora di Eropa (11%).

Petisi tersebut secara spesifik menuntut FIFA menerapkan Pasal 13 Kode Etik yang melarang perilaku diskriminatif, dengan ancaman diskualifikasi dari turnamen internasional. Penyelenggara petisi, LSM anti-rasisme “Equal Pitch”, menegaskan bahwa ini bukan sekadar hukuman simbolis, melainkan langkah tegas untuk membersihkan citra sepak bola dunia. “Kami sudah mengirimkan surat resmi kepada Dewan FIFA dan Komite Etik,” ujar juru bicara kampanye. “23 juta suara tidak bisa diabaikan.”

Reaksi Panas Istana Buenos Aires

Di tengah tekanan internasional, Presiden Argentina Javier Milei justru menunjukkan sikap defensif dan penuh amarah. Dalam wawancara televisi nasional, Milei menyebut petisi itu sebagai “kebisingan politis dari kaum kiri global” dan membela para pemain sebagai pahlawan nasional yang tidak seharusnya diadili oleh standar ganda. “Mereka juara, mereka bukan kriminal,” tegas Milei dengan suara meninggi, seraya mengancam akan mempertimbangkan kembali keikutsertaan Argentina di Piala Dunia jika FIFA menuruti “tekanan tendensius” dari Eropa.

Presiden dengan aliran libertarian itu bahkan memecat Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) yang sebelumnya menyampaikan permintaan maaf publik kepada komunitas Prancis. Milei menilainya sebagai tindakan pengecut yang melemahkan kedaulatan sepak bola Argentina. Langkah ini menuai kecaman dari oposisi yang menyebut Milei mempertaruhkan hubungan diplomatik hanya demi retorika populis. Namun di sisi lain, basis pendukungnya di dalam negeri justru menggalang aksi solidaritas dengan tagar #ArgentinaUnida, yang menambah panas situasi.

Implikasi bagi Peta Piala Dunia 2026

Desakan petisi ini menempatkan FIFA dalam posisi dilematis. Secara statuta, organisasi ini memiliki wewenang penuh untuk menjatuhkan sanksi berat, namun sepanjang sejarahnya belum pernah ada juara bertahan yang dilarang tampil akibat pelanggaran kode etik oleh pemain. Kasus-kasus sebelumnya seperti hukuman poin atau denda terhadap federasi karena ulah suporter menjadi preseden, tetapi diskualifikasi langsung sebuah tim nasional akan menjadi gempa bumi di jagat sepak bola.

Pengamat tata kelola olahraga, Dr. Laura Mendes, berpendapat bahwa skala petisi ini menciptakan tekanan publik yang sulit diabaikan, terutama menjelang pemilihan presiden FIFA. “Dengan data 23 juta tanda tangan dan sorotan media global, komite etik tidak bisa hanya memberikan teguran ringan. Minimal mereka harus membuka investigasi formal, dan jika terbukti bersalah, sanksi pembatasan pendaftaran pemain atau pengurangan slot babak kualifikasi bisa menjadi jalan tengah,” jelasnya. Namun, kemungkinan Argentina benar-benar dicoret dari putaran final masih kecil karena kalkulasi komersial Piala Dunia.

Di kubu Argentina sendiri, pelatih Lionel Scaloni dan kapten Lionel Messi—yang belum memberikan pernyataan langsung—dikabarkan berada di bawah tekanan hebat untuk mengeluarkan kecaman publik terhadap chant tersebut, namun ditahan oleh federasi yang khawatir benturan dengan istana. Sementara itu, pemain Enzo Fernández masih absen dari skuad Chelsea akibat sanksi internal klub dan potensi sanksi dari FA Inggris.

Bola kini ada di lapangan FIFA. Jika petisi menembus 25 juta—target kampanye berikutnya—maka suara publik akan semakin bergemuruh di Kongres FIFA mendatang. Yang pasti, euforia gelar juara yang seharusnya menjadi puncak kebanggaan Argentina justru berubah menjadi perang diplomasi digital yang mengancam partisipasi mereka di pentas tertinggi sepak bola.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User