Peternak Rakyat Berang, Harga Jual Ayam Anjlok! Ini Akar Masalahnya
Jakarta – Kemarahan meluas di kalangan peternak ayam rakyat seiring jatuhnya harga jual ayam hidup (live bird) di tingkat peternak. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) angkat b
Jakarta – Kemarahan meluas di kalangan peternak ayam rakyat seiring jatuhnya harga jual ayam hidup (live bird) di tingkat peternak. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) angkat bicara dan menegaskan bahwa anjloknya harga ini bukan sekadar masalah kelebihan pasokan di pasaran. Berdasarkan laporan yang diterima redaksi Beritainti.com, Selasa (23/6/2026), terdapat masalah struktural yang jauh lebih kompleks dan saling terkait yang menjadi biang kerok utama tertekannya harga di tingkat peternak.
Peternak Terjepit di Tengah Cost-Price Squeeze
PERMINDO menyoroti kondisi yang mereka sebut sebagai fenomena “Cost-Price Squeeze”, sebuah situasi paradoks yang sangat merugikan peternak mandiri. Dalam kondisi ini, biaya produksi untuk membesarkan ayam terus merangkak naik secara signifikan, namun di saat yang bersamaan, harga jual ayam justru merosot tajam. Hal ini menyebabkan margin keuntungan peternak, bahkan sekadar untuk menutup modal produksi, tergerus secara sistematis hingga berpotensi mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat dalam jangka panjang.
“Kondisi yang terjadi saat ini merupakan bentuk Cost-Price Squeeze, yaitu ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual justru mengalami penurunan. Situasi ini membuat margin usaha peternak tergerus secara sistematis dan berpotensi mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat,” tegas perwakilan peternak dalam keterangan tertulisnya kepada media kami.
Dari Tata Kelola Impor hingga Tekanan Likuiditas
Lebih lanjut, peternak merinci sejumlah faktor struktural yang menjadi akar dari tekanan biaya tinggi tersebut. Masalah pertama dan paling krusial adalah tata kelola impor bahan baku pakan, terutama jagung. Ketergantungan pada impor dan kebijakan yang dinilai tidak berpihak membuat harga pakan di dalam negeri tidak stabil dan cenderung mahal, padahal komponen pakan bisa mencapai 70% dari total biaya produksi. Selain itu, tekanan likuiditas yang dialami oleh industri pakan ternak juga memperburuk keadaan. Industri pakan yang terhimpit biaya bahan baku impor seringkali menaikkan harga pakan jadi, sehingga beban sepenuhnya bertumpu pada peternak.
Permasalahan ketiga adalah melemahnya posisi tawar (bargaining position) peternak rakyat. Dengan skala usaha yang kecil dan terfragmentasi, peternak mandiri kerap kali tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga jual yang wajar, terutama saat berhadapan dengan pedagang besar atau perusahaan integrator. Imbasnya, peternak terpaksa menerima harga yang sudah jatuh karena keterbatasan akses pasar dan risiko ayam yang tidak terjual akibat sifat produk yang sangat mudah rusak (high perishable). Beritainti.com masih terus memantau perkembangan situasi ini, mengingat dampaknya yang langsung menyasar pada ketahanan pangan nasional dan taraf hidup ribuan peternak kecil di tanah air.
Comments (0)