Penalti Kontroversial Julian Alvarez Rugikan Atletico di Metropolitano
Skor akhir 4-2 untuk Real Madrid lewat adu penalti. Los Blancos merebut tiket perempat final Liga Champions 2024/2025 setelah menundukkan Atletico Madrid dalam drama tos-tosan di Metropolitano Stadium...
Skor akhir 4-2 untuk Real Madrid lewat adu penalti. Los Blancos merebut tiket perempat final Liga Champions 2024/2025 setelah menundukkan Atletico Madrid dalam drama tos-tosan di Metropolitano Stadium, Kamis (13/03/2025) dini hari WIB. Agregat kedua tim sama kuat 2-2 setelah 120 menit pertarungan, tetapi malam itu akan selalu dikenang bukan karena angka penguasaan bola, melainkan satu eksekusi Julian Alvarez yang dianulir VAR — keputusan yang membuat seluruh Metropolitano tertunduk.
Menit ke-27, stadion meledak. Conor Gallagher, gelandang Inggris yang masuk dalam starting XI racikan Diego Simeone, menyambar bola liar di kotak penalti dan menggetarkan gawang Thibaut Courtois. Skor menjadi 1-0, agregat berubah 2-2. Gol itu lahir dari transisi kilat: pressing tinggi memicu serangan balik, bola dialirkan ke sisi kanan sebelum berakhir di kaki Gallagher. Gol tersebut tercatat tanpa assist karena lahir dari bola muntah, namun dua peluang terbaik Atletico di perpanjangan waktu justru bermula dari assist terukur para pemain pengganti. Sejak momen itu, atmosfer stadion berubah menjadi kuali raksasa yang mendukung tuan rumah selama sisa 120 menit.
Penguasaan Bola, Shots on Target, dan Hujan Peluang
Sepanjang laga, statistik mencatat Real Madrid unggul penguasaan bola 54 persen berbanding 46 persen. Namun angka itu menipu. Atletico bermain dengan blok rendah yang disiplin dan justru lebih berbahaya lewat serangan balik cepat. Total tembakan Atletico 14 berbanding 11 milik Real Madrid, dengan shots on target 4-3. Courtois melakukan penyelamatan krusial pada menit ke-50, menepis tembakan jarak dekat Alexander Sorloth. Di sisi lain, Jan Oblak tampil sama gemilangnya dengan menggagalkan dua peluang emas Kylian Mbappe dan Vinicius Junior di babak kedua.
Babak kedua berjalan lebih terbuka. Real Madrid menaikkan intensitas dengan pergeseran formasi menjadi 4-3-1-2, memasukkan Rodrygo dan Brahim Diaz untuk menambah daya serang. Namun offside terdeteksi tiga kali untuk Real Madrid saat mereka mencoba menembus pertahanan Atletico yang digalangi Jose Maria Gimenez dan Clement Lenglet. Kartu kuning pun mewarnai laga — Szymon Marciniak mengeluarkan dua kartu kuning untuk Real Madrid dan satu untuk Atletico sepanjang waktu normal.
Drama Adu Penalti: Microchip Mengadili Alvarez
Skor agregat tetap 2-2, pertandingan pun berlanjut ke adu penalti. Real Madrid tampil sempurna: Kylian Mbappe, Jude Bellingham, Eduardo Camavinga, dan Federico Valverde sukses mengeksekusi. Atletico membalas lewat Sorloth dan Angel Correa. Lalu tibalah momen paling kontroversial musim ini.
Alvarez melangkah sebagai eksekutor kedua. Ia menempatkan bola, mundur beberapa langkah, lalu melepaskan tendangan kaki kiri yang menembus gawang Courtois. Sebelum selebrasi sempat dirayakan, teknologi berbicara. Microchip di dalam bola mendeteksi dua sentuhan saat eksekusi: kaki tumpuan Alvarez menyentuh bola lebih dulu ketika ia terpeleset, sebelum kaki kirinya menyelesaikan tendangan. Sinyal itu menggetarkan jam tangan wasit, dan setelah review VAR, gol dianulir. Aturan IFAB memang melarang penendang penalti menyentuh bola dua kali; pelanggaran itu berujung tendangan bebas tidak langsung bagi tim bertahan.
Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions, sebuah gol adu penalti dibatalkan karena deteksi sentuhan ganda oleh teknologi bola. Sorloth dan Correa tetap menjaga asa Atletico, tetapi harapan itu pupus ketika Marcos Llorente menghantam tiang gawang sebagai eksekutor kelima. Skor adu penalti 4-2, Real Madrid melaju ke perempat final.
Analisis Taktik: Dua Filsafat, Satu Keputusan Teknologi
Pertandingan ini adalah duel dua pendekatan. Atletico dengan formasi 5-3-2 yang rapat menunggu di sepertiga pertahanan, sementara Real Madrid bermain sabar dengan penguasaan bola dan full-back yang naik membantu serangan. Kesabaran Simeone nyaris membuahkan hasil: blok rendah Atletico memaksa Real Madrid hanya mencatatkan tiga shots on target di waktu normal. Namun celah kemenangan terakhir dihukum bukan oleh pertahanan lawan, melainkan oleh mata elektronik.
Secara taktis, pergantian pemain Simeone membawa energi baru. Sorloth dan Correa mengubah dimensi serangan Atletico di perpanjangan waktu, menciptakan dua peluang emas yang sayangnya kembali dimentahkan Courtois. Di sisi lain, keberanian Ancelotti mempertahankan tiga penyerang sejak babak kedua menunjukkan ambisi Los Blancos untuk menutup laga lebih cepat — meski akhirnya justru diselesaikan lewat drama titik putih.
Reaksi Pelatih: Simeone Kecewa, Ancelotti Puji Teknologi
“Saya belum pernah melihat penalti dianulir karena hal seperti ini. Belum pernah dalam hidup saya,” ujar Simeone usai laga.
“Teknologi memang berbicara, tetapi para pemain sudah memberikan segalanya. Kami kalah 4-2, dan itu sulit diterima,”kata pelatih asal Argentina itu kepada media.
Di kubu sebaliknya, Carlo Ancelotti justru memuji akurasi perangkat.
“Bola memiliki microchip dan microchip itu tidak berbohong. Keputusan wasit sudah tepat,”ujar pelatih Real Madrid tersebut.
Bagi Real Madrid, kelolosan ini menjadi jawaban atas tekanan setelah performa inkonsisten di liga domestik. Sementara bagi Atletico, malam di Metropolitano meninggalkan rasa pahit yang sulit dihapus: mereka kalah bukan karena kurang berani, melainkan karena satu slip kecil di atas titik putih yang ditangkap deteksi elektronik. Sebuah babak 16 besar yang akan dikenang lama — bukan karena gol-gol indah, melainkan karena microchip yang mengubah sejarah.
Comments (0)