Kim Sang-sik Bawa Vietnam Juara Piala AFF 2024 Lewat Drama Adu Penalti

Skor akhir 2-1 untuk tuan rumah Thailand di leg kedua, agregat sama kuat 3-3, dan juara ASEAN Championship 2024 baru ditentukan dari titik putih: Vietnam menang adu penalti 3-2 di Stadion Rajamangala,...

Aug 24, 2026 - 22:38
0 0
Kim Sang-sik Bawa Vietnam Juara Piala AFF 2024 Lewat Drama Adu Penalti

Skor akhir 2-1 untuk tuan rumah Thailand di leg kedua, agregat sama kuat 3-3, dan juara ASEAN Championship 2024 baru ditentukan dari titik putih: Vietnam menang adu penalti 3-2 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Minggu (5/1/2025). Malam itu menjadi milik kiper Nguyen Dinh Trieu yang menepis dua tendangan penalti lawan, sekaligus milik Kim Sang-sik — pelatih asal Korea Selatan yang baru delapan bulan menakhodai Timnas Vietnam dan langsung membawa pulang trofi pertamanya. Tidak ada clean sheet bagi kedua tim di dua leg final, tetapi laga ini menghasilkan cerita yang tak akan terlupakan.

Perjalanan ke podium juara itu penuh drama. Pada leg pertama di Stadion Viet Tri, Kamis (2/1/2025), Vietnam menang 2-1 berkat dua gol Nguyen Xuan Son pada menit ke-59 dan menit ke-73, sebelum Chalermsak Aukkee memperkecil kedudukan menit ke-84. Statistik mencatat penguasaan bola Vietnam hanya 47 persen, tetapi efisiensi serangan mereka tajam: 5 shots on target berbanding 4 milik Thailand, dan dua di antaranya bersarang di gawang Patiwat Khammai. Dua gol itu sama-sama lahir dari proses assist yang rapi di sisi sayap, bukti bahwa Kim Sang-sik tidak membutuhkan dominasi bola untuk memenangi pertandingan.

Tiga hari berselang, Thailand tampil agresif di hadapan pendukungnya sendiri. Menit ke-28, Ben Davis memenangi duel udara dan menggetarkan gawang Nguyen Dinh Trieu. Vietnam sempat kesulitan keluar dari tekanan, dengan penguasaan bola hanya 44 persen di babak pertama, sementara jebakan offside Thailand beberapa kali mematahkan serangan balik cepat mereka. Menit ke-65, momen emas datang: Nguyen Xuan Son, penyerang naturalisasi yang menjadi mesin gol Vietnam sepanjang turnamen, menyamakan kedudukan dengan penyelesaian tenang di kotak penalti setelah menerima umpang matang dari sisi kanan.

Namun cerita berbalik menit ke-82. Supachok Sarachat mencetak gol kontroversial langsung dari situasi bola mati setelah para pemain Vietnam berhenti bermain, dan keputusan itu tetap bertahan setelah pemeriksaan VAR. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang, agregat 3-3, laga berlanjut ke perpanjangan waktu yang tanpa gol, lalu adu penalti yang diwarnai sejumlah kartu kuning untuk kedua kubu. Di titik putih, pahlawan tak terduga muncul: Nguyen Dinh Trieu menggagalkan dua dari lima eksekutor Thailand, sementara para algojo Vietnam tampil dingin. Skor adu penalti 3-2 mengunci gelar juara, dan stadion yang penuh pendukung tuan rumah tiba-tiba sunyi.

Gelar Kedua Vietnam dalam 17 Tahun

Trofi ini bukan sekadar angka. Ini gelar pertama Vietnam sejak 2008, ketika generasi Henrique Calisto mengukir sejarah, sekaligus balas dendam atas final 2018 yang jatuh ke tangan Thailand di bawah era Park Hang-seo. Jalan menuju puncak kali ini bahkan lebih berat: era Philippe Troussier berakhir pahit setelah kegagalan di Piala Asia 2023 dan rentetan hasil buruk di kualifikasi Piala Dunia 2026. Kim Sang-sik datang pada Mei 2024 dan membangun ulang skuad dengan darah muda, meregenerasi starting XI secara berani. Hasilnya, Vietnam melaju konsisten dari fase grup, menyingkirkan Singapura di semifinal, dan tampil tangguh di dua leg final melawan juara bertahan dua edisi beruntun.

Kim Sang-sik: Dari Jeonbuk ke Tahta Asia Tenggara

Nama Kim Sang-sik bukan wajah baru di peta sepak bola Asia. Sebagai gelandang bertahan dengan lebih dari 50 caps bersama timnas Korea Selatan, ia menghabiskan karier gemilang di K League sebelum beralih ke bangku pelatih. Tujuh belas tahun ia mengabdi di Jeonbuk Hyundai Motors, termasuk sebagai asisten Choi Kang-hee di era keemasan klub yang dipenuhi gelar K League dan trofi Liga Champions Asia 2016. Begitu naik kelas menjadi kepala pelatih pada 2021, ia langsung membawa Jeonbuk juara K League 1 dan menambah trofi Piala FA 2022. Reputasi itulah yang membuat Federasi Sepak Bola Vietnam berani menunjuknya menggantikan Troussier.

Gaya kepelatihannya khas: pressing disiplin, transisi cepat, dan pemanfaatan sisi sayap secara maksimal. Di final, ia tampil berani dengan formasi 3-4-3 yang menempatkan Nguyen Xuan Son sebagai ujung tombak utama, didukung wing-back yang rajin naik membantu serangan. Keputusan taktisnya di babak perpanjangan waktu — menahan ritme, mengamankan lini belakang, dan menghemat energi para eksekutor penalti — terbukti jitu.

"Para pemain saya adalah pahlawan. Mereka bertarung lebih dari 120 menit melawan tim terbaik Asia Tenggara, dan ketika segalanya ditentukan di titik putih, mentalitas merekalah yang berbicara," ujar Kim Sang-sik dalam konferensi pers usai laga.

Catatan Statistik dan Pekerjaan Rumah

Turnamen ini melahirkan angka-angka menawan. Nguyen Xuan Son menjadi top skor dengan 7 gol, termasuk dua gol di masing-masing leg final, sebelum ia harus ditarik keluar pada laga pamungkas setelah bertabrakan dengan kiper lawan — cedera yang membuatnya absen panjang dan menjadi pekerjaan rumah terbesar Kim. Secara agregat dua leg, penguasaan bola Thailand unggul sekitar 54 persen berbanding 46 persen, dengan jumlah shots on target nyaris berimbang, membuktikan bahwa final ini berjalan sangat ketat. Piala ini menempatkan Kim Sang-sik sejajar dengan nama-nama besar pelatih Asia Tenggara, tetapi satu trofi tidak mengubah segalanya. Fokus jangka pendek Vietnam kini tertuju pada kualifikasi Piala Asia 2027 dan regenerasi skuad pasca-cedera bintangnya. Dari kursi pelatih Jeonbuk hingga podium Rajamangala, Kim Sang-sik telah membuktikan satu hal: ia tahu cara memenangi laga besar — dan bagi Vietnam, ini baru awal dari era baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User