Parah! Menteri Israel Bilang Lebanon Harusnya Jadi ‘Taman Bermain’ Israel
Tel Aviv, Beritainti.com – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu kemarahan di kawasan. Dalam sebuah wawancara dengan media lo
Tel Aviv, Beritainti.com – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu kemarahan di kawasan. Dalam sebuah wawancara dengan media lokal Israel, Channel 14, Ben-Gvir dengan tegas menolak segala bentuk perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon. Politikus garis keras itu bahkan menyebut Lebanon seharusnya menjadi “taman bermain” bagi Israel, sebuah ungkapan yang langsung menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan internasional agar Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon mengakhiri baku tembak yang telah menewaskan ratusan warga sipil dalam beberapa pekan terakhir. Namun, Ben-Gvir menilai gencatan senjata justru akan merugikan kepentingan keamanan Israel. “Israel tidak dapat menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” tegasnya, seraya menambahkan klaim sepihak bahwa militer Israel belum memanfaatkan sepenuhnya kekuatannya di medan perang.
“Israel tidak bisa berhenti sekarang. Lebanon harus menjadi taman bermain kami, tempat kami bergerak bebas demi keamanan kami,” ujar Ben-Gvir dalam wawancara yang dikutip oleh Anadolu Agency dan Middle East Eye, Selasa (23/6/2026).
Gagasan “taman bermain” yang dilontarkan Ben-Gvir bukanlah metafora biasa. Frasa ini secara implisit menggambarkan dominasi militer sepihak di mana Israel dapat melakukan apa pun di wilayah Lebanon tanpa batasan, seolah Lebanon hanyalah arena rekreasi strategis. Selama ini, hubungan kedua negara memang diwarnai ketegangan panjang, termasuk Perang Lebanon 2006 dan serangkaian operasi militer lintas perbatasan. Serangan Israel ke Lebanon selatan yang meningkat belakangan ini disebut-sebut sebagai respons terhadap roket Hizbullah, tetapi banyak pengamat menilai intensitas serangan jauh melampaui proporsi balasan taktis.
Pernyataan Ben-Gvir mencuat hanya beberapa jam setelah sejumlah laporan diplomatik menyebutkan bahwa perundingan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Prancis mulai menunjukkan titik terang. Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya juga mendesak agar semua pihak menahan diri. Namun, retorika Ben-Gvir justru bertentangan dengan upaya-upaya tersebut, sekaligus mengungkap adanya friksi di internal kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu antara faksi moderat dan garis keras.
Kecaman dari Berbagai Pihak
Dalam laporan media kami, sejumlah pejabat dan analis politik mengutuk keras pernyataan itu. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Lebanon menyebut ungkapan Ben-Gvir sebagai “bentuk arogansi penjajah yang menistakan kedaulatan sebuah negara”. Ia menegaskan bahwa Lebanon tidak akan pernah menjadi taman bermain bagi kekuatan militer mana pun. Sementara itu, kelompok Hizbullah melalui pernyataan resminya menyatakan akan terus melawan setiap bentuk agresi dan tidak akan menyerah pada ancaman semacam itu.
Dari kalangan diplomatik, seorang utusan PBB untuk urusan Timur Tengah yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa komentar Ben-Gvir sangat kontraproduktif. “Pernyataan semacam ini hanya menambah bahan bakar ke dalam kobaran konflik dan mempersulit jalur diplomasi yang sudah sangat rapuh,” ujarnya kepada Beritainti.com. Bahkan di dalam Israel sendiri, beberapa anggota oposisi mengecam Ben-Gvir karena merusak citra negara dan melemahkan legitimasi moral Israel di mata dunia.
Analis politik dari Jerusalem Institute for Strategy and Security menilai bahwa Ben-Gvir sedang berusaha memperkuat basis pendukungnya yang menginginkan pendekatan militer tanpa kompromi. “Dia tahu kata-kata ‘taman bermain’ akan viral dan memicu emosi, baik di kalangan pendukungnya maupun musuh-musuh Israel. Ini soal politik dalam negeri sekaligus provokasi strategis,” jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Perdana Menteri Netanyahu belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan Ben-Gvir. Namun, sumber di kantor kepresidenan mengisyaratkan adanya ketidaknyamanan di tubuh koalisi pemerintahan. Di sisi lain, publik Lebanon dan dunia Arab secara luas mengecam keras pernyataan tersebut, mengingatkan akan luka sejarah panjang penjajahan dan pendudukan yang belum sepenuhnya sembuh.
Apakah pernyataan ini akan mengubur harapan gencatan senjata yang sedang dirintis? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, di tengah kesunyian diplomasi, kata-kata satu menteri bisa membakar seluruh kawasan. Beritainti.com akan terus memantau perkembangan selanjutnya.
Comments (0)