Newcastle Tersingkir, AC Milan Lolos ke 16 Besar
St. James' Park menjadi saksi bisu kegagalan Newcastle United melaju ke babak 16 besar Liga Champions 2023/2024. Pada laga matchday 6 Grup F, Kamis (14/12/2023) dini hari WIB, The Magpies harus mengak...
St. James' Park menjadi saksi bisu kegagalan Newcastle United melaju ke babak 16 besar Liga Champions 2023/2024. Pada laga matchday 6 Grup F, Kamis (14/12/2023) dini hari WIB, The Magpies harus mengakui keunggulan AC Milan dengan skor akhir 1-2. Kekalahan ini memastikan Newcastle finis di dasar klasemen dengan total 5 poin, sementara AC Milan lolos sebagai runner-up dengan 8 poin, di bawah Borussia Dortmund yang memuncaki grup dengan 11 poin.
Sejak awal pertandingan, intensitas laga sudah terasa tinggi. Newcastle yang butuh kemenangan langsung tampil agresif dengan formasi 4-3-3, sedangkan AC Milan datang dengan formasi 4-2-3-1 yang lebih fleksibel. Penguasaan bola di babak pertama tercatat 58% untuk tuan rumah, namun efektivitas serangan justru lebih baik dimiliki tim tamu. Shots on target Newcastle hanya 3 dari total 12 percobaan, sementara AC Milan mencatatkan 5 shots on target dari 9 tembakan.
Babak Pertama: Milan Lebih Efisien
Menit ke-20, AC Milan membuka keunggulan melalui skema serangan balik cepat. Rafael Leão yang menjadi momok bagi pertahanan Newcastle melepaskan umpang silang ke kotak penalti, disambut sundulan keras oleh Olivier Giroud. Bola sempat mengenai tiang gawang, namun pantulannya langsung disambar oleh Christian Pulisic yang berdiri bebas di tiang jauh. Skor berubah menjadi 0-1. Gol ini menjadi pukulan telak bagi Newcastle yang sebelumnya mendominasi penguasaan bola.
Newcastle mencoba merespons. Menit ke-33, Alexander Isak mendapat peluang emas setelah menerima umpang terobosan dari Bruno Guimarães. Sayangnya, tendangan kaki kiri Isak masih melebar tipis di sisi kanan gawang Mike Maignan. Tiga menit berselang, giliran Kieran Trippier yang menguji Maignan dengan tendangan bebas dari jarak 25 meter, namun kiper asal Prancis itu masih bisa menepis bola dengan sigap. Hingga turun minum, skor 0-1 bertahan.
Babak Kedua: Drama dan Keputusasaan
Memasuki babak kedua, Newcastle meningkatkan intensitas serangan. Pelatih Eddie Howe memasukkan Callum Wilson untuk menambah daya gedor di lini depan. Formasi berubah menjadi 4-2-4 dengan Wilson dan Isak sebagai duet penyerang. Upaya itu membuahkan hasil pada menit ke-64. Berawal dari sepak pojok yang dieksekusi Trippier, bola jatuh di kaki Joelinton yang kemudian melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti. Maignan sempat menepis, tapi bola rebound langsung disambar oleh Isak dan masuk ke gawang. Skor imbang 1-1, dan St. James' Park bergemuruh.
Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Menit ke-77, bencana datang bagi Newcastle. Bek tengah Sven Botman melakukan pelanggaran keras terhadap Giroud di area penalti setelah gagal mengantisipasi umpang terobosan. Wasit langsung menunjuk titik putih tanpa perlu melihat VAR, karena pelanggaran cukup jelas. Giroud yang menjadi eksekutor sukses menaklukkan Nick Pope dengan tendangan ke pojok kiri bawah. Skor menjadi 1-2 untuk keunggulan AC Milan.
Setelah gol tersebut, Newcastle mencoba segala cara untuk menyamakan kedudukan. Namun, pertahanan AC Milan yang dikomandoi oleh Fikayo Tomori dan Malick Thiaw tampil solid. Data statistik mencatat Newcastle melepaskan total 10 tembakan di babak kedua, namun hanya 2 yang mengarah ke gawang. Sementara itu, AC Milan justru lebih berbahaya dengan serangan balik. Menit ke-88, Leão nyaris mencetak gol ketiga, namun tembakannya masih membentur mistar gawang.
“Kami sudah berjuang maksimal, tapi di level ini detail kecil menentukan segalanya. Kami harus belajar dari pengalaman ini,” ujar Eddie Howe dalam konferensi pers usai laga.
Analisis: Efektivitas vs Dominasi
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Newcastle. Sepanjang babak pertama, mereka mendominasi penguasaan bola hingga 58%, namun gagal memanfaatkan peluang. Statistik menunjukkan Newcastle mencatatkan 12 percobaan tembakan dengan hanya 3 yang tepat sasaran, sementara AC Milan lebih klinis dengan 5 shots on target dari 9 percobaan. Efektivitas serangan menjadi pembeda utama dalam laga ini.
Dari sisi taktik, AC Milan yang dilatih Stefano Pioli tampil disiplin dengan formasi 4-2-3-1. Mereka menekan tinggi di awal, lalu beralih ke blok rendah setelah unggul. Sementara Newcastle yang bermain dengan formasi 4-3-3 terlalu mudah kehilangan bola di area tengah, terutama saat Bruno Guimarães dan Joelinton mencoba membangun serangan. Kecepatan Leão dan Pulisic di sisi sayap menjadi mimpi buruk bagi bek sayap Newcastle.
Kartu kuning juga mewarnai laga ini. Newcastle menerima 4 kartu kuning (Trippier, Guimarães, Botman, dan Joelinton) akibat pelanggaran taktis untuk menghentikan serangan balik Milan. AC Milan hanya mendapat 2 kartu kuning. Tidak ada kartu merah dalam pertandingan ini, namun VAR sempat digunakan untuk memeriksa insiden handball di kotak penalti Milan pada menit ke-70, namun wasit memutuskan tidak ada pelanggaran.
Dengan hasil ini, Newcastle United harus mengucapkan selamat tinggal pada Liga Champions. Mereka finis di posisi keempat dengan 5 poin dari 6 pertandingan, hanya mampu meraih 1 kemenangan, 2 imbang, dan 3 kekalahan. Sementara AC Milan melaju ke babak 16 besar dengan 8 poin, dan akan bergabung dengan Borussia Dortmund yang memuncaki grup. Bagi Newcastle, fokus kini beralih ke Liga Premier dan Piala FA, di mana mereka masih memiliki peluang untuk meraih trofi.
Pemain Newcastle, Bruno Guimarães, yang tampil lesu setelah pertandingan, menjadi simbol kekecewaan timnya. Ia gagal memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan peluang, hanya mencatatkan 1 key pass dan 2 tembakan yang tidak mengarah ke gawang. Sementara itu, bintang AC Milan, Olivier Giroud, dinobatkan sebagai man of the match dengan torehan 1 gol dan 1 assist, serta memenangkan 5 duel udara. Kemenangan ini membuktikan bahwa pengalaman dan ketenangan dalam menghadapi tekanan menjadi kunci sukses di kompetisi elite Eropa.
Comments (0)