Minim Ruang Bermain, Anak Tanjung Priok Berisiko Bermain di Rel Kereta

Jakarta, Beritainti.com — Pemandangan memilukan kembali hadir di kawasan padat permukiman Jakarta Utara. Sejumlah anak terlihat asyik bermain di dekat perl

Sep 28, 2026 - 17:37
0 0
Minim Ruang Bermain, Anak Tanjung Priok Berisiko Bermain di Rel Kereta

Jakarta, Beritainti.com — Pemandangan memilukan kembali hadir di kawasan padat permukiman Jakarta Utara. Sejumlah anak terlihat asyik bermain di dekat perlintasan kereta api di kawasan Bahari Ujung, Tanjung Priok. Aktivitas tersebut berlangsung pada Selasa (24/5/2022), memperlihatkan bagaimana keterbatasan ruang publik memaksa anak-anak menempatkan keselamatan mereka di ujung tanduk.

Dalam foto yang diabadikan jurnalis merdeka.com, Iqbal S Nugroho, tampak anak-anak beraktivitas santai tanpa pengawasan orang dewasa, hanya berjarak beberapa meter dari jalur kereta yang masih aktif. Tidak ada pagar pembatas memadai, tidak ada rambu peringatan yang mencolok, dan yang lebih memprihatinkan, tidak ada orang tua yang mendampingi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan generasi penerus di kawasan tersebut?

Ruang Terbuka Hijau yang Kian Tergerus

Kawasan Tanjung Priok selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kantong permukiman terpadat di Jakarta. Setiap jengkal tanah dimanfaatkan untuk bangunan hunian, gudang, dan kawasan industri. Alhasil, ruang terbuka hijau (RTH) yang seharusnya menjadi tempat bermain anak justru menjadi barang mahal yang sulit ditemukan.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan bahwa proporsi RTH publik di beberapa wilayah Jakarta Utara masih jauh dari target 20 persen sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Penataan Ruang. Ketimpangan ini berimbas langsung pada anak-anak yang kehilangan akses terhadap taman bermain layak dan aman.

  • Terbatasnya lahan kosong yang dapat difungsikan sebagai taman atau lapangan bermain.
  • Pengawasan orang tua yang minim karena mayoritas warga bekerja sepanjang hari.
  • Belum tersedianya pagar pengaman di titik-titik rawan perlintasan kereta api.
  • Kurangnya edukasi dini tentang bahaya area perkeretaapian.
"Anak-anak bermain di mana saja yang mereka anggap menyenangkan. Kalau tidak ada taman, rel kereta pun jadi lapangan. Ini persoalan tata kota, bukan sekadar kelalaian orang tua." — Pengamat tata kota Jakarta

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata soal kedisiplinan warga, melainkan kegagalan struktural dalam perencanaan ruang. Selama bertahun-tahun, pembangunan di Jakarta Utara lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi—kawasan pelabuhan dan industri—ketimbang penyediaan fasilitas sosial dasar bagi penduduk lokal.

Bahaya Nyata di Balik Kegembiraan

Bermain di dekat rel kereta api bukanlah risiko yang bisa diremehkan. Kereta api membutuhkan jarak pengereman yang panjang dan tidak dapat berhenti mendadak. Kecepatan tinggi, minimnya jarak pandang di tikungan, serta bunyi klakson yang sering diabaikan menjadi kombinasi mematikan bagi siapa pun yang berada di jalur.

Pemerhati anak menilai bahwa insiden kecelakaan anak di perlintasan kereta api di Indonesia masih cukup tinggi dan kerap luput dari perhatian publik. Padahal, setiap insiden sejatinya merupakan alarm bahwa perlindungan anak belum menjadi prioritas dalam pembangunan kota.

Diperlukan langkah kolaboratif: pemerintah daerah menyediakan taman bermain ramah anak di tiap kelurahan, PT KAI memperketat pengamanan jalur, dan masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk mengawasi anak-anak. Tanpa itu, pemandangan anak bermain di pinggir rel akan terus berulang—sampai suatu hari, keberuntungan tak lagi berpihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User