Masjid Sultan Singapura Jadi Magnet Wisatawan Asing di Kampong Glam
Kulit keemasan kubahnya memantulkan cahaya siang tropis ketika rombongan wisatawan asing berjibaku demi mendapatkan sudut foto terbaik di pelataran Masjid
Kulit keemasan kubahnya memantulkan cahaya siang tropis ketika rombongan wisatawan asing berjibaku demi mendapatkan sudut foto terbaik di pelataran Masjid Sultan, Kampong Glam, Singapura, Jumat (6/10/2023). Beberapa datang dengan pakaian wisata santai, sementara yang lain menutup kepala dengan selendang pinjaman dari petugas masjid. Suara rancapan kaki wisatawan berbaur dengan dengung kota metropolitan yang tak pernah benar-benar tidur.
Pemandangan ini telah menjadi lanskap harian di salah satu ikon tertua Singapura. Masjid Sultan menerima kunjungan ribuan wisatawan setiap bulan, menjadikannya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga destinasi wajib dalam peta pariwisata negara kota tersebut. Kawasan Kampong Glam pun ikut menikmati momentum, dengan deretan kafe, butik, dan galeri seni yang tumbuh subur di sekitarnya.
Ikon Berusia Nyaris Satu Abad
Masjid Sultan berdiri di Muscat Street, tepat di jantung distrik warisan Melayu-Arab Singapura. Bangunan yang kini menjadi daya tarik utama ini dibangun pada pertengahan 1920-an, dirancang oleh arsitek Denis Santry dari firma ternama Swan & Maclaren. Gaya arsitekturnya memadukan unsur Saracenic dengan sentuhan Mughal, ditopang dua menara tinggi dan kubah besar berwarna emas yang tampak menjulang dari hampir semua sudut kawasan.
Sejarahnya jauh lebih panjang dari bangunannya. Masjid pertama di lokasi ini didirikan pada awal abad ke-19 oleh Sultan Hussein Shah dari Johor, tokoh yang menandatangani perjanjian historis dengan Stamford Raffles. Sejak saat itu, kawasan sekitarnya berkembang menjadi permukiman bangsawan Melayu, pedagang Arab, serta komunitas Bugis yang membentuk wajah kosmopolitan awal Singapura.
Pada tahun 1975, Masjid Sultan resmi ditetapkan sebagai monumen nasional, status tertinggi bagi bangunan warisan di Singapura. Kapasitas ruang salatnya mampu menampung sekitar 5.000 jamaah, menjadikannya salah satu masjid terbesar di negara tersebut hingga hari ini.
"Wisatawan sering bertanya kenapa sebuah masjid bisa jadi ikon negara yang maju teknologinya seperti Singapura. Jawabannya sederhana: masjid ini adalah pengingat bahwa akar negeri ini bermula dari kisah Melayu dan dunia Melayu," ujar seorang pemandu wisata lokal yang sudah sepuluh tahun membawa tur keliling Kampong Glam.
Kampong Glam, Warisan yang Bernapas Modern
Keberadaan Masjid Sultan tidak dapat dilepaskan dari transformasi Kampong Glam sebagai kawasan warisan yang terus berevolusi. Jalan Arab Street dengan deretan kain sutra dan karpet, Bussorah Street yang ramai pejalan kaki, hingga Haji Lane yang terkenal dengan mural dinding dan butik independen, semuanya mengelilingi masjid dalam radius pejalan kaki. Bagi banyak pengunjung, satu perjalanan di kawasan ini terasa seperti menyeberangi beberapa zaman sekaligus.
| Daya Tarik | Ciri Utama | Pengalaman Wisata |
|---|---|---|
| Masjid Sultan | Arsitektur Saracenic, kubah emas | Tur sejarah dan religi |
| Arab Street | Toko tekstil, parfum, karpet | Belanja cinderamata khas Timur Tengah |
| Haji Lane | Butik indie, mural seni jalanan | Fotografi dan kuliner kreatif |
| Bussorah Street | Kafe dan restoran halal | Kuliner Melayu-Timur Tengah |
Bagi pelancong dari Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah, kawasan ini memiliki nilai tersendiri. Singapura secara konsisten memasarkan Kampong Glam sebagai destinasi pariwisata halal, lengkap dengan fasilitas rumah makan bersertifikat halal dan musala yang tersebar di berbagai titik. Strategi ini dinilai berhasil menarik pasar wisatawan Muslim yang terus tumbuh pesat di Asia Tenggara.
"Momen paling magis adalah saat matahari terbenam dan azan berkumandang. Wisatawan non-Muslim pun terdiam, merekam suara itu dari gang kecil di Haji Lane. Ada harmoni yang sulit dijelaskan dengan kata-kata," tutur pengelola sebuah kafe di Bussorah Street.
Tantangan Menjaga Keaslian di Tengah Komersialisasi
Namun, geliat pariwisata tidak datang tanpa harga. Aktivis warisan budaya di Singapura berulang kali menyuarakan kekhawatiran soal komersialisasi yang mulai menggeser karakter otentik kawasan. Penyewaan properti yang melonjak membuat sejumlah usaha keluarga turun generasi terpaksa menutup gerainya, digantikan oleh kedai kopi modern yang lebih menguntungkan secara komersial.
Di tengah tarik-menarik antara bisnis dan tradisi itulah, peran Masjid Sultan menjadi semakin penting. Sebagai penjangkar spiritual dan historis kawasan, masjid ini menjadi pengingat bahwa Kampong Glam lahir dari cerita manusia, bukan sekadar strategi pariwisata. Pengelola masjid rutin membuka pintunya bagi kunjungan edukasi lintas agama, memberi wisatawan kesempatan memahami Islam dan budaya Melayu secara langsung.
Sore itu, ketika rombongan wisatawan akhirnya meninggalkan pelataran masjid, beberapa dari mereka sempat singgah di kedai minuman di ujung jalan. Mereka membawa pulang bukan hanya foto dengan latar kubah emas, tetapi juga potongan cerita tentang Singapura yang jarang muncul di gedung-gedung pencakar langit Marina Bay: sebuah kisah tentang akar, imigran, dan peradaban yang bertemu di satu titik kecil bernama Kampong Glam.
[SOCIAL_TWEET]: Masjid Sultan Singapura jadi magnet wisatawan asing! Kubah emas ikon Kampong Glam ini bukan cuma tempat ibadah, tapi juga saksi sejarah Melayu Singapura. #MasjidSultan #Singapura #WisataHalal[SOCIAL_TG]: 🕌 Masjid Sultan Singapura Jadi Magnet Wisatawan Asing di Kampong Glam — kisah ikon berusia nyaris satu abad yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan pariwisata modern. Baca selengkapnya di Beritainti.com.
Comments (0)